Ticker

6/recent/ticker-posts

Soroti Kondisi Ekonomi dan Kebebasan Sipil, Mahasiswa Gelar Konsolidasi Akbar dan Susun Tujuh Tuntutan

 

(Para mahasiswa berdiskusi mengenai tuntutan yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk menemukan titik terang, Kamis (11/06). Sumber: Dok. LPM Obsesi)

Purwokerto – Sejumlah mahasiswa menggelar Konsolidasi Akbar sebagai respon terhadap berbagai persoalan nasional yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Forum tersebut menghasilkan tujuh tuntutan yang menyoroti kondisi ekonomi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga ancaman terhadap kebebasan sipil.

Konsolidasi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyamakan pandangan sekaligus merumuskan langkah bersama dalam merespon berbagai kebijakan pemerintah. Sejumlah isu strategis nasional menjadi fokus pembahasan selama forum berlangsung. Diskusi ini berjalan dengan ritme yang cukup cepat. Berbagai tanggapan, kritik, dan pandangan peserta terus mengalir sepanjang forum, namun suasana tetap berlangsung kondusif dan terarah.

Salah satu peserta konsolidasi Zulfan Azmi menjelaskan bahwa pembahasan utama berangkat dari kondisi negara yang dinilai sedang menghadapi berbagai persoalan serius. Mulai dari sektor ekonomi hingga kebijakan yang berkaitan dengan demokrasi dan kebebasan sipil.

"Pada dasarnya, kami melihat keadaan negara saat ini. Kami menyoroti adanya kenaikan harga BBM, nilai mata uang rupiah yang semakin melemah, kemudian program Makan Bergizi Gratis yang jalannya dinilai belum jelas, serta pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Selain itu, kami juga membahas tentang kebebasan sipil yang mulai terancam dengan adanya pengesahan Undang-Undang TNI dan Undang-Undang Polri," ujar Zulfan.

Menurutnya, konsolidasi tersebut merupakan langkah awal untuk memperkuat gerakan mahasiswa. Forum ini juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran bersama agar mahasiswa mampu merespons kebijakan nasional secara lebih cepat dan terorganisir. Langkah itu juga diarahkan untuk mendorong kembali peran organisasi kemahasiswaan dalam melakukan kajian kritis terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tingkat nasional maupun daerah.

Selain membahas berbagai persoalan nasional, forum turut menghasilkan tujuh poin pernyataan sikap. Tuntutan tersebut menjadi bentuk respons mahasiswa terhadap berbagai kebijakan yang dinilai berdampak langsung pada masyarakat.

Tujuh tuntutan yang disampaikan meliputi kecaman terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap membebani rakyat kecil, desakan kepada pemerintah untuk bertanggung jawab atas melemahnya nilai tukar rupiah, serta tuntutan audit terhadap pengelolaan anggaran program MBG.

(Para mahasiswa membacakan 7 pernyataan sikap yang telah disepakati sebelumnya pada saat berdiskusi. Sumber: Dok. LPM Obsesi)

Mahasiswa berencana untuk memasang sejumlah banner bwertuliskan kritik dan pernyataan sikap sebagai bentuk penyampaian aspirasi kepada publik. Hal ini  dilakukan untuk memperluas penyebaran gagasan dan hasil konsolidasi kepada masyarakat yang lebih luas. Mereka juga berupaya memperkuat kembali gerakan mahasiswa melalui berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari himpunan mahasiswa, komunitas, senat mahasiswa, hingga dewan mahasiswa.

Mereka menolak segala bentuk perluasan kewenangan aparat yang berpotensi mengancam demokrasi, kebebasan sipil, dan hak-hak warga negara dalam Undang-Undang Polri maupun Undang-Undang TNI.

Selain itu, mereka mengecam melemahnya komitmen pemerintah dalam menyelesaikan persoalan pendidikan dan tingginya angka pengangguran. Mahasiswa juga menyatakan penolakan terhadap masuknya SPBG ke lingkungan kampus serta mendesak penegakan hukum dan pemberantasan korupsi secara tegas dan konsisten.

Sebagai tindak lanjut hasil konsolidasi, mahasiswa berencana menggelar aksi simbolik pembakaran lilin. Aksi tersebut dimaknai sebagai simbol terancamnya kebebasan sipil, matinya demokrasi, dan kondisi negara yang dinilai sedang berada dalam situasi darurat.

"Konsolidasi yang kita lakukan hari ini pertama-tama untuk konsolidasi internal mahasiswa. Tujuannya agar ke depan kami bisa bergerak bersama dan merespons kebijakan-kebijakan nasional dengan cepat," jelasnya.

Melalui Konsolidasi Akbar ini, mahasiswa berharap seluruh elemen kampus dapat terus menjaga tradisi berpikir kritis dan aktif mengawal berbagai kebijakan publik yang dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Penulis: Naila Izzatul Ihya

Reporter: Ahmad Zubair, Aldi Cahyo Lesmana, Amodia Vala Madesta, Indi Ulyatun Ni’mah, Muhammad Latif Aldiansyah, Neny Septialestari, Sasi Shafiqah Yuniana.

Posting Komentar

0 Komentar