Ticker

6/recent/ticker-posts

Seni Berterima Kasih pada Teman Toxic Lewat Filsafat: “Amor Fati”

 

(Ilustrasi yang terlihat baik di depan umum namun ternyata diam-diam sedang mempersiapkan diri untuk menyerang. Sumber: Pinterest)

Pernah gak sih kalian bertemu atau mungkin sekarang sedang berteman dengan orang-orang yang membuat kamu tidak nyaman? Seperti teman yang selalu berlindung dibalik kata ‘bercanda’ setelah merendahkanmu, datang dan pergi sesukanya, atau bahkan yang diam-diam berusaha menjatuhkanmu?

Apakah itu bisa disebut sebagai teman? Sebenernya, ketika kita tahu bahwa hubungan itu salah dan merugikan kita, kenapa kita malah tidak bisa lepas dari tali yang mengikat ini? Atau, kenapa takdir repot-repot mempertemukan kita dengan manusia ajaib ini dikala masih banyaknya manusia dimuka bumi ini?

Selamat datang di lingkaran pertemanan toxic. Di sini kamu akan merasakan bagaimana seorang ‘teman’ akan sedikit demi sedikit menghancurkan dinding emosionalmu, bahkan sebelum kamu sempat membangun benteng pertahanan yang kuat. ‘Teman’ disini bukan seperti musuh nyata yang secara terang-terangan mengajakmu untuk berduel. Tetapi ia berkamuflase layaknya bunglon, dengan menjadi temanmu.  Teman yang diam-diam membawa racun di sakunya dan siap untuk menyebarkannya di sekitarmu. Racun psikologis inilah yang akan membuat kamu kesulitan untuk ‘lepas’ dari mereka.

Tiga Racun Utama dari Tangan Teman Toxic

Mari kita bahas beberapa perilaku dari teman toxic ini. Dalam kehidupan sehari-hari cara berteman mereka tentunya membahayakan. Satu, mereka sangat manipulatif. Kita akan dibuat tanpa sadar memakan semua perkataan yang keluar dari mulutnya. Bahkan saat mereka berhasil memutarbalikkan fakta, anehnya kita akan merasa bahwa kita yang salah dan justru yang harus  meminta maaf.

Kedua, hobi mereka ialah menjatuhkan kita demi menaikkan ego mereka sendiri, ketika kita mendapatkan suatu pencapaian, seperti memenangkan suatu perlombaan. Teman seharusnya ikut senang serta bangga atas apa yang terjadi pada kita, mereka mungkin akan memberikan kata selamat, harapan dan juga doa. Namun, bagi teman toxic? mereka berbeda. Mereka justru akan mengkritik, merendahkan atau bahkan membuat kalian malu didepan umum dengan kalimat seperti “Gitu juga aku bisa”. Jika kalian protes karena merasa tersakiti, mereka dengan mudahnya akan akan berlindung dibalik kalimat Gitu aja baper, kan cuma bercanda!”

Ketiga, hubungan ini bersifat transaksional. Kalian layaknya seorang penjual dan mereka adalah pembeli yang pelit. Skenarionya sangat jelas, ketika mereka membutuhkan sesuatu yang ada pada kalian, seperti bantuan tugas, pinjaman uang dan lain sebagainya mereka akan datang dengan senyuman manis. Tapi kalau urusannya sudah selesai? Mereka akan hilang bak ditelan bumi, atau bahkan itu bisa terjadi ketika kalian membutuhkan bantuan mereka.

Dari rincian diatas, tentu sudah jelas bahwa tipe pertemanan tersebut sangat tidak sehat. Semakin sering kita menghabiskan waktu bersama mereka, racun-racun disekitar kita akan semakin pekat. Mungkin jika kita sadar lebih awal, kita akan lebih mudah mengambil seribu langkah untuk menjauh. Namun, bagaimana bila kita telat menyadarinya? Bagaimana bila kita terlanjur menerima semua racun-racun tersebut? Apakah selamanya kita akan terjebak di antara racun-racun yang mereka berikan dan meratapi nasib?

