Ticker

6/recent/ticker-posts

“Terserah”: Ketika Kenyamanan Diam-Diam Membunuh Kehendak Kita

 

(Ilustrasi seseorang yang mengabaikan pesan dan notifikasi pada telepon genggam, menggambarkan kecenderungan menghindari interaksi, enggan mengambil sikap, dan memilih kenyamanan dengan bersikap "terserah" terhadap berbagai persoalan. Sumber: Pinterest)

“Terserah”. Satu kata yang rasanya ringan diucapkan, tetapi jika diperhatikan baik-baik, sebenarnya menyimpan banyak hal. Ditanya mau makan apa: “terserah.” Diminta pendapat soal suatu isu: “terserah, yang penting gak ganggu hidup gue.” Ditanya soal masa depan, soal karier lima tahun ke depan: “ah, terserah, jalani aja dulu.” Ada yang menyebutnya sebagai bentuk kedewasaan, bentuk fleksibilitas, sikap tidak ngoyo, tidak neko-neko. Namun, ada juga yang menaruh curiga, jangan-jangan "terserah" bukan tanda kematangan, melainkan tanda bahwa kita sudah berhenti benar-benar peduli.

Fenomena “terserah” yang kita lihat saat ini, yang begitu akrab dalam percakapan sehari-hari, sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar soal menu makan. Ia muncul di ruang kerja ketika rapat menuntut opini, tetapi semua orang memilih diam dan mengangguk. Ia muncul di beranda di media sosial ketika isu besar mencuat, tetapi kita memilih menggulir layar tanpa berkomentar. Ia muncul pula dalam keputusan-keputusan pribadi, soal karier, hubungan, bahkan keyakinan, yang perlahan diserahkan begitu saja pada arus keadaan. Yang menarik, sikap ini nyaris tidak pernah dipertanyakan secara serius karena ia menyamar sebagai kualitas positif: fleksibel, kalem, tidak baperan. Padahal, di baliknya bisa jadi tersembunyi suatu hal yang jauh lebih rapuh, yaitu keengganan untuk memiliki preferensi, keengganan untuk mengambil sikap, dan keengganan untuk terlihat terlalu peduli pada sesuatu.

Menariknya, lebih dari satu abad yang lalu, seorang filsuf Jerman yang eksentrik sudah pernah membayangkan sosok manusia semacam ini, jauh sebelum kata "terserah" menjadi respons paling aman dalam percakapan kita.

Filsuf tersebut adalah Friedrich Nietzsche. Dalam karyanya, Also Sprach Zarathustra, Nietzsche memperkenalkan sosok yang ia sebut der letzte Mensch, atau manusia terakhir. Ini bukan manusia terakhir dalam arti harfiah sebagai sosok penutup sejarah manusia. Manusia terakhir, menurut Nietzsche, adalah gambaran tipe manusia yang telah berhenti bercita-cita. Manusia terakhir tidak lagi memiliki keinginan besar, tidak lagi berusaha menciptakan nilai baru bagi hidupnya sendiri, dan tidak lagi berani mengambil risiko demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Yang ia inginkan hanya satu: rasa nyaman. Kenikmatan kecil yang aman, yang tidak mengganggu siapapun (termasuk dirinya sendiri), yang bisa dinikmati sambil berkata, "Kami telah menemukan kebahagiaan," sambil mengerjapkan mata, tanpa benar-benar meyakininya.

Nietzsche menulis sosok ini bukan sebagai pujian, melainkan sebagai bentuk kekhawatiran. Ia khawatir peradaban yang terlalu nyaman, terlalu aman, dan terlalu menghindari penderitaan justru akan melahirkan manusia-manusia yang kehilangan kapasitas untuk benar-benar menginginkan sesuatu dan lebih memilih untuk menyerahkan segalanya pada keadaan. Dengan kata lain, manusia terakhir tidak menolak hidup, ia hanya sudah berhenti mempertaruhkan apa pun untuknya.

