![]() |
| (Ilustrasi yang terlihat baik di depan umum namun ternyata diam-diam sedang mempersiapkan diri untuk menyerang. Sumber: Pinterest) |
Pernah gak sih kalian bertemu atau
mungkin sekarang sedang berteman dengan orang-orang yang membuat kamu tidak
nyaman? Seperti teman yang selalu berlindung dibalik kata ‘bercanda’ setelah
merendahkanmu, datang dan pergi sesukanya, atau bahkan yang diam-diam berusaha
menjatuhkanmu?
Apakah itu bisa disebut sebagai teman?
Sebenernya, ketika kita tahu bahwa hubungan itu salah dan merugikan kita,
kenapa kita malah tidak bisa lepas dari tali yang mengikat ini? Atau, kenapa
takdir repot-repot mempertemukan kita dengan manusia ajaib ini dikala masih
banyaknya manusia dimuka bumi ini?
Selamat datang di lingkaran pertemanan toxic.
Di sini kamu akan merasakan bagaimana seorang ‘teman’ akan sedikit demi sedikit
menghancurkan dinding emosionalmu, bahkan sebelum kamu sempat membangun benteng
pertahanan yang kuat. ‘Teman’ disini bukan seperti musuh nyata yang secara
terang-terangan mengajakmu untuk berduel. Tetapi ia berkamuflase layaknya
bunglon, dengan menjadi temanmu. Teman
yang diam-diam membawa racun di sakunya dan siap untuk menyebarkannya di
sekitarmu. Racun psikologis inilah yang akan membuat kamu kesulitan untuk
‘lepas’ dari mereka.
Tiga Racun Utama dari Tangan Teman Toxic
Mari kita bahas beberapa perilaku
dari teman toxic ini. Dalam kehidupan sehari-hari cara berteman mereka
tentunya membahayakan. Satu, mereka sangat manipulatif. Kita akan dibuat tanpa
sadar memakan semua perkataan yang keluar dari mulutnya. Bahkan saat mereka
berhasil memutarbalikkan fakta, anehnya kita akan merasa bahwa kita yang salah
dan justru yang harus meminta maaf.
Kedua, hobi mereka ialah menjatuhkan kita
demi menaikkan ego mereka sendiri, ketika kita mendapatkan suatu pencapaian, seperti
memenangkan suatu perlombaan. Teman seharusnya ikut senang serta bangga atas
apa yang terjadi pada kita, mereka mungkin akan memberikan kata selamat,
harapan dan juga doa. Namun, bagi teman toxic? mereka berbeda. Mereka
justru akan mengkritik, merendahkan atau bahkan membuat kalian malu didepan
umum dengan kalimat seperti “Gitu juga aku bisa”. Jika kalian protes karena
merasa tersakiti, mereka dengan mudahnya akan akan berlindung dibalik kalimat
Gitu aja baper, kan cuma bercanda!”
Ketiga, hubungan ini bersifat transaksional.
Kalian layaknya seorang penjual dan mereka adalah pembeli yang pelit.
Skenarionya sangat jelas, ketika mereka membutuhkan sesuatu yang ada pada
kalian, seperti bantuan tugas, pinjaman uang dan lain sebagainya mereka akan
datang dengan senyuman manis. Tapi kalau urusannya sudah selesai? Mereka akan
hilang bak ditelan bumi, atau bahkan itu bisa terjadi ketika kalian membutuhkan
bantuan mereka.
Dari rincian diatas, tentu sudah jelas
bahwa tipe pertemanan tersebut sangat tidak sehat. Semakin sering kita
menghabiskan waktu bersama mereka, racun-racun disekitar kita akan semakin
pekat. Mungkin jika kita sadar lebih awal, kita akan lebih mudah mengambil
seribu langkah untuk menjauh. Namun, bagaimana bila kita telat menyadarinya?
Bagaimana bila kita terlanjur menerima semua racun-racun tersebut? Apakah
selamanya kita akan terjebak di antara racun-racun yang mereka berikan dan
meratapi nasib?
