![]() |
| (Ilustrasi seseorang yang sedang berdiri di bawah pepohonan, dilihat dari sudut pandang bawah. Sumber: Pinterest) |
"Apa bedanya manusia dengan semut?"
Pertanyaan itu saya lontarkan kepada
teman saya ketika kami masih kelas dua SD. Kami punya kebiasaan yang sekarang
terdengar agak aneh: nongkrong di bawah semak bunga sepatu sambil mengunyah
permen karet merah muda. Yang kami nikmati bukan cuma permennya, melainkan
bungkusnya. Hampir setiap bungkus berisi teka-teki, lelucon, atau cerita pendek
yang entah bagaimana selalu berhasil membuat kami tertawa.
Siang itu, setelah sekian banyak
tebakan yang meleset, saya tiba-tiba nyeletuk, "Kamu tahu nggak apa bedanya
manusia dengan semut?"
Dia menggeleng sambil nyengir.
"Bedanya manusia bisa
kesemutan," kata saya, sengaja berhenti sejenak agar terdengar dramatis.
"Kalau semut nggak bisa kemanusiaan."
Kami tertawa puas, seolah baru saja
menemukan lelucon paling mutakhir di dunia. Yang aneh, dari sekian banyak
pelajaran SD yang sudah terlupakan, justru permainan kata receh itulah yang bertahan paling
lama di kepala saya. Saya lupa siapa guru bahasa inggris waktu itu. Saya lupa
siapa yang juara kelas. Bahkan saya juga sudah lupa merk permen karetnya apa.
Tetapi saya masih ingat betul tentang pertanyaan manusia dan semut ini.
Belakangan saya baru sadar, mungkin yang membuatnya bertahan bukan karena
leluconnya lucu. Melainkan karena pertanyaannya belum benar-benar selesai saya
jawab.
Pertanyaan itu terus mengendap
bertahun-tahun tanpa benar-benar saya pikirkan. Hingga beberapa tahun kemudian,
jawaban paling dekat yang pernah saya temukan datang, bukan dari guru SD saya,
melainkan dari sebuah novel filsafat berjudul Dunia Sophie. Dalam novel
itu Gaarder mengajak pembacanya membayangkan dunia sebagai seekor kelinci putih
raksasa yang baru saja ditarik keluar dari topi pesulap. Anak-anak berada di
ujung bulunya, tempat mereka masih bisa melihat keajaiban pertunjukan itu.
Orang dewasa perlahan turun ke bagian yang lebih dalam, tempat semuanya terasa
biasa dan tak lagi mengundang pertanyaan. Mungkin itulah alasan pertanyaan
tentang manusia dan semut masih bertahan di kepala saya. Waktu itu saya belum
sedang mencari jawaban, melainkan hanya sedang merasa heran. Anak-anak memang
punya kebiasaan aneh: mereka bertanya bukan karena harus menemukan jawaban,
tetapi karena dunia terasa terlalu menarik untuk dibiarkan begitu saja.
"Kenapa semut berbaris?", "Apakah itu bagian dari seni?",
atau bahkan, "Apa bedanya manusia dengan semut?"
Berabad-abad sebelum saya duduk di bawah semak bunga sepatu, Aristoteles rupanya sudah lebih dulu mengalami kegelisahan yang mirip. Ia menulis bahwa filsafat berawal dari rasa heran (wonder). Menariknya, ia tidak mengatakan bahwa filsafat lahir dari orang-orang yang paling pintar. Yang ia sebut justru orang-orang yang masih cukup jujur untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang belum mereka pahami. Waktu kecil tentu saya belum mengenal Aristoteles. Saya bahkan mungkin masih kesulitan mengeja namanya. Tapi rupanya saya pernah mengalami apa yang ia maksud. Saya pernah bertanya bukan karena ingin terlihat pintar, melainkan karena dunia memang terasa ajaib. Anak-anak mungkin tidak lebih pintar daripada orang dewasa. Mereka hanya belum terburu-buru merasa tahu. Mereka masih nyaman mengatakan "kenapa?" berkali-kali tanpa malu dianggap merepotkan. Semakin dewasa saya justru semakin sering menahan pertanyaan sendiri. Bukan karena semua sudah saya pahami, tetapi karena khawatir pertanyaan itu terdengar terlalu sederhana.
Seiring waktu, pertanyaan saya berubah bentuk. Kalau dulu saya bertanya karena penasaran, sekarang saya bertanya karena ada sesuatu yang harus diselesaikan, misalnya; kapan deadline? IPK saya cukup tidak ya? Nanti magang di mana? Besok makan apa? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Tetapi, tak ada pertanyaan yang benar-benar lahir hanya karena dunia terasa terlalu menarik untuk dibiarkan lewat begitu saja. Dunia orang dewasa sering kali mengajarkan bahwa setiap pertanyaan harus menghasilkan sesuatu seperti nilai, uang, pekerjaan, atau keputusan. Akibatnya, kita perlahan melupakan bahwa ada pertanyaan yang tidak diciptakan untuk menyelesaikan masalah, melainkan untuk memperluas cara kita memandang dunia.
