“Terserah”.
Satu kata yang rasanya ringan diucapkan, tetapi jika diperhatikan baik-baik,
sebenarnya menyimpan banyak hal. Ditanya mau makan apa: “terserah.” Diminta
pendapat soal suatu isu: “terserah, yang penting gak ganggu hidup gue.” Ditanya
soal masa depan, soal karier lima tahun ke depan: “ah, terserah, jalani aja
dulu.” Ada yang menyebutnya sebagai bentuk kedewasaan, bentuk fleksibilitas,
sikap tidak ngoyo, tidak neko-neko. Namun, ada juga yang menaruh curiga,
jangan-jangan "terserah" bukan tanda kematangan, melainkan tanda
bahwa kita sudah berhenti benar-benar peduli.
Fenomena “terserah” yang
kita lihat saat ini, yang begitu akrab dalam percakapan sehari-hari, sebenarnya
jauh lebih luas daripada sekadar soal menu makan. Ia muncul di ruang kerja
ketika rapat menuntut opini, tetapi semua orang memilih diam dan mengangguk. Ia
muncul di beranda di media sosial ketika isu besar mencuat, tetapi kita memilih
menggulir layar tanpa berkomentar. Ia muncul pula dalam keputusan-keputusan
pribadi, soal karier, hubungan, bahkan keyakinan, yang perlahan diserahkan
begitu saja pada arus keadaan. Yang menarik, sikap ini nyaris tidak pernah
dipertanyakan secara serius karena ia menyamar sebagai kualitas positif:
fleksibel, kalem, tidak baperan. Padahal, di baliknya bisa jadi tersembunyi suatu
hal yang jauh lebih rapuh, yaitu keengganan untuk memiliki preferensi,
keengganan untuk mengambil sikap, dan keengganan untuk terlihat terlalu peduli
pada sesuatu.
Menariknya, lebih dari
satu abad yang lalu, seorang filsuf Jerman yang eksentrik sudah pernah
membayangkan sosok manusia semacam ini, jauh sebelum kata "terserah"
menjadi respons paling aman dalam percakapan kita.
Filsuf tersebut adalah
Friedrich Nietzsche. Dalam karyanya, Also Sprach Zarathustra, Nietzsche
memperkenalkan sosok yang ia sebut der letzte Mensch, atau manusia
terakhir. Ini bukan manusia terakhir dalam arti harfiah sebagai sosok penutup
sejarah manusia. Manusia terakhir, menurut Nietzsche, adalah gambaran tipe
manusia yang telah berhenti bercita-cita. Manusia terakhir tidak lagi memiliki
keinginan besar, tidak lagi berusaha menciptakan nilai baru bagi hidupnya
sendiri, dan tidak lagi berani mengambil risiko demi sesuatu yang lebih besar
dari dirinya. Yang ia inginkan hanya satu: rasa nyaman. Kenikmatan kecil yang
aman, yang tidak mengganggu siapapun (termasuk dirinya sendiri), yang bisa
dinikmati sambil berkata, "Kami telah menemukan kebahagiaan," sambil
mengerjapkan mata, tanpa benar-benar meyakininya.
Nietzsche menulis sosok
ini bukan sebagai pujian, melainkan sebagai bentuk kekhawatiran. Ia khawatir
peradaban yang terlalu nyaman, terlalu aman, dan terlalu menghindari
penderitaan justru akan melahirkan manusia-manusia yang kehilangan kapasitas
untuk benar-benar menginginkan sesuatu dan lebih memilih untuk menyerahkan
segalanya pada keadaan. Dengan kata lain, manusia terakhir tidak menolak hidup,
ia hanya sudah berhenti mempertaruhkan apa pun untuknya.
