![]() |
| (Salah satu mahasiswa berprestasi UIN Saizu, Septi Rahmadani, dengan berbagai torehan termasuk penghargaan Mahasiswa Award UIN Saizu 2025) |
Tidak
semua orang yang berdiri percaya diri di atas panggung lahir dengan keberanian
yang sama besarnya. Ada kalanya seseorang terlihat tenang saat berbicara di
depan banyak orang, padahal pernah dihantui rasa takut, gugup, bahkan keraguan
terhadap dirinya sendiri. Begitulah perjalanan yang pernah dialami Septi
Rahmadani, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) 2024 UIN
Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Hari
ini, namanya harum melalui tapak prestasi yang berhasil ia raih. Mulai dari
Juara 1 Storytelling UIN Saizu 2025, Juara 3 Miss Beauty Daerah Istimewa
Yogyakarta 2025, Juara 1 Miss Beauty Indonesia Intelligensia 2025, Duta
Komunikasi dan Edukasi Bank Indonesia Jawa Tengah 2025, hingga Duta Pembicara
Muda Indonesia 2026.
Namun
baginya, perjalanan menuju titik tersebut tidak pernah sesederhana daftar
prestasi yang tertulis di atas kertas. Menurutnya musuh terbesar sebenarnya
bukan orang lain, tapi diri kita sendiri.
Kalimat
itu bukan sekadar motivasi yang sering terdengar di media sosial. Bagi Septi,
kalimat tersebut lahir dari pengalaman yang benar-benar ia rasakan selama
berproses. Ada masa ketika ia terlalu
sibuk memikirkan penilaian orang lain. Ia merasa harus selalu berhasil, selalu
tampil baik, dan tidak boleh melakukan kesalahan. Tekanan itu perlahan menjadi
beban yang tidak terlihat oleh siapa pun.
"Kadang
ada ekspektasi yang tinggi dari lingkungan sekitar. Aku sempat merasa harus
tampil sempurna," kenangnya.
Tetapi
semakin banyak pengalaman yang dijalani, semakin pula ia memahami bahwa
kesempurnaan bukanlah tujuan utama. Ia mulai belajar menerima dirinya sebagai
manusia yang bisa lelah, bisa gagal, dan masih terus belajar.
Kesadaran
itu menjadi titik balik dalam hidupnya, alih-alih mengejar pengakuan, Septi
memilih untuk menikmati proses. Ia tidak lagi terlalu fokus pada bagaimana
orang lain melihat dirinya, tetapi lebih fokus pada bagaimana dirinya berkembang
setiap hari. Prinsip tersebut yang membawanya terus melangkah hingga mengikuti
ajang Duta Pembicara Muda Indonesia 2026.
Kompetisi
yang berlangsung selama beberapa bulan itu mempertemukannya dengan
peserta-peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Tahapan seleksi yang harus
dilalui tidaklah mudah, mulai dari tes tertulis, wawancara, hingga tes pidato
yang menguji kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri peserta. Bagi Septi,
tantangan terbesar bukan hanya soal materi atau kemampuan berbicara, tetapi
bagaimana mengendalikan dirinya sendiri saat berada di bawah tekanan.
![]() |
| (Septi Rahmadani, finalis Miss Hijab Jawa Tengah perwakilan asal Banyumas sekaligus mahasiswi KPI UIN Saizu Purwokerto) |
Ia
mempersiapkan diri dengan memperbanyak latihan public speaking, memperluas
wawasan komunikasi, dan membangun mental yang lebih kuat. Semua proses itu
akhirnya berbuah manis ketika namanya diumumkan sebagai Duta Pembicara Muda
Indonesia 2026.
Ketertarikan
Septi terhadap Duta tidak datang begitu saja, namun lekat kaitannya dengan
pribadi sebagai mahasiswa KPI, ia merasa bidang yang dipelajarinya sangat dekat
dengan aktivitas yang selama ini ditekuni. Public speaking, komunikasi
interpersonal, hingga kemampuan menyampaikan pesan kepada publik menjadi bekal
yang membantunya berkembang di berbagai kesempatan.
Namun
lebih dari sekadar prestasi pribadi, Septi memiliki mimpi yang lebih besar. Ia
ingin melihat semakin banyak perempuan yang berani menunjukkan potensi dirinya.
Menurutnya, masih banyak perempuan yang sebenarnya memiliki kemampuan luar
biasa, tetapi ragu untuk tampil karena takut dinilai, takut salah, atau merasa
tidak cukup baik.
Karena
itulah ia membawa semangat "Women Support Women" dalam setiap
langkahnya. Perempuan tidak harus menunggu sempurna untuk mulai melangkah.
Keberanian justru tumbuh ketika seseorang bersedia mencoba meski masih merasa
takut.
"Aku
ingin menularkan kepada banyak orang bahwa perempuan juga bisa berkembang, bisa
tampil di depan umum, dan bisa menjadi pemimpin," ucapnya.
Melalui
berbagai kegiatan edukasi, seminar, dan public speaking yang akan terus ia
jalankan ke depan, Septi berharap dapat menjadi salah satu suara yang mendorong
perempuan muda Indonesia untuk lebih percaya pada dirinya sendiri. Sebab pada
akhirnya, setiap prestasi bukan hanya tentang piala atau gelar yang berhasil
diraih. Prestasi adalah tentang keberanian untuk terus berjalan ketika rasa
ragu datang menghampiri.
Penulis:
Tolhah Ahmad
Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah


0 Komentar