![]() |
| (Ilustrasi orang scroll LinkedIn. Sumber: Unplash.com) |
“Sangat bangga pada diriku yang telah berhasil
menjadi pembicara internasional di usia 20 tahun. Alhamdulillah bisa menjadi
orang beruntung yang lolos fully funded exchange ke Eropa. Sangat bersyukur menjadi
best graduate dengan IPK sempurna 4,00. Excited to announce...” Bagi
mahasiswa semester akhir, kalimat-kalimat semacam itu bukan lagi hal asing di timeline
LinkedIn. Alih-alih
berisi lowongan kerja, timeline kini dipenuhi orang-orang yang hidupnya
tampak selalu lebih keren daripada hidup kita sendiri. Ada yang baru pulang
dari konferensi di London, ada yang mendapat magang di perusahaan
multinasional, ada yang menjadi delegasi ASEAN, dan ada pula yang berkali-kali
menerbitkan jurnal terindeks Scopus. Sementara itu, berhasil menyelesaikan
tugas lebih awal saja sudah terasa seperti pencapaian yang layak mendapat
sertifikat penghargaan tersendiri.
Yang menarik, sebelum membuka LinkedIn, saya
sebenarnya merasa baik-baik saja. Saya tidak merasa gagal, tidak merasa
tertinggal, dan tidak merasa hidup saya buruk. Namun, tidak sampai sepuluh
menit menggulir timeline, saya tiba-tiba merasa menjadi manusia paling
tidak berguna sedunia, padahal tidak satu pun orang di timeline itu
menyebut nama saya, menyinggung saya, apalagi berkata ”kamu gagal”. Mungkin
benar kata banyak orang, media sosial memang pintar membuat kita sedih tanpa
perlu berkata kasar sama sekali.
Berbeda dengan Instagram yang dipenuhi arsip liburan
atau TikTok yang penuh joget dan life hack, LinkedIn justru menjadi panggung
dari segala panggung prestasi. Kita nyaris tidak pernah menemukan unggahan
berbunyi hari ini judul skripsiku ditolak dosen, saya baru saja gagal wawancara
kerja, atau saya sudah mengirim 98 CV dan belum ada satu pun yang membalas.
Yang justru sering muncul adalah kebalikannya: semua orang terlihat berhasil,
produktif, dan seakan-akan sudah tahu betul arah hidup mereka. Kalaupun ada
cerita kegagalan, biasanya baru diceritakan setelah usahanya membuahkan hasil,
kegagalan dijadikan bumbu dramatis agar kisah sukses terasa lebih inspiratif.
Situasi ini pelan-pelan membuat kita bertanya pada diri sendiri, kenapa mereka
sudah sejauh itu, kenapa saya masih begini-begini saja, apakah saya memang
kurang pintar. Padahal, tanpa sadar, kita sedang membandingkan kehidupan
sehari-hari yang penuh proses dengan etalase pencapaian orang lain yang sudah
dipoles rapi.
Dalam filsafat eksistensialisme, Jean-Paul Sartre
memperkenalkan konsep yang disebut the look. Sederhananya, manusia kerap
berhenti memandang dirinya sebagai subjek yang bebas, lalu mulai melihat diri
sendiri dari sudut pandang orang lain. Masalahnya, pandangan orang lain hari
ini tidak lagi berwujud sepasang mata, melainkan berubah menjadi layar, yaitu
jumlah relasi, jumlah sertifikat, jumlah pengalaman organisasi, jumlah
publikasi, dan jumlah pencapaian yang dipamerkan di LinkedIn. Semakin banyak
waktu yang kita habiskan untuk memandangi kehidupan orang lain, semakin sedikit
pula waktu yang tersisa untuk benar-benar menjalani hidup sendiri. Tanpa
disadari, kita pun mulai mendefinisikan diri berdasarkan standar kehidupan yang
bahkan bukan kita sendiri yang menciptakannya.
Suatu hari, saya iseng membuka LinkedIn dengan niat
mencari informasi magang. Lima belas menit kemudian, saya justru sibuk membuka
profil orang lain. Dua puluh menit berikutnya, saya mulai membandingkan IPK.
Setengah jam setelahnya, saya membuka CV sendiri dan berpikir, kayaknya hidup
saya biasa-biasa saja. Sebenarnya yang berubah bukan CV saya, melainkan cara
saya memandang diri sendiri. Ironisnya, semakin sering kita melihat pencapaian
orang lain, semakin mudah pula kita lupa bahwa setiap orang berjalan dari garis
start yang berbeda. Ada yang lahir dengan akses lebih banyak dan lebih mudah,
ada yang memiliki mentor, ada yang memiliki koneksi, dan ada pula yang punya waktu
belajar tanpa harus memikirkan biaya hidup. Sayangnya, media sosial jarang
menampilkan semua latar belakang itu. Yang ditampilkan hanyalah betapa
bahagianya seseorang ketika sudah berada di garis finis.
Sartre juga berbicara tentang bad faith, yakni kondisi
ketika manusia menyangkal kebebasannya sendiri dan memilih hidup berdasarkan
ekspektasi orang lain. Jika dipikir-pikir, banyak dari kita mengalami hal
serupa. Kita mengikuti seminar karena takut dianggap stagnan, ikut organisasi
karena semua teman ikut, dan mengambil sertifikat bukan karena benar-benar
butuh, melainkan takut CV terlihat kalah menarik. Kita mengejar pencapaian
bukan karena itu impian kita sendiri, melainkan karena takut tertinggal dari
hidup orang lain. Ironisnya, semua itu kerap kita sebut sebagai pengembangan
diri, padahal bisa jadi hanya perlombaan untuk memperoleh apresiasi dari orang
lain.

(Ilustrasi etalase toko dengan mannequin display. Sumber: Unplash.com)
Bukan berarti LinkedIn itu buruk, sebab banyak informasi bermanfaat menumpuk di sana. Masalahnya muncul ketika kita lupa bahwa LinkedIn, sama seperti media sosial lain, pada dasarnya hanyalah etalase, bukan cermin utuh kehidupan seseorang. Tidak ada toko yang memajang barang rusak di etalasenya, begitu pula media sosial, yang dipajang selalu yang terbaik, sementara kegagalan, kebingungan, kehilangan, dan rasa takut disimpan rapat-rapat di gudang belakang. Ada kalanya kita perlu berhenti menggulir linimasa, bukan karena iri itu dosa, melainkan karena waktu yang terlalu banyak dihabiskan untuk melihat hidup orang lain sering membuat kita lupa menjalani hidup sendiri. Jean-Paul Sartre pernah berkata bahwa manusia dikutuk untuk bebas, artinya kepada kita dilimpahkan tanggung jawab penuh untuk menentukan jalan hidup sendiri, ke mana kita pergi dan dari mana kita memulai. Sayangnya, di era media sosial, kita justru kerap sibuk menjalani jalan yang ditentukan oleh algoritma dan ekspektasi orang lain. Barangkali, keberhasilan tidak diukur dari seberapa sering kita bisa menulis excited to announce di LinkedIn, melainkan dari seberapa sering kita bisa berkata kepada diri sendiri, tanpa perlu membandingkan dengan siapa pun, hidup saya memang belum sesempurna hidup mereka, tetapi ini adalah hidup yang saya pilih sendiri.
Penulis: Alifa Nur Aini
Agasthi
Editor: Alwa Shofwah

0 Komentar