![]() |
| (Jo March yang sedang menulis novelnya ditemani sebuah lilin. Sumber: Pinterest) |
“Women, they have minds, and they
have souls, as well as just hearts,” ucap Jo March dalam obrolannya bersama
sang Ibu. "And they've got ambition, and they've got talent, as well as
just beauty," lanjutnya sambil menahan gemuruh di dadanya.
Jo March merupakan salah satu
karakter dalam film Little Women (2019) dan dikenal sebagai tokoh yang
mendobrak norma sosial perempuan pada pertengahan abad ke-19. Perempuan pada
era tersebut dibebankan peran domestik yang diharapkan hanya berfokus pada
ranah rumah tangga sebagai istri yang patuh dan ibu yang baik dalam mengurus
keluarga sehingga karir dan pendidikan dikesampingkan.
Jo March yang diperankan oleh aktris
Saoirse Ronan, tidak setuju akan hal itu, ia menolak dengan tegas esensi
perempuan harus menikah. Menurutnya, menikah merenggut kebebasan perempuan dan
pernikahan hanya strategi ekonomi semata.
Jo March adalah putri kedua dari
keluarga March yang bercita-cita untuk menjadi penulis dan menerbitkan buku
novel miliknya sendiri. Naskah pertamanya mengalami penolakan dengan banyak
sekali coretan di setiap lembarnya karena karakter utama dalam bukunya tidak
berakhir menikah atau diceritakan meninggal seperti yang diinginkan penerbit
terkenal, Mr. Dashwood.
Demi mengejar mimpinya, Jo March
pindah dan bekerja di New York sebagai pengasuh anak sambil menulis cerita yang
akan dimuat di koran lokal untuk mendapatkan uang tambahan. Uang yang
didapatkan selama bekerja di New York menjadi penyokong utama finansial
keluarganya ketika sang ayah menjadi sukarelawan perang.
Jo March dengan senang hati
menanggung beban finansial keluarganya, hal tersebut murni karena pilihan moral
yang ditetapkannya sendiri. Di sana, Jo March bertemu laki-laki bernama
Friedrich Bhaer, ia adalah seorang profesor asal Jerman yang bekerja sebagai
guru atau tutor bahasa untuk anak-anak.
Dalam langkahnya menjadi seorang
penulis, ia bertekad untuk berhasil dengan caranya sendiri, bukan dengan
menikahi laki-laki kaya seperti yang banyak orang lakukan kala itu. Mimpinya
tersebut sering kali dipatahkan oleh bibinya yang mengatakan bahwa tidak
mungkin perempuan dapat sukses tanpa terlahir kaya atau menikahi seorang
laki-laki kaya, tapi Jo March yakin ia dapat membuktikan pada bibinya, ia dapat
berhasil di atas kakinya sendiri.
Perjalanan Jo March dalam meraih
mimpinya terbilang cukup mulus, sampai tetangga yang sekaligus sahabat dekatnya,
yaitu Laurie menyatakan perasaannya. Jo March jelas menolak kenyataan itu, ia
percaya hubungan keduanya murni hanya sebatas sahabat dekat dan saudara.
Sebaliknya, Laurie mengira bahwa Jo
March melakukan banyak hal menyenangkan dengannya karena Jo March mencintainya,
namun Jo March menegaskan apabila keduanya menikah, hubungan pernikahannya
tidak akan berakhir bahagia. Penolakan tersebut membuat Laurie memilih ikut
dengan kakeknya ke Eropa untuk menenangkan diri dari kesedihannya.
Selain mencintai mimpinya, Jo March
juga begitu mencintai keluarganya yang mendukung penuh mimpinya. Salah satu
adiknya, Beth, adalah orang yang sangat senang sekali membaca cerita
karangannya, dukungan Beth menjadi bahan bakar untuk semangat menulis Jo March
hingga akhirnya Beth meninggal dunia karena sakit yang diidapnya.
Kepergian Beth membuat Jo March
sangat terpukul sampai ia berhenti menulis untuk beberapa saat. Ingatan
bagaimana Beth begitu menyukai karya-karyanya terputar setiap ia menyendiri di
loteng rumah, hal itu berhasil membangkitkan kembali semangat menulis Jo March.
Setelah perjalanan panjang, berkat
dukungan keluarga dan ambisinya yang besar, Jo March berhasil menerbitkan buku
pertamanya yang berjudul “Little Women” dengan hak cipta berada pada
tangannya. Selanjutnya, Jo March mendirikan sekolah untuk anak-anak, baik
perempuan maupun laki-laki, di rumah bibinya yang telah diwariskan kepadanya
karena ia menganggap semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam ranah
pendidikan.
Kisah Jo March mencerminkan
perempuan masa kini yang berani menentukan mimpi dan pilihan hidupnya sendiri.
Di tengah ekspektasi masyarakat yang masih menuntut peran masing-masing gender,
Jo March dapat menjadi simbol perlawanan yang berarti.
Melalui kisah Jo march yang
menentang norma sosial terkait perempuan pada masa itu, perempuan tidak perlu
lagi ragu untuk menempatkan ambisi, bakat, dan pendidikan dalam daftar utama
hidup mereka. Setiap perempuan dapat berdaya di atas kaki mereka sendiri
melalui kemandirian finansial, akses pendidikan yang setara, dan kebebasan
dalam mengambil keputusan apapun yang menyangkut kehidupan mereka tanpa
bayang-bayang norma sosial.
Jo March adalah sosok eksistensialis
nyata, ia mencoba untuk mendefinisikan dirinya melalui tindakan, seperti
menulis, bekerja, dan menolak Hipergami. Di era yang semakin modern, Jo
March seperti terlahir kembali, perempuan sudah tidak lagi mengikuti norma
sosial mentah-mentah, tetapi mulai untuk memilih menjalani hidup sesuai dengan
yang disukainya.
Jalan hidup Jo March dan realita perempuan
saat ini menekankan bahwa setiap manusia, termasuk perempuan, dapat bertanggung
jawab penuh untuk menciptakan makna hidupnya sendiri. Perempuan dapat
membuktikan bahwa esensi dirinya tidak ditentukan oleh norma sosial, melainkan
dengan keberanian untuk menjadi inspirasi.
Penulis: Khaila Denisa Achmadi

0 Komentar