Dulu saya bisa menghabiskan waktu
untuk nongkrong dan membahas pertanyan-pertanyaan remeh di bawah semak bunga
sepatu, kenapa manusia bisa kesemutan tapi semut tidak bisa merasakan
kemanusian? Sekarang saya lebih sering berjalan cepat. Dari kos ke kampus, dari kelas ke perpustakaan, dari satu daftar pekerjaan ke daftar
berikutnya. Saya jarang sekali berjalan cukup pelan untuk menyadari ada barisan
semut di bawah kaki saya.

(Ilustrasi seorang anak perempuan yang sedang menatap langit. Sumber: Pinterest)
Mungkinkah tanpa sadar saya juga sudah terlalu nyaman terjerembab di dalam bulu kelinci seperti kata Sophie? Kalau dipikir lagi, waktu kecil saya tidak pernah berpikir apakah pertanyaan saya bermanfaat. Saya tidak bertanya tentang semut agar nilai IPA saya naik atau dianggap pintar teman-teman. Saya juga tidak berharap mendapat jawaban yang bisa dipakai saat ujian. Pertanyaan itu lahir begitu saja, karena dunia terasa menarik. Mungkin masalahnya bukan karena saya terlalu sibuk. Sebab sewaktu kecil pun saya juga punya PR, ulangan, dan jam pulang sekolah. Bedanya, dulu saya masih memberi ruang bagi pertanyaan yang tidak harus menghasilkan apa-apa. Mungkin rasa heran bukan sekadar kebiasaan anak kecil. Tanpa rasa heran, kita berhenti memperhatikan. Tanpa memperhatikan, kita berhenti mempertanyakan. Dan ketika kita berhenti mempertanyakan, dunia perlahan berubah menjadi sesuatu yang sekadar lewat di depan mata.
Apakah menjadi dewasa memang berarti belajar hidup lebih efisien? Kita tahu rute tercepat ke tempat tujuan, cara tercepat mencari jawaban, bahkan cara tercepat memesan makan siang. Tapi dalam proses itu, jangan-jangan kita juga kehilangan kemampuan untuk berhenti sebentar dan berkata, "Aneh juga ya." Tanpa benar-benar sengaja mempertanyakan kenapa itu bisa begini? Kenapa ini bisa begitu? Kenapa A bisa menjadi B? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang seringkali menggatal di sudut kepala. Barangkali kita membayangkan rasa heran hanya dimiliki filsuf yang duduk membaca buku tebal. Padahal rasa heran bisa muncul di mana saja, misalnya ketika melihat semut bergulung-gulung, mendengar anak kecil bertanya kenapa langit berubah warna, atau ketika tiba-tiba teringat lelucon receh di bungkus permen karet. Boleh jadi filsafat memang tidak selalu lahir di ruang kuliah. Kadang ia muncul di bawah semak bunga sepatu.
Entah dimana teman SD saya sekarang, mungkin ia sudah lupa percakapan receh itu. Tapi kalau suatu hari kami bertemu lagi, saya ingin bertanya hal yang sama. Bukan karena saya masih mencari jawabannya, melainkan karena saya ingin tahu apakah kami masih sama-sama mampu merasa heran. Sebab ketika kita berhenti merasa heran, kita juga perlahan berhenti memperhatikan dunia dan orang-orang di sekitar kita. Agaknya dunia tidak pernah benar-benar kehilangan keajaibannya. Semut masih berbaris seperti dulu, hujan masih turun dengan cara yang sama, langit sore masih berubah warna setiap hari. Yang berubah mungkin bukan dunianya, melainkan cara saya memandangnya. Saya menjadi terlalu terbiasa. Terlalu cepat memberi nama pada segala sesuatu sehingga berhenti merasa takjub. Padahal sesuatu tidak berhenti menjadi ajaib hanya karena kita sudah tahu namanya.
Dulu saya mengira
"kemanusiaan" hanyalah bagian dari permainan kata. Bertahun-tahun
kemudian saya mulai curiga, jangan-jangan kemanusiaan memang ada hubungannya
dengan kemampuan untuk merasa heran. Mungkin karena orang yang masih mampu
merasa heran akan lebih mudah memperhatikan hal-hal kecil. Ia tidak hanya
bertanya mengapa semut berbaris, tetapi juga mengapa seseorang tampak murung,
mengapa tetangganya tiba-tiba diam, atau mengapa dunia bisa berubah begitu
cepat. Barangkali dari kebiasaan memperhatikan itulah kemanusiaan tumbuh. Dan
selama kita masih memiliki keberanian itu, mungkin kita belum sepenuhnya turun
ke balik bulu kelinci.
Nama: Ajeng Widie Hidayanti
Editor: Alwa
Shofwah
.jpeg)
0 Komentar