![]() |
| (Potret Foto Bersama Seluruh Panitia PBAK UIN Saizu 2026 di Pelataran Pendopo Sipanji. Dok. Panitia PBAK) |
Pernyataan Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan, saat membuka upgrading panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 pada Minggu, (14/06/2026), memicu sebuah refleksi mendasar. Seruan agar panitia bekerja secara total (all out) dalam menyambut mahasiswa baru memuat pertanyaan krusial mengenai urgensi komitmen dasar yang harus terus diingatkan setiap tahun dalam agenda yang sudah menjadi rutinitas ini.
PBAK, atau yang di berbagai perguruan tinggi dikenal sebagai ospek atau PKKMB, rawan terjebak dalam siklus formalitas semata. Ketika sebuah kegiatan berskala besar dijalankan sekadar sebagai tradisi turun-temurun tanpa reorientasi makna, ia rentan merosot menjadi seremoni yang minim substansi.
Dalam konteks inilah, langkah Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Saizu menggelar upgrading kinerja menemukan urgensinya. Agenda ini tidak boleh dipandang sebatas pengarahan teknis, melainkan sebuah ikhtiar sadar untuk menyelamatkan PBAK 2026 dari jebakan formalitas demi menjaga impresi awal institusi.
Secara psikologis, kesan pertama mahasiswa baru akan menjadi lensa primer bagi mereka dalam menilai dinamika kehidupan kampus di masa mendatang. Oleh karena itu, ketepatan jadwal, kejelasan informasi, dan sikap panitia di lapangan menjadi pertaruhan reputasi jangka panjang bagi universitas.
Pelaksanaan upgrading ini sekaligus mengonfirmasi adanya persoalan sistemis yang laten, yaitu lemahnya manajemen transfer pengetahuan antar-angkatan. Pergantian total personel di setiap generasi panitia membuat kompilasi evaluasi dari tahun-tahun sebelumnya jarang terdokumentasi dan terwariskan dengan baik.
Akibatnya, setiap panitia baru cenderung memulai dari titik nol dan berisiko mengulang kekeliruan manajerial yang sama. Pelatihan satu hari di Pendopo Sipanji ini semestinya menjadi alarm bagi birokrasi kampus untuk membangun sistem dokumentasi evaluasi yang lebih permanen.
Di sisi lain, tuntutan untuk bekerja all out juga menyimpan risiko struktural yang berat bagi mahasiswa aktif jika tidak dikalkulasi secara matang. Tanpa adanya dukungan fasilitas yang memadai dan manajemen waktu yang realistis dari pihak rektorat, performa maksimal hanya akan mengorbankan capaian akademik panitia.
Logikanya, jika institusi menuntut mahasiswanya tampil total, maka birokrasi pun harus berkomitmen penuh dalam memberikan pelindungan serta sokongan logistik. Hubungan timbal balik ini penting agar tanggung jawab besar institusi tidak dibebankan seluruhnya kepada pundak mahasiswa.
Ujian sesungguhnya dari pelatihan ini bukan terletak pada kesuksesan seremoni, melainkan pada implementasi nilai integritas dan kolaborasi saat menghadapi realitas di lapangan. Semangat yang terbangun tidak boleh berhenti menjadi jargon di atas kertas laporan pertanggungjawaban semata.
Keberhasilan PBAK 2026 pada akhirnya akan diukur dari sejauh mana sinergi nyata di lapangan antara panitia dan birokrasi. Kehadiran aktif kampus dalam mendampingi mahasiswa adalah kunci utama untuk mewujudkan budaya kerja yang terus membaik di masa depan.
Penulis: Reny Nurainy
Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah


0 Komentar