![]() |
| (Ilustrasi Squidward sedang bekerja di Krusty Krab, Sumber: Pinterst) |
Dulu waktu kecil, tiap nonton film
kartun SpongeBob SquarePants, kita selalu ketawa sama tingkahnya SpongeBob dan
Patrick, sementara Squidward ini menjadi karakter yang menyebalkan dan malah
buat kita kurang suka karena kehidupannya yang kelihatan kurang seru. Tapi ya
wajar, karena waktu kecil kita nggak ngerti apa-apa dan nontonnya cuma buat
hiburan aja.
Giliran udah dewasa dan nonton lagi, kok tiba-tiba saya jadi merasa relate sama kehidupannya Squidward. Rutinitasnya persis kayak yang saya jalani sekarang yaitu bangun tidur, kerja dan kuliah, pulang, tidur, terus besoknya diulang lagi dari awal, muter disitu-situ aja, seperti benar-benar terjebak di situasi itu. Dan semakin dewasa kita, makin merasakan juga betapa relate-nya rutinitas ini sama hidup kita sendiri.
Squidward yang Terjebak di Krusty
Krab
Squidward ini bekerja sebagai kasir
di Krusty Krab dan tugasnya yaitu melayani pelanggan terus-menerus. Pemilik
Krusty Krab ini adalah Tuan Krabs, sosok yang sebenarnya tidak terlalu peduli
sama karyawannya kecuali dengan keuntungannya saja. Nah, menurut Karl Marx,
posisi Tuan Krabs ini disebut sebagai borjouis atau si pemilik modal, sedangkan
posisi Squidward ialah sebagai proletar yaitu pekerja yang tenaganya “dibeli”
hanya untuk menghasilkan keuntungan buat orang lain. Gambaran ini tuh membuat saya berkaca pada diri sendiri.
Sebenarnya, berapa banyak dari kita yang berada di posisi yang sama seperti
Squidward, bekerja demi bertahan hidup, bukan karena passion.
Kalau kita lihat kehidupannya Squidward
ini persis sama dengan apa yang dijelaskan oleh Marx, bahwa ketika bekerja itu
bukan lagi soal mengembangkan dirinya, tetapi hanya untuk bertahan hidup, yang
perlahan dirinya mulai terasingkan dari pekerjaannya dan bahkan dengan potensi
dirinya sendiri. Sebenarnya, ini yang kita rasakan ketika beranjak dewasa. Di mana
kita sadar kalau pekerjaan itu untuk bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi
yang terus memaksa kita untuk tetap produktif, bukan lagi soal mengejar apa
yang benar-benar kita suka. Dan tanpa disadari juga, kita pun ikut terseret ke
dalam rutinitas yang sama, hari demi hari, sampai lupa bahwa dalam kehidupan,
kita bisa punya makna lain bukan sekedar mencari nafkah saja.
Mirisnya juga, Squidward ini
sebenarnya mempunyai
passion
yang besar dengan klarinet dan lukisan. Tetapi warga Bikini Bottom hanya
memandang rendah karyanyasetiap orang juga memiliki “klarinet” dan “lukisan”
versi kita sendiri, hal yang dulu benar-benar kita sukai, tapi perlahan
tersingkirkan karena dianggap kurang menguntungkan. Hal ini terjadi karena
lingkungan di sekitar
seringkali hanya menghargai sesuatu yang bisa menghasilkan uang atau punya
manfaatnya langsung. Sementara itu, minat atau bakat yang sebenarnya kita
miliki ini dianggap tidak penting karena tidak menghasilkan apa-apa. Situasi
ini terjadi sama seperti yang dialami Squidward, dimana kita terjebak di
situasi yang sama, tanpa benar-benar menemukan jalan keluar menuju kehidupan
yang sesuai dengan apa yang sebenarnya kita inginkan. Kehidupan Squidward
inilah yang menjadi gambaran nyata tentang keterjebakan struktural seperti yang
dimaksud Marx.
![]() |
| (Ilustrasi Squidward sedang bermain klarinet di rumahnya dan terlihat sebuah lukisan. Sumber: Pinterest) |
Squidward ini juga sebenarnya merasakan
kenyamanan bekerja di Krusty Krab, bukan hanya karena merasa terjebak tanpa
adanya jalan keluar. Terdapat alasan lain yaitu rasa malas Squidward untuk
benar-benar keluar zona nyamannya dan mencoba hal baru. Hal ini sesuai sama pandangan
Sartre yaitu Bad Faith, dimana sebenarnya dia bebas menentukan nasibnya
sendiri, tapi memilih untuk diam di tempat, lalu seakan-akan membuat hal itu
bukan keputusannya sendiri, melainkan sesuatu yang dipaksakan oleh keadaan di
sekitarnya.
Mungkin Squidward juga sadar bahwa
dia bisa saja mengundurkan diri dari Krusty Krab kapanpun dia mau. Tapi menerima kenyataan
itu berarti dia juga harus siap menanggung akibatnya, seandainya usahanya itu
bisa saja berujung gagal. Dan banyak dari kita menganggap ketakutan akan
kegagalan itu terasa jauh lebih berat dibanding hanya bertahan sambil terus
mengeluh dalam rutinitas yang sama. Mungkin kita juga sering melakukan hal yang
sama seperti Squidward. Kita tahu ada peluang untuk berubah, untuk mencoba
sesuatu yang baru, atau bahkan berhenti dari hal yang sudah lama tidak lagi
membuat kita bahagia dalam menjalaninya. Namun, kita lebih sering memilih untuk
diam dan meyakinkan diri sendiri bahwa tidak punya pilihan lagi, padahal
sebenarnya kita tahu itu bukanlah kenyataannya. Sebab, mengakui bahwa kita
bebas memilih berarti kita harus berani menanggung akibat dari pilihan itu,
entah kegagalan, kekecewaan, atau harus memulai semuanya dari awal. Oleh karena
itulah kita pun terus bertahan dalam ilusi ini, karena rasanya jauh lebih
ringan menyalahkan keadaan, daripada mengakui bahwa sebagian dari keterjebakan
ini berasal dari keputusan yang kita ambil sendiri.
Pada akhirnya, Squidward ini bukan hanya
tentang seekor gurita yang malang di dasar laut, tapi tentang kita semua, yang
diam-diam sedang mempertanyakan seberapa jujur kita pada diri sendiri soal
pilihan hidup yang selama ini kita jalani. Ketika rutinitas mulai terasa
melelahkan dan kita mulai merasa terjebak, mungkin ini saat yang tepat untuk
berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita memang tidak
memiliki pilihan, atau kita hanya terlalu takut mengambil risiko untuk keluar
dari “Krusty Krab” versi kehidupan kita masing-masing?
Penulis: Zahra Sarifah Ainun
Editor: Alwa
Shofwah


0 Komentar