(Ilustrasi teman yang diabaikan. Sumber: Pinterest)

Senjata Rahasia Milik Nietzsche dan Konsep Amor Fati

Tenang saja, kita tidak akan secara pasrah menerima takdir begitu saja. Disinilah kita bisa mengeluarkan senjata rahasia dari laci seorang filsuf abad ke-19 yang bernama Friedrich Nietzsche. Senjata tersebut bernama Amor Fati.

Konsep Amor Fati ini dipopulerkan oleh Nietzsche, seorang filsuf asal Jerman. Ia tidak mengajarkan manusia untuk pasrah menerima takdir buruk, melainkan untuk benar-benar mencintai takdir tersebut. Bagi Nietzsche, segala takdir buruk tidak dilihat sebagai sebuah kutukan, melainkan sebagai bahan bakar untuk membuat diri kita bisa tumbuh dan berkembang.

Jika dilihat dari kacamata Amor Fati, teman toxic tidak lagi dipandang sebagai sebuah kesialan, melainkan salah satu kebutuhan kita untuk berkembang. Mereka seperti batu yang membuat kita tersandung dan terjatuh di tengah jalan. Walau memberikan luka dan rasa perih pada diri kita, tapi batu itulah yang menyadarkan kita bahwa mungkin kita kurang berhati-hati dalam melangkah. Tanpa adanya batu tersebut, kita mungkin tidak akan berhati-hati ketika melihat dunia.

Dengan senjata yang kita miliki, Amor Fati akan mencoba untuk mengubah setiap luka emosional menjadi bahan bakar pengembangan diri. Kita harus berterima kasih kepada teman yang manipulatif, karena mereka kita akan belajar untuk membangun benteng batasan (personal boundaries) yang tegas kepada orang lain. Mungkin dahulu kita selalu telat untuk membangun benteng, tetapi sekarang kita akan berusaha lebih awal membangunnya sebelum siapapun dapat masuk dengan mudah. Dengan begitu, kita akan belajar untuk membedakan mana orang yang tulus dan mana orang yang sekadar berkamuflase. Gara-gara mereka pula, kita yang dulu tidak memiliki keberanian untuk menolak, saat ini berusaha untuk berkata “tidak” dengan suara lantang. Dengan konsep Amor Fati ini, teman yang toxic akan bertransformasi menjadi guru terbaik yang menguji ketangguhan mental kita.

Lulus Ujian dari Kelas Pertemanan

Lantas, apakah orang yang sudah terlanjur terikat tetap bisa lepas dari mereka? Tentu saja bisa. Walau racun yang mereka semprotkan sudah membuat kita sempat kehilangan arah untuk mencari jalan keluar? Ingatlah, bahwa kita memiliki kendali atas diri kita sendiri. Kita bisa menutupi hidung rapat-rapat, sembari berjalan pelan namun pasti menuju pintu keluar.

Memutuskan hubungan dengan teman toxic tidak perlu kita lakukan dengan berlari kencang tanpa arah. Tapi cukup dengan menjauh secara perlahan. Dari perspektif Amor Fati, langkah keluar disini kita ambil bukan karena kita membenci atau dendam kepada mereka. Tapi semata-mata karena kita sadar bahwa “kelas ujian” yang diberikan sudah selesai, kita sudah mendapatkan seluruh materinya dan kita sudah dinyatakan lulus sebagai pribadi yang lebih baik.

Jadi, bagi orang-orang yang sempat atau masih bertemu dengan teman toxic. Marilah kita ucapkan terima kasih untuk teman toxic, bersama mereka kita tidak hanya belajar untuk bertahan hidup tetapi juga mendapatkan kelas terbaik untuk mencintai takdir yang menyakitkan melalui Amor Fati.

Penulis: Rheyna Alya Zerlinadewi

Editor: Alwa Shofwah

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar