Ticker

6/recent/ticker-posts

Satu Sampah yang Dimaklumi, Kebiasaan Buruk yang Mengakar


(Ilustrasi: Perilaku menjaga lingkungan
Sumber: Pinterest)

Saat  tulisan tentang sampah, mungkin sebagian dari kita langsung bergumam dalam hati, "Sampah lagi, sampah lagi. Nggak ada topik lain apa?"


Jujur saja, itulah yang sempat saya pikirkan ketika kembali mendengar pembahasan tentang lingkungan. Ada titik ketika pembicaraan tentang sampah terasa seperti kaset lama yang terus diputar berulang-ulang: membosankan, klise, dan seolah tidak pernah membawa perubahan yang berarti. Kita sudah sering mendengar ajakan untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, hingga menjaga kebersihan lingkungan. Tapi, masalahnya tetap ada. Kalau kita berhenti sebentar dan melihat keadaan di sekitar, mungkin kita akan menyadari bahwa persoalannya bukan hanya tentang sampah yang semakin banyak. Tapi ada sesuatu yang lebih mendasar bahwa kita mulai terbiasa melihatnya.


Sampah yang dulu mungkin membuat kita risih, perlahan bisa menjadi pemandangan yang biasa ditemui setiap hari. Tindakan membuang sampah sembarangan yang sebenarnya kita tahu salah pun kadang dianggap sebagai hal kecil. Ketika sesuatu yang salah terlalu sering kita lihat, batas antara "salah" dan "biasa" perlahan bisa menjadi kabur. Bukan karena tindakan tersebut berubah menjadi benar, tetapi karena kita sudah terlalu terbiasa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari.


Saya sendiri mengalami hal sederhana yang kemudian membuat saya memikirkan hal ini. Beberapa waktu lalu saat saya dalam perjalanan menuju kampus, perhatian saya tertuju pada sebuah mobil angkutan umum di depan. Jalanan saat itu sebenarnya cukup bersih. Tidak ada tumpukan sampah di sekitar kendaraan tersebut. Namun, tiba-tiba jendela mobil terbuka sedikit. Sebuah tangan keluar dan melemparkan bungkus plastik bekas makanan ke aspal. Setelah itu, mobil tersebut kembali berjalan tanpa ragu. Saya tentu tidak bisa langsung menegur karena kendaraan terus bergerak dan situasinya tidak memungkinkan. Namun, kejadian tersebut tetap membuat saya berpikir bukan hanya tindakan membuang sampahnya, tetapi juga situasinya. Bagaimana bisa seseorang dengan begitu mudah melemparkan sampah ke jalan, bahkan ketika lingkungan di sekitarnya sedang bersih? Mungkin bagi orang tersebut, satu bungkus plastik memang dianggap terlalu kecil untuk menjadi masalah. Namun, justru dari anggapan "hanya satu" itulah kebiasaan buruk dapat terus berulang. Dan dalam perjalanan pulang pun saya kembali melihat kejadian serupa. Seorang pengemudi truk melemparkan kotak rokok bekas ke luar jendela kendaraan. 


Dua kejadian itu mungkin terlihat kecil. Hanya satu bungkus plastik, hanya satu kotak rokok. Tidak ada kerusakan besar yang langsung terlihat setelahnya, jalan masih bisa dilalui dan kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Namun, justru dari tindakan kecil semacam inilah kita dapat melihat persoalan yang lebih luas.


Seseorang mungkin berpikir bahwa satu sampah tidak akan mengubah keadaan. Orang lain mungkin berpikir hal yang sama. Pada akhirnya, jutaan tindakan kecil yang dianggap tidak penting dapat menghasilkan dampak yang besar. Tumpukan sampah tidak muncul dalam satu malam. Ia terbentuk dari banyak keputusan kecil yang terus diulang dan terus dimaklumi.


Untuk memahami persoalan ini lebih jauh, kita dapat melihatnya melalui pemikiran Immanuel Kant, khususnya gagasan tentang Imperatif Kategoris. Secara sederhana, Kant mengajarkan bahwa sebelum melakukan sesuatu, kita perlu mempertimbangkan apakah prinsip di balik tindakan tersebut dapat diterapkan kepada semua orang. Kita perlu bertanya: “Bagaimana jika semua orang melakukan hal yang sama seperti saya?"

(Ilustrasi: Perilaku membuang sampah lewat jendela mobil
Sumber: Pinterest)

Bagi Kant, tindakan yang bermoral bukan hanya tindakan yang menguntungkan diri sendiri atau menghasilkan akibat yang menyenangkan. Suatu tindakan juga harus dapat dipertanggungjawabkan sebagai prinsip yang masuk akal jika dilakukan oleh semua orang. Jika pemikiran tersebut diterapkan pada tindakan membuang sampah sembarangan, persoalannya menjadi lebih jelas. Orang yang melempar bungkus plastik mungkin berpikir bahwa sampahnya terlalu kecil untuk menimbulkan masalah. Namun, jika semua orang memiliki prinsip yang sama, jalanan akan dipenuhi oleh sampah yang awalnya dianggap "cuma satu".


Di sinilah letak permasalahan moralnya. Pelaku sebenarnya menikmati lingkungan yang bersih, tetapi pada saat yang sama membuat pengecualian bagi dirinya sendiri untuk mengotori lingkungan tersebut. Ia ingin orang lain menjaga kebersihan, tetapi tidak menjalankan kewajiban yang sama. Menurut Kant, moralitas menuntut seseorang untuk bertindak berdasarkan prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan secara universal. Artinya, kita tidak seharusnya membuat aturan berbeda untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Jika kita menginginkan lingkungan yang bersih, maka kita juga memiliki kewajiban untuk ikut menjaganya, bahkan ketika tindakan kecil kita tidak langsung terlihat dampaknya.


Mungkin ada yang mengatakan, "Ah, cuma satu." Kalimat sederhana ini mungkin terdengar tidak berbahaya. Namun, jika terus digunakan untuk membenarkan tindakan yang salah, lama-kelamaan kepekaan kita dapat berkurang. Kita mulai menganggap membuang sampah sembarangan sebagai sesuatu yang biasa. Kita melihat orang lain melakukannya, tetapi tidak merasa perlu bereaksi. Kita menemukan sampah di jalan, tetapi memilih berjalan melewatinya. Akhirnya, bukan hanya jumlah sampah yang bertambah. Kepekaan moral kita juga perlahan menurun.


Kondisi ini menunjukkan bahwa keburukan tidak selalu menjadi biasa karena manusia tidak mengetahui bahwa sesuatu itu salah. Terkadang, keburukan menjadi biasa karena terlalu sering dilakukan, terlalu sering dilihat, dan terlalu sering dibiarkan. Sesuatu yang awalnya membuat kita merasa tidak nyaman akhirnya dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.


Oleh karena itu, menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui kampanye atau kegiatan yang hanya berlangsung sesekali. Kesadaran harus hadir dalam tindakan sehari-hari, termasuk ketika tidak ada orang yang melihat. Menyimpan bungkus makanan sampai menemukan tempat sampah, mengurangi penggunaan plastik ketika tidak diperlukan, dan tidak membiarkan orang lain merasa bahwa membuang sampah sembarangan adalah hal yang wajar merupakan bentuk tanggung jawab sederhana yang dapat dilakukan siapa saja.


Namun, tanggung jawab menjaga lingkungan juga tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada individu. Kesadaran masyarakat perlu berjalan bersama dengan dukungan sosial/pemerintah. Masyarakat membutuhkan fasilitas tempat sampah yang memadai, sistem pengelolaan sampah yang baik, serta kebijakan yang memudahkan orang untuk berperilaku lebih bertanggung jawab. Kesadaran tanpa fasilitas akan sulit berkembang, sementara fasilitas tanpa kesadaran juga tidak akan cukup. Sesuatu yang salah tidak akan berubah menjadi benar hanya karena terlalu sering dilakukan. Dan sesuatu yang buruk tidak seharusnya menjadi biasa hanya karena kita sudah terlalu sering melihatnya. Maka dari itu, menjaga lingkungan bukan hanya tentang membuat tempat tinggal kita tetap bersih. tetapi kita juga sedang menjaga agar kepekaan terhadap sesuatu yang salah tidak ikut hilang. Karena ketika kita mulai terbiasa dengan keburukan, mungkin saat itulah kita tidak lagi sadar bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.


Penulis: Dina Aufa Fadilah

Editor: Alwa Shofwah




Posting Komentar

0 Komentar