![]() |
| (Ilustrasi teman yang diabaikan. Sumber: Pinterest) |
Senjata Rahasia Milik Nietzsche dan
Konsep Amor Fati
Tenang saja, kita tidak akan secara
pasrah menerima takdir begitu saja. Disinilah kita bisa mengeluarkan senjata
rahasia dari laci seorang filsuf abad ke-19 yang bernama Friedrich Nietzsche.
Senjata tersebut bernama Amor Fati.
Konsep Amor Fati ini dipopulerkan oleh
Nietzsche, seorang filsuf asal Jerman. Ia tidak mengajarkan manusia untuk
pasrah menerima takdir buruk, melainkan untuk benar-benar mencintai takdir
tersebut. Bagi Nietzsche, segala takdir buruk tidak dilihat sebagai sebuah
kutukan, melainkan sebagai bahan bakar untuk membuat diri kita bisa tumbuh dan
berkembang.
Jika dilihat dari kacamata Amor Fati,
teman toxic tidak lagi dipandang sebagai sebuah kesialan, melainkan
salah satu kebutuhan kita untuk berkembang. Mereka seperti batu yang membuat
kita tersandung dan terjatuh di tengah jalan. Walau memberikan luka dan rasa
perih pada diri kita, tapi batu itulah yang menyadarkan kita bahwa mungkin kita
kurang berhati-hati dalam melangkah. Tanpa adanya batu tersebut, kita mungkin
tidak akan berhati-hati ketika melihat dunia.
Dengan senjata yang kita miliki, Amor
Fati akan mencoba untuk mengubah setiap luka emosional menjadi bahan bakar
pengembangan diri. Kita harus berterima kasih kepada teman yang manipulatif,
karena mereka kita akan belajar untuk membangun benteng batasan (personal
boundaries) yang tegas kepada orang lain. Mungkin dahulu kita selalu telat
untuk membangun benteng, tetapi sekarang kita akan berusaha lebih awal
membangunnya sebelum siapapun dapat masuk dengan mudah. Dengan begitu, kita
akan belajar untuk membedakan mana orang yang tulus dan mana orang yang sekadar
berkamuflase. Gara-gara mereka pula, kita yang dulu tidak memiliki keberanian
untuk menolak, saat ini berusaha untuk berkata “tidak” dengan suara lantang.
Dengan konsep Amor Fati ini, teman yang toxic akan bertransformasi
menjadi guru terbaik yang menguji ketangguhan mental kita.
Lulus Ujian dari Kelas Pertemanan
Lantas, apakah orang yang sudah terlanjur
terikat tetap bisa lepas dari mereka? Tentu saja bisa. Walau racun yang mereka
semprotkan sudah membuat kita sempat kehilangan arah untuk mencari jalan
keluar? Ingatlah, bahwa kita memiliki kendali atas diri kita sendiri. Kita bisa
menutupi hidung rapat-rapat, sembari berjalan pelan namun pasti menuju pintu
keluar.
Memutuskan hubungan dengan teman toxic
tidak perlu kita lakukan dengan berlari kencang tanpa arah. Tapi cukup
dengan menjauh secara perlahan. Dari perspektif Amor Fati, langkah keluar
disini kita ambil bukan karena kita membenci atau dendam kepada mereka. Tapi
semata-mata karena kita sadar bahwa “kelas ujian” yang diberikan sudah selesai,
kita sudah mendapatkan seluruh materinya dan kita sudah dinyatakan lulus
sebagai pribadi yang lebih baik.
Jadi, bagi orang-orang yang sempat atau
masih bertemu dengan teman toxic. Marilah kita ucapkan terima kasih
untuk teman toxic, bersama mereka kita tidak hanya belajar untuk
bertahan hidup tetapi juga mendapatkan kelas terbaik untuk mencintai takdir
yang menyakitkan melalui Amor Fati.
Penulis:
Rheyna Alya Zerlinadewi
Editor:
Alwa Shofwah


0 Komentar