Ticker

6/recent/ticker-posts

Mengapa Korban Kekerasan Seksual Masih Disalahkan?


(Ilustrasi perundungan verbal yang menggambarkan dampak tekanan, hinaan, dan intimidasi terhadap kesehatan mental, hingga memicu rasa takut dan kehilangan percaya diri. Sumber: Pinterest)

Belakangan ini, kasus kekerasan seksual makin marak kita dengar. Namun, hal yang paling menyedihkan bagi saya adalah banyak orang lebih sibuk membicarakan tentang pakaian korban daripada tindakan pelaku. Pernyataan seperti “pantes, orang bajunya aja kayak gitu”, “lagian bajunya terbuka sih” seolah menjadi hal yang biasa di masyarakat. Padahal di samping itu, banyak korban kekerasan adalah wanita berhijab tertutup, bahkan anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa pakaian bukanlah penyebab utama terjadinya kekerasan. Menurut hasil survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) tahun 2018 yang dilansir oleh djkn.kemenkeu.id, mayoritas korban pelecehan seksual justru mengenakan pakaian tertutup seperti baju lengan panjang, pakaian longgar, seragam sekolah, hingga hijab. Data tersebut membuktikan bahwa tindak kekerasan seksual tidak berdasar pada pakaian korban, melainkan pada tindakan pelaku itu sendiri. 

Menurut saya, pemilihan pakaian adalah hak dari masing-masing individu. Tidak ada pakaian yang dapat digunakan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan seksual. Apa pun pakaian seseorang, tubuh mereka harus dihormati. Jika ada yang mengatakan perempuan harus menjaga diri mereka, lantas mengapa laki-laki tidak menjaga perilaku mereka? Manusia diberi akal untuk berpikir. 

Menjadi korban kekerasan bukanlah suatu hal yang bisa dianggap remeh. Korban ketakutan, bahkan trauma, dan mengalami kesulitan dalam menceritakan hal yang mereka alami. Ketika publik justru menyalahkan apa yang mereka pakai. Rasa sakitnya bertambah berkali-kali lipat. Korban yang seharusnya mendapatkan dukungan justru mendapatkan banyak penghakiman dari orang-orang di sekitar mereka. Sangat tidak adil ketika korban yang trauma diminta bertanggung jawab atas tindakan orang lain. Fokus seharusnya ada pada pelaku, bukan korbannya.

Victim blaming atau menyalahkan korban atas apa yang telah dialaminya, justru akan memperparah keadaan. Banyak korban memilih diam karena takut tidak dipercaya lagi atau dipermalukan oleh orang di sekitarnya. Mereka merasa bahwa menceritakan apa yang dialaminya pun, orang-orang hanya akan mempertanyakan apa yang mereka pakai atau lakukan, sehingga kekerasan tersebut terjadi, bukan tindakan pelaku. Alhasil, mereka lebih memilih diam dan memendam apa yang mereka rasakan alih-alih menceritakannya. Ini sangat berbahaya bagi mereka karena pelaku merasa aman melakukan kekerasan dan berpotensi mengulangi perbuatannya. 

(Pakaian Korban kekerasan seksual. Sumber: Inews.id) 

Di samping itu, kebiasaan menyalahkan korban membuat masyarakat menjadi “menormalisasi” tindakan kekerasan seksual berdasarkan standar tertentu. Padahal, tak ada satu pun manusia yang layak mendapatkan kekerasan dan pelecehan seksual. Pada saat masyarakat terus mencari kesalahan korban, justru di situ pelaku kehilangan sorotan sehingga merasa aman dan melepaskan tanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat terhadap korban. Hal tersebut dapat membuat pelaku merasa tindakanya adalah sesuatu yang wajar dilakukan, bahkan dianggap sebagai konsekuensi dari tindakan korban. Padahal yang salah tetaplah pelaku tindakan kekerasan seksual.

Menurut pandangan saya, masyarakat harus lebih berempati terhadap korban kekerasan seksual. Kita mungkin tidak akan pernah tahu seberapa besar trauma yang mereka alami. Namun, bagi sebagian besar korban, menceritakan hal yang telah mereka alami harus memerlukan keberanian yang besar. Karenanya, hal pertama yang dapat kita berikan kepada korban adalah rasa aman dan dukungan yang kuat untuk menghadapi apa yang telah mereka alami. Bukan malah penghakiman yang bertubi-tubi. Memberikan kalimat sederhana seperti “itu bukan salah kamu” atau “terima kasih sudah mau bercerita” mungkin adalah kalimat yang terdengar sepele bagi kita. Namun, bagi mereka itu bagaikan lilin di tengah kegelapan. 

Selain berempati, pendidikan mengenai menghargai tubuh orang lain menjadi fondasi penting yang ditanamkan oleh para orang tua kepada anak-anak mereka. Banyak anak yang tumbuh di lingkungan yang menormalisasi candaan seksual, berkomentar atas tubuh orang lain, dan melakukan tindakan yang merendahkan perempuan. Hal tersebut masih dianggap sepele, namun berdampak besar terhadap cara pandang mereka terhadap orang lain. Jadi, mulailah mendidik anak laki-laki kita untuk menjaga perilaku mereka agar menghormati perempuan. Tidak hanya perempuan saja yang dididik untuk menjaga pakaian mereka. Karena menjaga perilaku dan menghormati batasan orang lain jauh lebih penting daripada sibuk mengatur pakaian seseorang.

Pada intinya, kekerasan seksual tidak bisa dibenarkan atas alasan apa pun dan terhadap siapa pun. Baik korbannya perempuan maupun laki-laki, tindakan tersebut tetap tidak dapat dibenarkan. Menghakimi apa yang telah mereka alami justru dapat membuat luka yang mereka rasakan lebih besar. Sudah saatnya masyarakat sadar dan berhenti mempertanyakan pakaian korban, serta mulai berfokus pada tindakan pelaku yang sejatinya merupakan kesalahan. Karena yang harus dibenahi bukan cara berpakaian seseorang, tetapi cara orang berpikir dan bertindak bahwa mereka tidak memiliki hak untuk melecehkan orang lain. 

Penulis: Alifia Syifaunnabila

Editor: Novandi Ali Akbar, Muhamad Saepul Saputra


Posting Komentar

0 Komentar