![]() |
| (mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di tengah jalan dengan membawa poster dan spanduk berisi tuntutan reformasi serta kritik terhadap kondisi pemerintahan. Dok. Lpm Obsesi) |
Purwokerto – Mahasiswa se-Banyumas raya Kembali menggelar aksi mimbar bebas untuk mempertanyakan kemerdekaan Indonesia setelah 81 tahun merdeka. Aksi mimbar bebas kali ini bertajuk “Menuntut Kemerdekaan Rakyat Indonesia: Turunkan Prabowo Gibran” pada Jumat, (21/08/26). Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) menjadi titik awal masa aksi sebelum menuju Alun-alun Purwokerto sebagai lokasi utama aksi.
Rian, koordinator lapangan aksi menjelaskan bahwa masyarakat belum dapat merasakan esensi kemerdekaan bahkan sampai perayaan kemerdekaan yang ke-81 tahun ini. Hal ini direpresentasikan dengan adanya pencekalan oleh aparatur negara dan pemerintah ketika berdemonstrasi dan mengutarakan pengkritisan terhadap kebijakan pemerintah.
“ketika kita melakukan apa ya, pengkritisan terhadap kebijakan pemerintah, yang dilakukan oleh pemerintah adalah represifitas, aparat diturunkan. Pikiran-pikiran kita dicekal, kita tidak boleh berdemonstrasi, kita tidak boleh apa ya, mengutarakan pendapat kita.” Ungkapnya.
Rian juga menambahkan hal-hal ini didukung melalui pelanggaran HAM dan pelanggaran-pelanggaran moral yang diimplementasikan pemerintah. Seperti ketika kawan-kawan kita terkena musibah di NTT, di Aceh yang belum selesai, dan di Kalimantan yang terbaru pemerintah malah berpesta pora di istana.
“Negara kita itu belum merdeka 100%. Lalu juga bisa kita lihat bahwa banyak pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah pada hari ini, bahkan pelanggaran-pelanggaran moral seperti banyak kawan-kawan kita, banyak saudara-saudara kita yang sedang terkena bencana di NTT, bahkan di Aceh ya belum selesai, bahkan yang terbaru di Kalimantan, itu mana peran pemerintah selain pesta pora di Istana gitu.” Tambah rian.
Dalam aksi tersebut Sampari selaku mahasiwa Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) sekaligus ketua umum himpunan mahasiwa Papua (himappa) menyampaikan kemerdekaan bukan hanya bebas secara simbolik, tetapi juga memiliki kebebasan dalam berbicara, memiliki rasa aman, serta memiliki Kesehatan dan pendidikan yang terjangkau.
![]() |
| (Massa berkumpul mengelilingi pembakaran ban sebagai bagian dari simbolisasi protes, sementara sejumlah peserta menyampaikan aspirasi menggunakan pengeras suara. Dok.Lpm Obsesi) |
Menurutnya, kemerdekaan untuk setiap daerah memiliki kesenjangan yang kuat terutama dalam hal perayaan. Karena ketika Ibu Kota merayakan kemerdekaan begitu megahnya, mereka yang di pulau tepian terutama Papua tidak terfikirkan hal tersebut karena sudah terdistraksi oleh hal lain seperti kebutuhan pokok yang langka, rawan bencana alam, dan BBM yang sulit sehingga susah untuk bermobilitas.
“Di luar Pulau Jawa, itu mau merayakan kemerdekaan aja susah. Mending mana? mau mikir makan dulu baru merayain, mau mikir bencana dulu, atau mau mikir rumah dulu yang terkena gempa, atau mau mikir bagaimana bisa makan besok. Itu aja susah, bagaimana mau mikir untuk ngerayain kemerdekaan. Jadi kayak rasa kemerdekaan itu ya dirayakan aja di Jawa karena ya di Jawa apa-apa gampang. Tapi di luar itu, bensin aja BBM aja susahnya minta ampun.” Tegas Sampari.
Rian juga menghimbau pemerintah untuk mendengar kritikan yang diberikan oleh mahasiswa dan masyarakat. Karena, esensinya kritikan dari para mahasiswa dan masyarakat tidak pernah destruktif dan sejatinya untuk negeri Indonesia.
Lalu Rian juga menyatakan bahwa para masyarakat yang suka mengkritik tidak suka dianggap sebagai musuh negara dan pemerintah masih menolak untuk melakukan perannya dalam melihat dan mendengar masyarakat. “sebenarnya kita bukan musuh dari negara, kita cinta negara ini makanya kita mengkritik negara ini gitu. Nah, mungkin itu peran yang harusnya pemerintah lakukan, tapi nyatanya sampai hari ini pemerintah belum bisa mendengar dan melihat rakyatnya 100%. Dalam artian pemerintah masih percaya dengan statistik-statistik bohongnya, pemerintah masih menganggap bahwa nyawa adalah ukuran persen dan segala macam.”
Apabila kita menarik garis mundur ke tahun 1998, kita bisa melihat yakni mahasiswa kembali mengambil perannya terhadap keadaan saat ini. Mahasiswa Kembali sadar terhadap isu-isu yang hadir melalui teknologi informasi yang kian berkembang.
Harapannya para mahasiswa dan masyarakat dapat meneruskan aksi ini dan berdampak ke masyarakat. “Ya, harapan dari saya dan juga mungkin kawan-kawan adalah kita bukan hanya melakukan aksi sekali, tapi ini aksi yang berkelanjutan dan berdampak untuk masyarakat. Kita di sini mencoba untuk mencerdaskan dan, kita membersamai masyarakat bahwa sebenarnya bagaimana keadaan pemerintah kita hari ini dan bersama-sama dengan masyarakat kita ingin menuntut keadilan, kita ingin menuntut kesetaraan, dan menuntut kebenaran.” Ujar Rian
Reporter: Ahmad Zubair, Alwa Shofwah, Renny Nurainy
Penulis: Ahmad Zubair
Editor: Alwa Shofwah


0 Komentar