Ticker

6/recent/ticker-posts

Kejelasan Isu Praktik Relasi Kuasa Oknum Dosen Terhadap Sejumlah Mahasiswa FTIK

(Gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Sumber: Suara Merdeka Banyumas )

Purwokerto – Universitas Islam Negeri Prof. K.H Saifuddin Zuhri tersorot oleh publik setelah beredarnya isu praktik jual beli yang dilakukan oleh salah satu dosen terhadap mahasiswa di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Diduga praktik tersebut dijadikan sebagai tugas Ulangan Tengah Semester, Jum’at (24/04/2026).

Isu tersebut berkembang setelah adanya unggahan dari salah satu akun di media sosial. Dalam postingan tersebut terlihat adanya unsur pemaksaan yang dilakukan oleh oknum dosen terhadap sejumlah mahasiswa.

Pada awalnya telah terjadi kesepakatan antara dosen dan mahasiswa, kesepakatan tersebut dihasilkan pada saat kegiatan outing class. Dalam forum tersebut juga terjadi kesepakatan bahwa apabila terjadi penjualan produk, maka keuntungan menjadi milik mahasiswa. Namun, masalah muncul ketika terdapat sejumlah mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan outing class, lalu menyebarkan informasi yang tidak benar di salah satu grup WhatsApp.

Informasi yang mencuat menyebutkan bahwa mahasiswa diwajibkan menjual produk agar nilai UTS dapat diperoleh. Namun, setelah terjadi kegaduhan akhirnya terjadi perubahan dengan membuat video sebagai tugas UTS.

Zhidan Bakhtiar selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FTIK mengonfirmasi hal tersebut. Menurutnya, informasi mengenai kewajiban penjualan produk gula sehat adalah informasi yang benar adanya. Namun ia juga membenarkan bahwa terjadi sebuah kesalahpahaman antara dosen dan mahasiswa mengenai pemberian tugas tersebut. Dosen memberikan kesempatan dan meminta bantuan kepada mahasiswa yang bersedia menjual produk tersebut.

“Kesalahan dalam memahami informasi antara mahasiswa dan dosen. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa mahasiswa diwajibkan menjual produk agar nilai UTS dapat diperoleh.” terang Zhidan.

(Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) sedang memberikan penjelasan mengenai isu yang sedang beredar di FTIK. dok LPM Obsesi)

Mahasiswa dan dosen pengampu sebagai pihak yang mengalami kesalahpahaman telah melakukan proses mediasi hingga permasalahan terselesaikan.  Berdasarkan penjelasan dari Zhidan, permasalahan telah terselesaikan dengan baik melalui proses mediasi dengan melibatkan pihak ketiga, dan mahasiswa mengakui adanya kesalahan dalam menangkap informasi yang disampaikan oleh dosen.

 “Sudah clear melalui proses mediasi, ya. Mahasiswa juga sudah mengakui adanya kesalahan penangkapan informasi, dan permasalahannya sudah selesai sebelum beritanya naik di media,” tegasnya.

Melalui mediasi yang berlangsung di lingkungan kampus, kedua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan dan menyatakan bahwa permasalahan telah selesai. Kepala Fakultas dan Lembaga Kemahasiswaan (LK) juga turut mendampingi dan memastikan mediasi berjalan dengan baik serta mencegah kesalahpahaman di kemudian hari. Dalam proses mediasi tersebut tidak ada tekanan dari pihak kampus maupun dosen yang terlibat.

“Tidak ada tekanan dari pihak dekanat terhadap mahasiswa, dan lembaga eksekutif turut mendampingi proses mediasi, penyelesaian dilakukan secara kekeluargaan,” Ujar Zhidan.

Ia juga menambahkan bahwa mekanisme penyelesaian masalah diadvokasikan oleh pihak himpunan mahasiswa PBA, kemudian dilanjutkan dengan komunikasi antara pihak-pihak terkait di ruang dekanat. Proses tersebut melibatkan dekanat, SEMA, dan DEMA, hingga akhirnya keputusan disepakati oleh kedua belah pihak dengan hasil yang baik dan tidak merugikan pihak yang bersangkutan.

Zhidan berharap dengan adanya peristiwa ini menjadi pengingat terutama bagi mahasiswa mengenai pentingnya literasi digital, dengan memilah dan memverifikasi suatu informasi yang beredar, serta tidak terburu-buru dalam menerima dan menyebarkan berita agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang merugikan banyak pihak.

"Hal yang perlu diingat bahwa literasi digital itu penting bahwa komunikasi antara berita nyata dan berita ada itu penting, dan harapannya supaya dapat meningkatkan literasi digital," ujarnya.

Penulis: Carissa Aqilah Salsabila

Reporter: Ahmad Zubair, Hikmah Nur Aisyah, Laesya Ziqni Rimadhani

Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah


Posting Komentar

0 Komentar