Tentu, ada alasan yang
masuk akal di balik semakin lazimnya sikap ini. Dunia hari ini penuh perdebatan
tanpa ujung, kritik datang dari segala arah, dan ada tekanan sosial untuk
selalu memiliki opini tentang segalanya, mulai dari isu politik sampai selera
musik. Dalam suasana seperti itu, sikap “terserah” terasa seperti pelarian yang
aman: tidak salah, tidak kena semprot, tidak perlu bertanggung jawab atas
pilihan. Sikap ini bahkan bisa menjadi bentuk kedewasaan yang sah, misalnya
ketika kita memilih untuk tidak ambil pusing pada hal-hal yang memang tidak
penting, atau memberi ruang pada orang lain untuk memutuskan. Masalahnya baru
muncul ketika sikap ini dipakai bukan sebagai pengecualian, melainkan sebagai
jawaban standar untuk hampir segala hal, termasuk hal-hal yang sebenarnya kita
pedulikan dan memperhatikannya.
Padahal, Nietzsche tidak
pernah mengajarkan manusia untuk berhenti memiliki kehendak. Sebagai lawan dari
manusia terakhir, ia justru mengajukan gagasan tentang Übermensch yang
sering diterjemahkan sebagai "manusia unggul", meski terjemahan itu
sendiri sering menyesatkan. Übermensch bukan tentang superioritas ras atau
kekuatan fisik. Ia adalah gambaran manusia yang berani menciptakan nilainya
sendiri, alih-alih pasrah menerima nilai yang sudah disodorkan oleh keadaan.
Übermensch bukan berarti seseorang yang harus selalu berapi-api atau memaksakan
pendapat pada segala hal. Yang membedakannya dari manusia terakhir adalah
keberanian untuk tetap punya kehendak, bukan sekadar mengikuti arus karena
merasa lebih aman untuk tidak peduli.
"Ada beda antara
memilih untuk tidak peduli dengan sudah lupa caranya peduli."
Dari sini, kita perlu
memisahkan dua jenis "terserah" yang sering tercampur aduk. Ada
"terserah" yang lahir dari kedewasaan, memilih untuk tidak ambil
pusing pada hal-hal yang memang tidak penting, memberi ruang pada orang lain
untuk memutuskan, dan tahu mana pertempuran yang layak diperjuangkan. Tetapi
ada juga "terserah" yang sebenarnya adalah bentuk penyerahan diri
yang dibungkus santai. "Terserah" pada hal-hal yang sebenarnya penting
bagi kita, tapi kita terlalu lelah, terlalu takut dihakimi, atau terlalu
terbiasa menghindari pengambilan sikap. Nietzsche akan mengenali jenis kedua
ini dengan mudah. Baginya, itulah gejala manusia terakhir yang paling nyata,
bukan ketika seseorang benar-benar tidak peduli, tetapi ketika seseorang
berpura-pura tidak peduli karena peduli terasa terlalu berisiko. Ada beda
mendasar antara memilih untuk tidak peduli dengan sudah lupa caranya peduli.
Kita mungkin tidak perlu
menjadi Übermensch yang penuh kehendak dan ambisi tanpa henti karena itu pun
bukan gambaran hidup yang selalu realistis atau bahkan sehat. Namun, ada
baiknya sesekali bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali aku
benar-benar menginginkan sesuatu? kapan aku cukup kuat untuk berani bilang
bukan terserah? apakah aku benar-benar tidak peduli soal ini? atau aku hanya
sedang menghindar dari repotnya punya sikap? Pertanyaan sederhana ini bisa
menjadi langkah kecil untuk mulai mengambil kembali kapasitas memilih yang
perlahan kita serahkan pada keadaan. Karena, barangkali, kenyamanan yang kita
kejar lewat sikap serba terserah, pada akhirnya bukan kebahagiaan. Ia hanya
kebahagiaan versi yang sudah terlalu dikecilkan, sampai muat di ruang yang
paling aman sekaligus paling sepi.
Nama penulis : Ghaitsa Zahira Shafa
Editor: Alwa Shofwah

0 Komentar