![]() |
| (Pendistribusian 2.100 Paket Sembako pada Sembahyang King Ho Ping di Klenteng Boen Tek Bio Banyumas, Kamis, (10/10/2026). Dok: LPM Obsesi) |
Banyumas — Tempat Ibadah Tri Dharma
(T.I.T.D) Boen Tek Bio Banyumas menggelar Sembahyang King Ho Ping sekaligus
bakti sosial pada Kamis, (10/10/2026). Dalam kegiatan ini, panitia membagikan
2.100 paket sembako kepada warga di tiga kecamatan, di antaranya yakni
kecamatan Banyumas.
Humas Klenteng Boen Tek Bio, Sobita Nanda,
menjelaskan bahwa Sembahyang King Ho Ping yang di dunia internasional dikenal
sebagai Festival Ghost atau Bulan Hantu. Kemudian oleh masyarakat Jawa lebih
dikenal dengan sembahyang rebutan, yang jatuh pada bulan ketujuh penanggalan
Imlek atau dikenal dengan istilah King Huk Pen Chit Gwee.
"Pada saat Sembahyangan King Ho Ping/ Sembahyangan Cit Gwee( bulan 7 penanggalan Imlek) Ghost Festival ( Bulan Hantu), sesungguhnya adalah kita melakukan persembahyangan untuk arwah
umum, yang diartikan adalah arwah bukan dari garis leluhur atau keluarga,"
ujar Sobita.
Ia menambahkan, ritual ini ditujukan bagi arwah
yang tidak pernah didoakan keluarganya, termasuk mereka yang meninggal tanpa
diketahui keberadaannya, seperti di laut atau di hutan. Setelah
persembahyangan, umat memohon kepada Ti Tsang Wang Pu Sa, yang diyakini sebagai
penjaga pintu neraka, agar berkenan membuka jalan bagi arwah-arwah tersebut
menyeberang ke alam baka.
Sobita Nanda menambahkan, dalam tradisi Tionghoa
terdapat dua jenis persembahyangan arwah dalam setahun yakni, Sembahyang Ceng
Beng yang dilaksanakan setiap 4 atau 5 April. Ibadah ini difokuskan pada ziarah
serta kegiatan bersih kubur.
Kemudian terdapat Sembahyang King Huk Pen Chit Gwee
yang dilakukan di rumah maupun klenteng untuk mendoakan leluhur. Tradisi King
Huk Pen telah berjalan ribuan tahun di Tiongkok, sedangkan di Klenteng Boen Tek
Bio Banyumas sendiri telah dilaksanakan secara rutin selama kurang lebih 50 - 60
tahun.
Menurut Sobita Nanda, persiapan Sembahyang King Ho
Ping dilakukan sekitar satu setengah bulan sebelum pelaksanaan, mulai dari
pembuatan kertas sembahyang, pakaian leluhur dari lipatan kertas warna-warni,
bendera-bendera kertas, hingga penyajian duabelas macam sayur-mayur.
Ia menyebut bahwa ritual di Klenteng Boen Tek Bio
Banyumas telah terakulturasi dengan budaya kejawen, ditandai dengan di bawah
meja sembahyang terdapat sesaji khas Jawa seperti daun beringin, pohon padi
lengkap dari akar hingga buah, kayu bakar, arang, gogok atau ceret air dari
tanah, kendi, serta air Sungai Serayu yang dibalut kain kafan. Di atas meja
terdapat tembakau dengan kertas papir, kemenyan, serta perlengkapan kinang dan
kapur sirih.
Sementara sajian bercorak Tionghoa yang disajikan
antara lain ayam ingkung atau dalam istilah Tionghoa disebut dengan ayam o,
kepala babi, dan ikan gurami. Semuanya
memiliki makna filosofi yakni, melambangkan tiga alam air, udara, dan darat serta
nasi tumpeng dan tumpeng ketan wajik.
"Kita di sini bukan hanya menghormati leluhur atau nenek moyang yang berasal dari suku Tionghoa, tapi kita juga menghormati nenek moyang atau leluhur atau arwah dari orang daerah Banyumas," terang Sobita.
Selain ritual sembahyang, kegiatan ini juga diisi
dengan bakti sosial berupa pembagian sembako yang bersumber dari sumbangan
sukarela para donatur. Setiap paket berisi 5 kg beras, 1 liter minyak sayur,
dan satu bungkus mi kemasan besar.
Sobita Nanda menyebut total 2.100 paket dibagikan
kepada masyarakat di 15 desa yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan
Kalibagor, Kecamatan Banyumas, dan Kecamatan Somagede.
"Ritual-ritual persembahyangan seperti yang
kita saksikan pada hari ini adalah ritual budaya yang sesungguhnya menguji,
mengasah hati dan batin kita untuk bisa peduli kepada sesama umat Allah, baik
yang masih bisa kita sapa maupun yang berbentuk roh," ujarnya.
Kegiatan ini turut melibatkan relawan mahasiswa,
salah satunya Maria Mei, mahasiswa semester 3 Jurusan Ilmu Komputer Sekolah
Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Yos Sudarso. Ia mengaku dapat menyaksikan
langsung nilai persatuan melalui kegiatan tersebut, meski berasal dari kepercayaan
yang berbeda.
"Saya melihat bahwa persatuan itu nyata, mulai
dari kami bisa menyaksikan langsung sembahyang King Ho," ujar Maria.
Ia juga berpesan kepada sesama mahasiswa untuk
lebih bersyukur, karena kehidupan di luar lingkungan kampus dinilai lebih berat
dibandingkan yang biasa mereka lihat sehari-hari. Maria juga menyoroti masih
adanya sikap rasisme terkait agama dan perbedaan warna kulit di lingkungan
sekitarnya.
"Pentingnya edukasi untuk diri sendiri dan
lingkungan sekitar akan nilai toleransi, karena kita terlahir dari keluarga,
suku, agama, dan daerah yang berbeda, dan meyakinkan makna Bhinneka Tunggal Ika
itu nyata," pungkasnya.
Penulis: Muhammad Latif Aldiansyah
Reporter: Abdurrahman Al Labib, Dina Almas Aulia, Asmahan Rifa Salma
Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah


0 Komentar