Ticker

6/recent/ticker-posts

Eksistensi di Era Media Sosial: Ketika Menjadi Diri Sendiri Tak Lagi Cukup

 

(Ilustrasi seseorang sedang menggunakan media sosial. Sumber: Freepik)

Media sosial saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan layar handphone, seseorang selalu ditawarkan berbagai bentuk representasi kehidupan yang sepertinya ideal, dari fisik yang proporsional, prestasi dalam bidang kerja, gaya hidup produktif, sampai interaksi sosial yang berlangsung secara harmonis. Pada awalnya, berbagai bentuk representasi itu hanya sekadar hiburan atau inspirasi. Namun, seiring intensitas paparan yang semakin besar, gambaran tersebut perlahan  berubah menjadi ukuran untuk mengukur diri sendiri.

Perubahan ini memiliki implikasi psikologis yang cukup rumit. Pertanyaan-pertanyaan refleksif seperti, “Apakah ini hal yang ingin saya dapatkan dalam hidup?” secara pelan akan berubah menjadi, “Apa yang harus saya inginkan supaya sesuai dengan standard sosial?” Di titik ini, definisi tentang bagaimana cara mengarahkan kehidupan tidak hanya berdasarkan nilai pribadi saja, melainkan lebih kepada konstruksi sosial yang senantiasa diciptakan dan dikonstruksikan di ruang digital tersebut. Sehingga menjadi diri sendiri saja bukan hal yang cukup apabila tidak mengikuti standar ideal yang berkembang.

Fenomena seperti ini dapat dilihat melalui berbagai tren yang muncul dan berubah dengan cepat di platform media sosial. Misalnya, Dubai Chewy Cookie yang tiba-tiba diburu banyak orang setelah viral, sampai rela mengantri Panjang, atau fenomena boneka Labubu yang dijual dengan harga tinggi tapi tetap diperebutkan. Dalam banyak kasus, keputusan untuk mengikuti trend tidak sepenuhnya didorong oleh preferensi pribadi. Keinginan terhadap objek tersebut muncul karena paparan secara terus-menerus di media sosial, percakapan publik, dan tekanan tersirat untuk bergabung dalam arus peristiwa. Fenomena ini berkorelasi dengan teori perbandingan sosial yang diperkenalkan oleh Festinger (1954). Teori tersebut menyatakan bahwa individu cenderung mengevaluasi diri mereka sendiri dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain, terutama ketika tidak ada ukuran objektif. Proses perbandingan menjadi terus-menerus dan konstan dalam kasus media sosial.

Dari sudut pandang eksistensialisme Jean-Paul Sartre, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan. Menurut Sartre (1946), “existence precedes essence,” yang secara harfiah bermakna bahwa manusia sudah ada sebelum menentukan essensi tersebut. Identitas bukanlah sesuatu yang statis ataupun ditentukan sejak awal, namun justru diciptakan dengan cara memilih dan bertindak. Oleh karena itu, kebebasan adalah suatu hal yang selalu ada dalam manusia dan juga tanggung jawab yang tidak bisa dihindari.

(Ilustrasi manipulasi digital, kontrol media sosial, dan ketergantungan teknologi. Sumber: Kompas.Id)

Namun, kemerdekaan ini kadangkala sulit untuk dilaksanakan dengan otentik. Di mana dalam aliran informasi yang besar-besaran dalam media sosial, pemilihan individu jadi tersentralisasi pada kebutuhan atas pengakuan sosial. Pada kondisi ini, teori self-presentation, yang dikemukakan oleh Goffman (1959), relevan. Karena individu memiliki tendensi untuk menunjukkan suatu versi dari dirinya sendiri tergantung pada audiensnya. Jika dalam media sosial, audiensnya adalah luas dan juga anonim, sehingga standar dari "diri yang patut ditampilkan" itu cenderung mengikuti norma kolektif yang sedang trend. Sehingga individu berada dalam usaha untuk mempertahankan citra yang mungkin saja belum tentu mencerminkan dirinya secara autentik.

Namun demikian, sangat penting tidak langsung menilai media sosial sebagai hal yang negatif saja. Media ini masih memiliki banyak potensi sebagai sumber informasi, sebagai lapangan peluang, membangun jaringan sosial, atau bahkan media eksplorasi diri. Tetapi penelitian tentang mahasiswi pengguna Instagram di Yogyakarta menemukan beberapa hal termasuk pembentukan identitas digital yang selektif, peningkatan ketergantungan pada sosial validation, serta munculnya perbedaan identitas digital dan identitas nyata yang bisa menciptakan tekanan psikologis. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan media sosial mempengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain maupun bagaimana orang tersebut melihat dirinya sendiri.

Itulah sebabnya tidaklah tepat bila menyingkir dari media sosial, namun perlu dibangun kesadaran kritis ketika menggunakan media sosial. Setiap saat ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dan merenung mengapa kita membuat pilihan-pilihan tertentu. Apakah seluruh keinginan tersebut murni berasal dari nilai-nilai dan kebutuhan individu sendiri, atau justru tercipta karena paparan konstan terhadap standar-standar yang diciptakan dalam ruang digital? Dalam hal ini pertanyaannya bukan hanya sampai pada level apakah media sosial mempengaruhi kehidupan kita. Yang lebih serius lagi menjadi pertanyaan yang harus dibahas yaitu apabila manusia, layaknya yang dikatakan oleh Sartre, membentuk dirinya dengan cara membuat pilihan-pilihannya, sejauh mana pilihan yang kita buat pada hari ini tersebut masih benar-benar mencerminkan diri kita, dan sejauh mana ia telah dibentuk oleh standar yang terus diproduksi di ruang digital?.

Penulis: Aisha Rahma Fayyaza

Editor: Alwa Shofwah

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar