Purbalingga
– Tasman Usman Janatin menjadi tempat
digelarnya diskusi publik bertajuk “Menuju Indonesia Darurat” oleh puluhan
mahasiswa dan masyarakat dari berbagai elemen di Purbalingga, Selasa, (16/06/2026).
Atas dasar kondisi ekonomi dan sosial yang semakin membebani masyarakat,
kegiatan ini diadakan sebagai ruang refleksi bersama, dihadiri oleh Dewan
Ekswkutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Saizu, Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Ma’arif, dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
Universitas Perwira Purbalingga.
Diskusi
dimulai pukul 17.10 WIB dihadiri mahasiswa dari berbagai latar belakang
perguruan tinggi di Purbalingga dan segelintir masyarakat umum. Melalui forum
terbuka tersebut peserta diajak membahas berbagai persoalan yang tengah menjadi
perhatian public, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan BBM, serta
meningkatnya harga pangan yang berdampak langsung pada perekonimian masyarakat.
Penyelenggara
acara memulai diskusi dengan mengangkat sebuah pertanyaan “Apa yang perlu turun
duluan? Rupiah, BBM, bahan pangan, atau Prabowo?” selain sebagai pemantik
diskusi, pertanyaan tersebut menjadi simbol kritik terhadap kondisi ekonomi dan
kebijakan pemerintah yang dianggap belum menjawab kebutuhan rakyat.
Pukul
17.15 WIB acara dilanjutkan dengan sesi orasi, pemaparan data, dan diskusi
terbuka. Sejumlah peserta menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan
sehari-hari yang semakin dirasakan dalam kehidupan. Kegiatan diskusi
berlangsung menjadi wadah bagi peserta untuk menyampaikan pandangan, kritik,
serta, serta harapan terhadap kondisi bangsa saat ini. Berbagai isu seperti
kesejahteraan masyarakat, arah Pembangunan nasional, transparansi publik,
hingga dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat dibahas dalam forum tersebut.
Ketua
Dewan Ekseketif Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Saizu, Nurfahad Musyafa
mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya mahasiswa untuk menghadirkan
ruang diskusi yang dapat menampung aspirasi masyarakat sekaligus menjadi sarana
evaluasi terhadap kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang.
“Diskusi
ini menciptakan ruang-ruang kecil untuk menghidupkan kembali nuansa kita sebagai
mahasiswa. Kami berharap pemerintah lebih jeli dan memperhatikan rakyat-rakyat
kecil, karena sampai hari ini belum ada dampak positif yang benar-benar
dirasakan masyarakat dari kebijakan yang ada, harapan kami suara-suara kecil
seperti ini bisa didengar baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.”
ujarnya.
Salah
satu peserta diskusi, Muhammad Zulfan Aziz mengaku antusias mengikuti kegiatan
tersebut. Menurutnya, forum diskusi public yang melibatkan berbagai elemen
mahasiswa masih cukup jarang diselenggarakan di Purbalingga sehingga menjadi
kesempatan penting untuk bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan bangsa.
Menurutnya, kegiatan semacam ini juga berfungsi untuk menjaga solidaritas antar
mahasiswa dan masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan yang berkembang. Ia
berharap hasil diskusi tidak hanya berhenti pada forum tersebut, melainkan
dapat menjadi dorongan untuk membangun kesadaran kolektif dan partisipasi
masyarakat dalam mengawal kebijakan publik
Menjelang
akhir acara, peserta melakukan aksi simbolik dengan menyalakan lilin bersama.
Aksi tersebut dimaknai sebagai simbol harapan agar suara dan kegelisahan
masyarakat dapat didengar oleh para pemangku kebijakan. Kegiatan lalu ditutup
dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan yang diikuti seluruh peserta sebagai bentuk peguatan semangat kebersamaan dan sebagai sarana penyampaian.
Melalui
diskusi publik ini mahasiswa dan masyarakat Purbalingga berupaya menghadirkan
ruang dialog yang terbuka dan kritis terhadap berbagai persoalan bangsa. Mereka
berharap forum semacam ini dapat terus doselenggarakan sebagai sarana
penyampaian aspirasi, penguatan kesadaran public, serta pengawalan terhadap
kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Dengan demikian,
partisipasi warga dalam proses demokrasi tidak hanya hadir saat pemilu saja,
tetapi juga melalui keterlibatan aktif dalam mengawasi dan mengevaluasi
jalannya pemerintahan.
Penulis:
Naila Izaatul Ihya
Reporter:
Ahmad Zubair, Amelia Asri Anjani, Tri Kumalasari, Putri Wulan Brigantari, Kinanti Desta Putri
Editor:
Muhamad Saepul Saputra


0 Komentar