Ticker

6/recent/ticker-posts

Ketika Isi Dompet Mahasiswa Menentukan Apa yang Ada di Meja


(Seorang anak kos menikmati makan malam sendirian di kamar sambil ditemani laptop dan sepiring nasi dengan lauk sederhana.
 Sumber: Pinterest) 

Dalam realitas kehidupan mahasiswa, memilih tempat makan bukan lagi semata-mata persoalan selera. Bagi mahasiswa dengan uang saku terbatas, harga justru kerap menjadi pertimbangan utama. Setiap rupiah perlu diperhitungkan karena kebutuhan makan akan terus hadir setiap hari, sementara kebutuhan lain seperti transportasi, tempat tinggal, internet, hingga keperluan perkuliahan juga menunggu untuk dipenuhi. Pada kondisi seperti ini, sepiring makanan bukan sekadar persoalan mengenyangkan perut, tetapi juga bagian dari strategi mengatur keuangan hingga akhir bulan.

Kebutuhan makan merupakan pengeluaran rutin yang tidak dapat ditunda, terutama di tengah padatnya aktivitas akademik mahasiswa. Berbeda dengan membeli pakaian baru atau nongkrong di kafe yang masih dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan, makan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi setiap hari. Bagi mahasiswa yang hidup dengan anggaran terbatas, selisih beberapa ribu rupiah dapat memengaruhi keputusan: memilih lauk, menentukan tempat makan, atau bahkan menghitung apakah uang yang tersisa cukup untuk makan hingga esok hari. Karena itu, keberadaan warung makan dengan harga terjangkau bukan sekadar memberikan alternatif konsumsi, melainkan turut menjadi bagian dari cara mahasiswa bertahan secara finansial selama menjalani perkuliahan.

Di sekitar UIN SAIZU, keberadaan warung makan terjangkau menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas mahasiswa. Mamake dan Neni di Kampus 1 serta MJS di Kampus 2 menjadi beberapa contoh tempat makan yang menawarkan pilihan bagi mahasiswa dengan pertimbangan harga. Lokasi yang dekat dengan kampus dan harga yang relatif bersahabat membuat warung-warung tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengisi perut. Bagi sebagian mahasiswa, warung makan telah menjadi bagian dari rutinitas: tempat makan sebelum kuliah, mengisi tenaga setelah kegiatan kampus, atau sekadar menjadi persinggahan di sela-sela jadwal perkuliahan.

Jika dilihat lebih jauh, keberadaan warung makan di sekitar kampus memiliki peran yang melampaui urusan konsumsi. Ada hubungan ekonomi yang berlangsung setiap kali mahasiswa membeli sepiring nasi dan lauk. Mahasiswa memperoleh makanan dengan harga yang sesuai dengan kemampuan finansialnya, sedangkan pedagang memperoleh pendapatan untuk mempertahankan keberlangsungan usaha. Hubungan sederhana tersebut menunjukkan bahwa aktivitas mahasiswa di sekitar kampus juga ikut menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat. Dengan demikian, warung makan murah tidak semestinya dipandang hanya sebagai pelengkap kehidupan kampus, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang mempertemukan kebutuhan mahasiswa dengan mata pencaharian masyarakat sekitar.

(Potret salah satu warung makan favorit masyarakat dan mahasiswa di Purwokerto, warung makan Mba Neni. 
sumber: Pribadi)

Namun, persoalan makanan murah tidak berhenti pada pertanyaan mengenai mahal atau murah. Harga yang terjangkau tetap perlu dilihat bersama aspek kebersihan, kualitas bahan, porsi, serta kelayakan makanan untuk dikonsumsi. Jangan sampai keterbatasan daya beli membuat standar terhadap makanan ikut diturunkan. Mahasiswa memang membutuhkan makanan yang dapat dibeli dengan uang saku terbatas, tetapi kebutuhan tersebut tetap harus disertai hak untuk memperoleh makanan yang layak, bersih, dan cukup untuk menunjang aktivitas sepanjang hari. Murah seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kualitas.

Di sisi lain, istilah “murah” di kalangan mahasiswa sebenarnya bersifat relatif. Harga Rp15.000, misalnya, mungkin masih dianggap terjangkau bagi mahasiswa dengan uang saku yang cukup. Namun, nominal yang sama dapat terasa berat bagi mahasiswa dengan kondisi finansial yang lebih terbatas. Jika biaya tersebut dikeluarkan tiga kali sehari, pengeluaran makan dapat mencapai Rp45.000 per hari atau sekitar Rp1.350.000 dalam satu bulan. Jumlah tersebut belum memperhitungkan biaya transportasi, internet, kebutuhan tugas kuliah, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa makanan murah bukan berarti mahasiswa memiliki ruang finansial yang lebih luas. Sebaliknya, pilihan terhadap makanan berharga terjangkau sering kali menunjukkan adanya upaya untuk menyesuaikan kebutuhan dasar dengan kemampuan ekonomi. Bagi sebagian mahasiswa, menghemat beberapa ribu rupiah dari satu kali makan dapat berarti mempertahankan uang untuk kebutuhan lain yang tidak kalah penting. Di sinilah harga makanan menjadi lebih dari sekadar angka pada daftar menu. Harga dapat memengaruhi bagaimana mahasiswa menyusun prioritas dan bertahan hingga akhir bulan.

Pada akhirnya, persoalan makanan murah di sekitar kampus bukan hanya tentang nasi, lauk, dan nominal yang harus dibayarkan. Di balik sepiring makanan yang terjangkau terdapat persoalan mengenai daya beli mahasiswa, pemenuhan kebutuhan primer, hingga keberlangsungan ekonomi masyarakat di sekitar kampus. Warung makan yang tampak sederhana dapat memiliki arti penting bagi mahasiswa yang sedang berusaha menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan kemampuan finansial.

Sebelum mahasiswa dituntut untuk produktif di ruang kelas, aktif dalam organisasi, menyelesaikan berbagai tugas, dan mengejar prestasi, ada kebutuhan dasar yang tidak boleh luput dari perhatian: makan yang layak. Sebab, produktivitas tidak lahir dari ruang kosong. Ada tubuh yang membutuhkan energi dan ada kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Karena itu, makanan terjangkau di sekitar kampus bukan sekadar pilihan ekonomis, melainkan bagian kecil dari persoalan yang lebih besar tentang bagaimana mahasiswa memenuhi kebutuhan hidupnya sembari tetap bertahan dalam keterbatasan.

Penulis: Ahmad Zubair

Editor: Muhamad Saepul Saputra

 

Posting Komentar

0 Komentar