Tentu, ada alasan yang masuk akal di balik semakin lazimnya sikap ini. Dunia hari ini penuh perdebatan tanpa ujung, kritik datang dari segala arah, dan ada tekanan sosial untuk selalu memiliki opini tentang segalanya, mulai dari isu politik sampai selera musik. Dalam suasana seperti itu, sikap “terserah” terasa seperti pelarian yang aman: tidak salah, tidak kena semprot, tidak perlu bertanggung jawab atas pilihan. Sikap ini bahkan bisa menjadi bentuk kedewasaan yang sah, misalnya ketika kita memilih untuk tidak ambil pusing pada hal-hal yang memang tidak penting, atau memberi ruang pada orang lain untuk memutuskan. Masalahnya baru muncul ketika sikap ini dipakai bukan sebagai pengecualian, melainkan sebagai jawaban standar untuk hampir segala hal, termasuk hal-hal yang sebenarnya kita pedulikan dan memperhatikannya.

Padahal, Nietzsche tidak pernah mengajarkan manusia untuk berhenti memiliki kehendak. Sebagai lawan dari manusia terakhir, ia justru mengajukan gagasan tentang Übermensch yang sering diterjemahkan sebagai "manusia unggul", meski terjemahan itu sendiri sering menyesatkan. Übermensch bukan tentang superioritas ras atau kekuatan fisik. Ia adalah gambaran manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri, alih-alih pasrah menerima nilai yang sudah disodorkan oleh keadaan. Übermensch bukan berarti seseorang yang harus selalu berapi-api atau memaksakan pendapat pada segala hal. Yang membedakannya dari manusia terakhir adalah keberanian untuk tetap punya kehendak, bukan sekadar mengikuti arus karena merasa lebih aman untuk tidak peduli.

"Ada beda antara memilih untuk tidak peduli dengan sudah lupa caranya peduli."

Dari sini, kita perlu memisahkan dua jenis "terserah" yang sering tercampur aduk. Ada "terserah" yang lahir dari kedewasaan, memilih untuk tidak ambil pusing pada hal-hal yang memang tidak penting, memberi ruang pada orang lain untuk memutuskan, dan tahu mana pertempuran yang layak diperjuangkan. Tetapi ada juga "terserah" yang sebenarnya adalah bentuk penyerahan diri yang dibungkus santai. "Terserah" pada hal-hal yang sebenarnya penting bagi kita, tapi kita terlalu lelah, terlalu takut dihakimi, atau terlalu terbiasa menghindari pengambilan sikap. Nietzsche akan mengenali jenis kedua ini dengan mudah. Baginya, itulah gejala manusia terakhir yang paling nyata, bukan ketika seseorang benar-benar tidak peduli, tetapi ketika seseorang berpura-pura tidak peduli karena peduli terasa terlalu berisiko. Ada beda mendasar antara memilih untuk tidak peduli dengan sudah lupa caranya peduli.

Kita mungkin tidak perlu menjadi Übermensch yang penuh kehendak dan ambisi tanpa henti karena itu pun bukan gambaran hidup yang selalu realistis atau bahkan sehat. Namun, ada baiknya sesekali bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali aku benar-benar menginginkan sesuatu? kapan aku cukup kuat untuk berani bilang bukan terserah? apakah aku benar-benar tidak peduli soal ini? atau aku hanya sedang menghindar dari repotnya punya sikap? Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi langkah kecil untuk mulai mengambil kembali kapasitas memilih yang perlahan kita serahkan pada keadaan. Karena, barangkali, kenyamanan yang kita kejar lewat sikap serba terserah, pada akhirnya bukan kebahagiaan. Ia hanya kebahagiaan versi yang sudah terlalu dikecilkan, sampai muat di ruang yang paling aman sekaligus paling sepi.

Nama penulis  : Ghaitsa Zahira Shafa

Editor: Alwa Shofwah

Posting Komentar

0 Komentar