Ticker

6/recent/ticker-posts

Merawat Bahasa Indonesia dan Gagasan pada Karya Tulis Ilmiah dengan Filsafat Hermeneutika

 

Ilustrasi seorang penulis karya tulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang jelas dan sesuai kaidah Bahasa Indonesia agar gagasan pada tulisannya dapat terus dimaknai dan dipahami oleh pembaca, meskipun sudah melewati waktu yang panjang. Sumber: Pinterest)

Seiring pesatnya digitalisasi yang membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, dan berkarya, pesan singkat dan media sosial menghadirkan budaya menulis yang serba cepat. Kata-kata yang menyusun sebuah tulisan perlahan dipangkas dan diubah demi efisiensi komunikasi.

Tanpa disadari, kebiasaan percakapan instan di ruang obrolan perlahan ikut terbawa ke ranah akademis dan tulisan ilmiah kita. Sering kali kita membaca karya tulis ilmiah dan mendapati kata yang tidak baku, bahkan disingkat dari “yang” menjadi “yg”, “laki-laki” menjadi “laki2”, atau “dengan” menjadi “dgn” di dalamnya. Tak hanya itu, kita juga mungkin menemukan konjungsi “namun” terselip canggung di tengah atau “sedangkan” terketik aman di awal kalimat sehingga terdapat tanda baca yang diabaikan.

Singkatan dan kelonggaran tata bahasa memang diciptakan untuk membantu kepraktisan komunikasi sehari-hari. Di dalam pesan instan, salah menggunakan kata baku atau menaruh konjungsi mungkin jarang menjadi masalah karena kita dibantu oleh intonasi dan kedekatan personal. Namun, mengapa batas antara bahasa percakapan dan bahasa kepenulisan ilmiah lambat laun menjadi semakin kabur?

Membaca Membuat Kita Menulis

Fenomena bergesernya kebiasaan menulis erat kaitannya dengan tantangan literasi kita sekarang. Menulis pada hakikatnya tidak hanya merangkai kata, tetapi juga ada ikatan yang tidak bisa terputus di dalam prosesnya, yaitu ikatan dengan rutinitas membaca. Membaca memiliki peran penting dalam membangun kepekaan terhadap pilihan diksi, struktur kalimat, penggunaan tanda baca, dan hubungan antargagasan. 

Kita tidak dapat menulis dengan baik tanpa banyak membaca. Sedikitnya kebiasaan membaca membuat kita asing dengan ritme, keindahan, dan kaidah bahasa yang benar. Padahal, melalui aktivitas membaca, kita menyerap bagaimana sebuah kalimat formal tersusun secara logis. Tanpa fondasi yang kuat, kita cenderung menulis dengan serapan bahasa ketikan sehari-hari yang biasa digunakan di media sosial, lalu mengimplementasikannya ke dalam karya tulis ilmiah.

Tanggung Jawab untuk Menjaga Makna dengan Hermeneutika

Filsuf Hans-Georg Gadamer pernah menawarkan disiplin hermeneutika, sebuah konsep tentang memahami teks yang di dalamnya terkenal istilah fusion of horizons atau “peleburan cakrawala”. Menurutnya, sebuah tulisan adalah jembatan yang mempertemukan dunia penulis dan dunia pembaca. Dalam proses ini, makna ditemukan dan dibentuk melalui perjalanan dari masa lalu ke masa kini. 

Proses pemaknaan tidak dapat dijamin dengan penggunaan bahasa yang praktis untuk menulis pada masa kini. Hal itu terjadi karena kita belum dapat memastikan apakah kepraktisan tersebut akan tetap relevan atau tidak pada masa depan. Dengan demikian, menulis karya ilmiah bukan hanya menumpahkan gagasan luar biasa, melainkan juga tentang bagaimana menyampaikan gagasan tersebut agar pesannya dapat diterima secara utuh dan mendalam oleh orang lain, sekalipun ketika harus melampaui masa.

Menjaga makna yang diniati penulis adalah tanggung jawab penulis itu sendiri. Ada makna kata yang sungguh-sungguh dan bersifat tetap di kamus yang harus kita lestarikan di dalam tulisan. Ada pula hubungan antarkata yang perlu kita pelihara keselarasan dan kesejajarannya.

Gagasan yang cemerlang bisa kehilangan sinarnya jika dikemas dalam bahasa yang tidak tertata. Ketika teks formal tersusun atas kata tidak baku, singkatan personal, atau struktur yang rancu, jembatan komunikasi tersebut dapat retak. Pembaca akan terpaksa untuk berhenti sejenak, tidak untuk merenungkan ide besar kita, tetapi untuk menebak-nebak makna atau mengulang-ulang bacaan demi memahami apa yang kita maksud. Ruang dialog pun menjadi terhambat karena kepraktisan sesaat.

 (Ilustrasi seseorang mengetik menggunakan laptop atau gadget yang saat ini membuat seseorang lebih cepat dalam menulis atau menyampaikan gagasannya, terutama dalam karya ilmiah. Sumber: Pinterest)


Ada Nilai Etika dan Estetika yang Teguh pada Tulisan

Jika ditinjau dari sudut pandang yang lebih luas mengenai filsafat nilai, sesungguhnya mengimplementasikan bahasa baku merupakan bentuk dasar etika dan estetika ilmiah. Menulis dengan struktur yang benar adalah wujud penghormatan tertinggi penulis kepada pembaca sebagai mitra dialog. Jadi, kepraktisan dalam menulis dan berbahasa pada percakapan sehari-hari yang secara objektif kita lihat dan dengar, tidak seharusnya dengan mudah diserap ke dalam kepenulisan dan kebahasaan karya tulis ilmiah yang normatif. 

Menulis karya ilmiah bukan hanya memindahkan informasi ke dalam bentuk teks. Terdapat nilai-nilai ketelitian, tanggung jawab intelektual, dan kedisiplinan berpikir yang dihadirkan oleh penulis. Oleh karena itu, kaidah bahasa tidak semata-mata dipahami sebagai seperangkat aturan administratif, tetapi juga sebagai sarana untuk menjaga nilai-nilai tersebut tetap hidup dalam sebuah tulisan.

Jika Bahasa Adalah Rumah dan Gagasan Merupakan Isinya

Pada akhirnya, meningkatkan kualitas tulisan tidak hanya berarti mengingat kembali aturan ejaan atau memperbaiki penggunaan konjungsi. Yang lebih penting adalah mengembalikan kesadaran bahwa menulis merupakan proses intelektual sekaligus proses etis. Setiap kata yang dipilih, setiap kalimat yang disusun, dan setiap revisi yang dilakukan merupakan wujud tanggung jawab penulis terhadap makna yang ingin disampaikan. 

Ketika tulisan disusun dengan cermat, penulis bukan hanya menghasilkan teks yang sesuai kaidah, melainkan juga merawat nilai-nilai yang menjadikan bahasa sebagai ruang berbagi pengetahuan. Bagi saya, bahasa adalah rumah yang menjadi tempat lahirnya pemahaman terhadap gagasan. Jika kita memelihara isi pikiran kita dengan gagasan yang baik, sudah seharusnya kita merawat rumahnya dengan bahasa yang bermartabat. 

Barangkali, dengan kembali memeluk kerapian bahasa, kita sedang memastikan bahwa ide dan makna hebat pada tulisan kita mampu melintasi waktu dengan selamat. 


Penulis: Fatih Asyrafil Qalbina

Editor : Alwa Shofwah 




Posting Komentar

0 Komentar