![]() |
| (Peserta aksi mimbar bebas yang memadati pelataran Alun-alun Purwokerto, Jumat (26/06/26). Dok. LPM Obsesi) |
Purwokerto – Puluhan mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam aliansi Banyumas hadir menggelar aksi mimbar bebas dengan tajuk “Lawan Dengan Mimbar Bebas: Desak Mundur Prabowo Gibran”, Jumat, (26/06/2026). Titik aksi dimulai dari Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), kemudian berlanjut menuju pelataran Alun-alun Purwokerto sebagai titik aksi, tepat di depan pusat perbelanjaan Rita Super Mall.
Pamungkas Handika, Menteri Koordinator Politik Pergerakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, sekaligus koordinator lapangan menjelaskan bahwa mimbar bebas ini merupakan lanjutan dari aksi-aksi sebelumnya. Menurutnya mimbar bebas ini adalah wadah kekecewaan tentang bagaimana pemerintah daerah maupun pemerintah pusat yang telah gagal merealisasikan aspirasi masyarakat.
“Hal ini menjadi jembatan bagi kita untuk bisa mengevaluasi total. Kita telah menyuarakan aspirasi, namun tidak ada tanggapan yang pasti. Jadi, kita gunakan panggung seni ini untuk memeriahkan aspirasi kita,” ungkapnya.
Dalam aksi tersebut Pamungkas juga menjelaskan terdapat tiga tuntutan utama yang dibawa oleh masa aksi. Pertama, menuntut untuk menghentikan program-program pemerintah yang membuang-buang anggaran seperti makan bergizi gratis (MBG) dan koperasi desa merah putih. Kedua, menuntut penurunan harga bahan pokok dan juga bahan bakar, kemudian tuntutan terakhir yakni menuntut mundurnya Prabowo Gibran sebagai presiden dan wakil presiden.
Tidak hanya mahasiswa, aksi mimbar bebas kali ini juga diikuti oleh masyarakat umum yang turut hadir menyuarakan aspirasinya. Pamungkas, juga menjelaskan bahwa Mimbar Bebas pada hari ini berlaku untuk umum, ia turut serta mengajak masyarakat untuk turut andil dalam aksi tersebut.
Solihin salah satu masyarakat yang turut hadir memberikan respon bahwa aksi mimbar bebas merupakan hal positif dan perlu dilanjutkan. Namun ia juga menambahkan mahasiswa juga perlu edukasi tentang geopolitik-geoekonomi, sehingga dapat memahami masa depan Indonesia.
“Ya tadi, bahwa garis-garis besar
haluan negara hari ini nyaris tidak ada. Sehingga para pemimpin itu, yang
disebut presidensial, itu jelas-jelas dia dengan tangan kekuasaannya itu bisa
menampik dan menabok semuanya,” tegas Solihin.
![]() |
| (Orasi yang sedang dilakukan oleh salah satu peserta aksi mimbar bebas: desak mundur Prabowo-Gibran, Jumat (26/06/26). Dok. LPM Obsesi) |
Solihin kemudian menjelaskan bahwa pendidikan geopolitik-geoekonomi wajib untuk dikenalkan kepada para mahasiswa. Sebab ketika ia mengenyam perkuliahan dahulu pada tahun ’80-an hingga ’90-an pelajaran geopolitik-geoekonomi adalah wajib.
“Ah, sekarang sudah enggak ada masalahnya,” ujarnya dengan kecewa.
Salah satu peserta aksi, Fatir, menjelaskan bahwa tuntutan yang disuarakan tetap sama. Ia menerangkan bahwa caranya saja yang berbeda, dengan kreatifitas masing-masing yang hadir pada mimbar bebas tersebut.
“Biasanya aksi tuntutan langsung dengan berdemonstrasi di depan kantor DPR, sekarang kita dengan cara yang unik, cara yang menggabungkan seni dan juga suara dari rakyat itu sendiri,“ ucapnya.
Di akhir Pamungkas kemudian mengungkapkan kekecewaan juga harapannya dalam aksi panggung jalanan kali ini. Ia kecewa karena tuntutan yang tidak kunjung direalisasikan dan berharap bahwa aksi ini dapat menekan pemerintah untuk melakukan langkah pasti dalam realisasi tuntutan mahasiswa dan masyarakat.
“Mereka tidak punya kegiatan secara pasti yang bisa membuat tuntutan itu bisa direalisasikan. Kali ini gerakan tidak hanya sebagai penekanan, namun kreatifitas juga. Seni menampilkan ekspresi yang lebih intensif, agar nantinya pun pesan-pesan kita dapat menyerap semua aspirasi masyarakat,” ungkapnya.
Penulis:
Muhammad Faqih Rasito
Reporter:
Ahmad Zubair, Tolhah Ahmad
Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah


0 Komentar