Pagi Waktu Indonesia Barat (WIB), pada pukul 4 subuh Arif seperti biasa melakukan aktivitas sehari harinya. Pemilik usaha warung makan yang sedang berbelanja menelusuri lorong lorong pasar yang riuh akan banyaknya khalayak di tempat tersebut. Deru suara penjual dan pembeli yang bersahutan, riuhnya suara klakson silih berganti, pluit dari tukang parkir, bahkan tak luput gosip antar sesama pedagang membuat pasar hidup seperti hari-hari biasanya.
Namun bagi para pelaku usaha, ada satu hal yang membuat hari ini berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, yaitu harga komoditas bagi para pelaku usaha yang kian melambung tinggi bak roket yang langsung meluncur ke ruang angkasa. Harga komoditas yang biasanya ia beli dengan harga tanpa merogoh kocek terlalu dalam, sekarang benar benar merangkak naik tanpa jeda.
Mulai dari bahan baku untuk penjualan, bahan untuk pendukung usaha, bahkan untuk salah satu komoditas yang dirasa dulu harganya sangat terjangkau, namun sekarang bak diterkam dari segala ketakutan yaitu plastik yang harga nya sudah tak masuk akal. Kenaikan yang dirasa tiba-tiba ini seolah datang dan menghantui para pelaku usaha. Bukan saja Arif yang bergelut dibidang usaha makanan, namun hampir semua pelaku usaha sedang diambang kebingungan apakah mereka rela menaikkan harga tapi kehilangan pelanggan atau tetap dengan mengurangi kualitas bahan.
Tak hanya Arif, hal ini juga dirasakan oleh banyak para pelaku usaha. Mulai dari para pedagang kaki lima yang menanti kedatangan para siswa di sekolah, pemilik usaha dibidang kuliner, toko material yang setiap hari harus memastikan kesediaaan barang bahkan sampai industri besar pun sudah mulai khawatir terkait bagaimana menjaga kestabilan produksi dengan bahan baku yang sedang melambung tinggi.
Harga yang tak terkendali ini bukan karena saja politik dalam negeri yang belum stabil, tetapi faktor eksternal seperti konflik geopolitik lah yang membuat harga barang untuk pelaku usaha naik drastis, plastik yang dulunya sangat terjangkau sekarang mengalami lonjakan harga dan bisa naik sampai 70 persen. Tak hanya plastik komoditas lain pun hancur sehingga hal inilah yang membuat biaya produksi semakin tinggi dan harga jual sulit dikendalikan
Namun disisi lain para pelaku usaha harus memutar otak bagaimana caranya supaya pelanggan tetap datang seperti biasa, hal inilah yang sedang dirasakan pak arif. Ia memikirkan segala upaya agar pelanggannya tidak lari terbirit karena kenaikan yang mengagetkan ini.
“Sekarang apa-apa serba mahal, kalau saya naikan harga, jelas pelanggan kabur, belum lagi saingan sama usaha lain,” ujarnya.
Usaha yang sudah berjalan selama 4 tahun ini sedang diuji dari berbagai sisi, bagaimana caranya pelanggan tetap bertahan, namun harus tetap melihat bahan baku penjualan yang naik menekan. Pak Arif juga harus memikirkan kehidupan sehari-harinya yang masih harus membiayai pendidikan ketiga buah hatinya. Omset yang biasanya tembus sampai jutaan sekarang hanya berkisar ratusan ribu saja. Penurunan ini menjadi suatu pukulan telak bagi usaha yang telah ia jalankan.
Para pelaku usaha lain pun harus memutar otak bagaimana caranya supaya usaha yang mereka lakukan tetap bisa berjalan tanpa harus kehilangan pelanggan. Arif contohnya, ia mencoba mencari strategi baru tanpa harus menaikan harga demi menjaga konsumen dagangannya, Ia memilih mengurangi porsi dagangannya dan selektif dalam memilih bahan namun tetap menjaga kualitas. Baginya walaupun kondisi sulit seperti ini, menjaga kepercayaan pelanggan adalah hal utama di tengah kondisi serba tidak pasti ini.
“Yang paling utama adalah menjaga kepercayaan pelanggan. Paling porsinya sedikit dikurangi dan lebih selektif dalam memilih bahan tanpa mengurangi kualitas,” pungkasnya.
Para pelaku usaha lain pun melakukan hal yang sama demi keberlangsungan usahanya, mulai dari mencari bahan alternatif tetapi masih terjaga kualitasnya, kemudian mengurangi variasi dagangan supaya modal yang di keluarkan tidak terlalu besar. Hal ini dlakukan demi menjaga kestabilan usaha yang saat ini masih tinggi dan belum ada tanda tanda mereda.
Ditengah kondisi yang sulit ini, para pelaku usaha termasuk Arif sedang mencari cara supaya tetap menjaga keberlangsungan usahanya. Tidak hanya mencari keuntungan tetapi juga menjaga keberlangsungan hidup mereka. Pilihan pilihan sulit harus banyak diambil setiap hari oleh mereka. Mulai dari menaikan harga dengan resiko kehilangan pembeli, mengurangi porsi, atau mencari bahan alternatif yang lebih bersahabat. Dibalik semua hal- hal yang mereka lakukan ini ada secercah harapan yang ingin mereka teruskan yaitu usaha kecil yang mereka lakukan ini tetap bertahan meski ditengah kepastian yang terus menghimpit
Penulis: Dimas Al Ghifari
Editor: Novandi Ali Akbar, Muhamad Saepul Saputra


0 Komentar