Aroma politik Indonesia mendadak menyengat dari ruang kerja petinggi korps Adhyaksa (Kejaksaan Republik Indonesia) yang baru saja diobok-obok oleh aparat berseragam cokelat. Penggeledahan fantastis ini bukan sekadar urusan penegakan hukum biasa, namun terindikasi sebagai tabuh genderang perang terbuka antar-faksi kekuasaan.
Di balik ketegangan tersebut, publik disuguhi tontonan teatrikal yang memperlihatkan rapuhnya konsensus di tingkat atas republik Indonesia. Institusi penegak hukum yang seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan kini justru bertransformasi menjadi corong bagi para tikus tamak.
Publik dengan mudah membaca arah mata angin ke mana bandul kesetiaan para pembesar republik ini sebenarnya sedang bermuara. Gerbong lama di bawah pengaruh Jokowi diduga tampak masih memiliki jangkar yang teramat kokoh di tubuh institusi Kepolisian Republik Indonesia.
Kedekatan emosional dan taktis dengan Kapolri yang terlihat melalui beberapa kesempatan di media sosial, dinilai menjadi puzzle utama untuk mengamankan posisi dalam sisa peta kekuatan politik domestik. Struktur ini bergerak secara presisi, siap meluncurkan serangan balik kapan saja ketika ruang gerak kelompoknya mulai diusik lawan.
Di seberangnya lagi, faksi baru yang berpusat di lingkaran Prabowo Subianto kian mulai memperlihatkan taji politiknya secara terang-terangan. Kelompok ini disinyalir mendapat sokongan penuh dari korps Kejaksaan Agung yang belakangan sangat agresif membongkar berbagai kasus kakap.
Tidak hanya kejaksaan, barisan kekuatan ini juga terlihat semakin solid dengan merapatnya Panglima TNI beserta seluruh kekuatan armada militernya. Polarisasi dua kekuatan bersenjata dan berwenang besar ini menciptakan keseimbangan yang membuat suasana ibu pertiwi semakin menghangat.
Sengkarut ini semakin menarik ketika kasus-kasus korupsi bernilai triliunan rupiah tidak lagi dibuka berdasarkan kalender hukum yang objektif. Perkara-perkara besar yang sepertinya sengaja dikeluarkan dari laci secara bergantian hanya ketika intensitas persaingan politik antar-faksi atau kondisi politik Indonesia sedang memanas.
Akhirnya, hukum hanya dijadikan alat oleh elite politik untuk saling menyandera dan mencari keuntungan pribadi atau golongan. Dokumen rahasia yang mungkin telah disimpan bertahun-tahun, kini mendadak dibongkar untuk menghancurkan wibawa lawan politik mereka.
Borok kedinasan yang selama ini ditutupi rapat di balik dinding ruang ber-AC sekarang diobral murah ke ruang publik. Carut-marut ini mempertontonkan secara telanjang betapa rapuhnya komitmen moral para pemegang tongkat komando tertinggi di republik yang katanya demokratis ini.
Melihat tingkah polah para penegak yang saling berpura-pura ini, masyarakat bawah tentu tidak perlu ikut-ikutan merasa tegang atau cemas. Harapan akan adanya pembenahan sistemik yang tulus melalui jalur formal sudah lama mati di tangan pragmatisme para elite.
Rakyat yang sudah terlanjur kenyang dengan bualan reformasi birokrasi kini sebaiknya memilih bersikap skeptis dan melihat drama ini dari kejauhan. Pilihan paling rasional hari ini adalah mengambil posisi duduk paling nyaman di teras rumah tanpa perlu memihak siapapun.
Sikap ini lahir karena kesadaran bahwa siapapun yang menang, nasib rakyat kecil jarang sekali mengalami perubahan. Konflik di tingkat atas ini tidak lebih dari sekadar perebutan hak eksklusif untuk mengelola kekayaan dan kue ekonomi nasional yang tidak akan terbongkar.
Biarkan saja mereka saling kejar, saling intip, saling geledah, dan saling berpura-pura untuk meruntuhkan keangkuhan kelompok saingan masing-masing. Ketika para elite sibuk menyelamatkan diri, mereka biasanya lupa untuk menindas masyarakat di akar rumput.
Sirkus politik kelas atas ini setidaknya memberikan hiburan gratis bermutu tinggi di tengah himpitan ekonomi global yang kian mencekik leher. Menonton bapak-bapak berseragam mahal saling buka kartu as adalah komedi terbaik yang bisa didapatkan secara cuma-cuma tanpa tiket special tour.
Tugas sejarah kita sebagai warga negara yang baik sekarang sangat sederhana dan tidak membutuhkan pemikiran filosofis yang mendalam. Silakan ambil cangkir kesayangan Anda, pastikan air di dapur benar-benar mendidih, lalu seduh kopi hitam perlahan tanpa gula.
Tambahkan beberapa potong gorengan hangat sebagai camilan pendamping agar suasana menonton adegan saling sandera ini menjadi jauh lebih sempurna. Mari kita duduk santai di barisan paling depan, menikmati hembusan angin bediding, dan melihat siapa yang akan tersungkur pertama kali.
Penulis: Novandi Ali Akbar
Editor: Muhamad Saepul Saputra


0 Komentar