Ticker

6/recent/ticker-posts

Di Balik Rutinitas Squidward yang Bikin Relate, Marx dan Sartre Diam-Diam Hadir

 

(Ilustrasi Squidward sedang bekerja di Krusty Krab, Sumber: Pinterst)

Dulu waktu kecil, tiap nonton film kartun SpongeBob SquarePants, kita selalu ketawa sama tingkahnya SpongeBob dan Patrick, sementara Squidward ini menjadi karakter yang menyebalkan dan malah buat kita kurang suka karena kehidupannya yang kelihatan kurang seru. Tapi ya wajar, karena waktu kecil kita nggak ngerti apa-apa dan nontonnya cuma buat hiburan aja.

Giliran udah dewasa dan nonton lagi, kok tiba-tiba saya jadi merasa relate  sama kehidupannya Squidward. Rutinitasnya persis kayak yang saya jalani sekarang yaitu bangun tidur, kerja dan kuliah, pulang, tidur, terus besoknya diulang lagi dari awal, muter disitu-situ aja, seperti benar-benar terjebak di situasi itu. Dan semakin dewasa kita, makin merasakan juga betapa relate-nya rutinitas ini sama hidup kita sendiri.

Squidward yang Terjebak di Krusty Krab

Squidward ini bekerja sebagai kasir di Krusty Krab dan tugasnya yaitu melayani pelanggan terus-menerus. Pemilik Krusty Krab ini adalah Tuan Krabs, sosok yang sebenarnya tidak terlalu peduli sama karyawannya kecuali dengan keuntungannya saja. Nah, menurut Karl Marx, posisi Tuan Krabs ini disebut sebagai borjouis atau si pemilik modal, sedangkan posisi Squidward ialah sebagai proletar yaitu pekerja yang tenaganya “dibeli” hanya untuk menghasilkan keuntungan buat orang lain. Gambaran ini tuh membuat saya berkaca pada diri sendiri. Sebenarnya, berapa banyak dari kita yang berada di posisi yang sama seperti Squidward, bekerja demi bertahan hidup, bukan karena passion.

Kalau kita lihat kehidupannya Squidward ini persis sama dengan apa yang dijelaskan oleh Marx, bahwa ketika bekerja itu bukan lagi soal mengembangkan dirinya, tetapi hanya untuk bertahan hidup, yang perlahan dirinya mulai terasingkan dari pekerjaannya dan bahkan dengan potensi dirinya sendiri. Sebenarnya, ini yang kita rasakan ketika beranjak dewasa. Di mana kita sadar kalau pekerjaan itu untuk bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi yang terus memaksa kita untuk tetap produktif, bukan lagi soal mengejar apa yang benar-benar kita suka. Dan tanpa disadari juga, kita pun ikut terseret ke dalam rutinitas yang sama, hari demi hari, sampai lupa bahwa dalam kehidupan, kita bisa punya makna lain bukan sekedar mencari nafkah saja.

Mirisnya juga, Squidward ini sebenarnya mempunyai passion yang besar dengan klarinet dan lukisan. Tetapi warga Bikini Bottom hanya memandang rendah karyanyasetiap orang juga memiliki “klarinet” dan “lukisan” versi kita sendiri, hal yang dulu benar-benar kita sukai, tapi perlahan tersingkirkan karena dianggap kurang menguntungkan. Hal ini terjadi karena lingkungan di sekitar seringkali hanya menghargai sesuatu yang bisa menghasilkan uang atau punya manfaatnya langsung. Sementara itu, minat atau bakat yang sebenarnya kita miliki ini dianggap tidak penting karena tidak menghasilkan apa-apa. Situasi ini terjadi sama seperti yang dialami Squidward, dimana kita terjebak di situasi yang sama, tanpa benar-benar menemukan jalan keluar menuju kehidupan yang sesuai dengan apa yang sebenarnya kita inginkan. Kehidupan Squidward inilah yang menjadi gambaran nyata tentang keterjebakan struktural seperti yang dimaksud Marx.

(Ilustrasi Squidward sedang bermain klarinet di rumahnya dan terlihat sebuah lukisan. Sumber: Pinterest)

Squidward ini juga sebenarnya merasakan kenyamanan bekerja di Krusty Krab, bukan hanya karena merasa terjebak tanpa adanya jalan keluar. Terdapat alasan lain yaitu rasa malas Squidward untuk benar-benar keluar zona nyamannya dan mencoba hal baru. Hal ini sesuai sama pandangan Sartre yaitu Bad Faith, dimana sebenarnya dia bebas menentukan nasibnya sendiri, tapi memilih untuk diam di tempat, lalu seakan-akan membuat hal itu bukan keputusannya sendiri, melainkan sesuatu yang dipaksakan oleh keadaan di sekitarnya.

Mungkin Squidward juga sadar bahwa dia bisa saja mengundurkan diri dari Krusty Krab kapanpun dia mau. Tapi menerima kenyataan itu berarti dia juga harus siap menanggung akibatnya, seandainya usahanya itu bisa saja berujung gagal. Dan banyak dari kita menganggap ketakutan akan kegagalan itu terasa jauh lebih berat dibanding hanya bertahan sambil terus mengeluh dalam rutinitas yang sama. Mungkin kita juga sering melakukan hal yang sama seperti Squidward. Kita tahu ada peluang untuk berubah, untuk mencoba sesuatu yang baru, atau bahkan berhenti dari hal yang sudah lama tidak lagi membuat kita bahagia dalam menjalaninya. Namun, kita lebih sering memilih untuk diam dan meyakinkan diri sendiri bahwa tidak punya pilihan lagi, padahal sebenarnya kita tahu itu bukanlah kenyataannya. Sebab, mengakui bahwa kita bebas memilih berarti kita harus berani menanggung akibat dari pilihan itu, entah kegagalan, kekecewaan, atau harus memulai semuanya dari awal. Oleh karena itulah kita pun terus bertahan dalam ilusi ini, karena rasanya jauh lebih ringan menyalahkan keadaan, daripada mengakui bahwa sebagian dari keterjebakan ini berasal dari keputusan yang kita ambil sendiri.

Pada akhirnya, Squidward ini bukan hanya tentang seekor gurita yang malang di dasar laut, tapi tentang kita semua, yang diam-diam sedang mempertanyakan seberapa jujur kita pada diri sendiri soal pilihan hidup yang selama ini kita jalani. Ketika rutinitas mulai terasa melelahkan dan kita mulai merasa terjebak, mungkin ini saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita memang tidak memiliki pilihan, atau kita hanya terlalu takut mengambil risiko untuk keluar dari “Krusty Krab” versi kehidupan kita masing-masing?

Penulis: Zahra Sarifah Ainun

Editor: Alwa Shofwah

 

Posting Komentar

0 Komentar