![]() |
| (Kegiatan nonton bareng Film dokumenter Pesta Babi yang dihadiri oleh segenap mahasiswa, koalisi, masyarakat sipil, dan puluhan mahasiswa Papua, Selasa (29/04/26). dok: LPM Obsesi) |
Purwokerto — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA)
UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) berkolaborasi dengan Justice Project
menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi” dan diskusi tahanan politik Banyumas, Selasa (28/4/2026) malam di Gedung Student
Center (GSC) UIN Saizu Purwokerto.
Kegiatan ini juga menghadirkan puluhan
mahasiswa dari berbagai kampus di Banyumas, termasuk Himpunan Mahasiswa dan
Pelajar Afirmasi-Non Afirmasi Papua (HIMAPPA). Upaya ini merupakan
pintu ruang diskusi
kritis terkait isu kemanusiaan di Papua serta kondisi tahanan politik di
Banyumas.
Wakil Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa, Zulfan,
mengungkapkan bahwa kegiatan ini disiapkan dalam waktu yang relatif singkat,
yakni tiga hari sebelum pelaksanaan. Meski demikian, kolaborasi lintas
komunitas berhasil diwujudkan dengan melibatkan berbagai elemen, seperti Aksi
Kamisan Purwokerto, Justice Project, hingga mahasiswa Papua di Purwokerto.
Ia menjelaskan bahwa pemutaran film ini
memiliki urgensi tinggi sebagai media edukasi bagi mahasiswa. Menurutnya Pesta Babi juga menjadi momentum untuk mengingat bahwa
keadaan Papua tidak baik-baik saja.
“Ini adalah bentuk sosialisasi agar kita
memahami bahwa Papua itu tidak baik-baik saja, dan selama ini banyak hal yang
tidak terekspos oleh media nasional. Perlu diingat
bahwa Papua bukanlah tanah kosong,” tegasnya.
Selain sebagai ruang edukasi, kegiatan ini
juga menjadi wadah solidaritas. Tidak hanya membahas situasi di Papua, diskusi
turut menyinggung kondisi lokal, khususnya terkait tiga tahanan politik di
Banyumas yang masih menunggu putusan pengadilan. Panitia berharap kegiatan ini
dapat menggerakkan partisipasi mahasiswa untuk terlibat dalam aksi solidaritas
lanjutan.
Kegiatan diawali dengan pemutaran film
dokumenter “Pesta Babi” yang mengangkat isu kolonialisme, eksploitasi sumber
daya, serta dampak militerisme di Papua. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan
sesi diskusi yang menghadirkan perspektif langsung dari mahasiswa Papua.
![]() |
| (Sesi diskusi mengenai tahanan politik Banyumas dan pengulasan mengenai Film dokumenter Pesta Babi, Selasa (28/04/26). dok: LPM Obsesi) |
Ketua HIMAPPA Purwokerto, Sampari Timothy, menilai
kegiatan ini sebagai ruang penting bagi mahasiswa untuk menyuarakan isu-isu
krusial. Ia juga menyoroti dampak militerisme yang
dirasakan masyarakat Papua, mulai dari tekanan psikologis hingga terbatasnya
ruang hidup yang aman bagi masyarakat sipil. Menurutnya apa yang ditampilkan dalam film merupakan
realita yang telah lama terjadi di Papua.
“Ini adalah wadah yang tepat bagi mahasiswa
untuk bisa bersatu dan bicara bebas. Apa yang ada di film itu bukan hal baru
bagi kami, itu adalah realita yang kami alami,” tegas
Sampari.
Sementara itu salah satu peserta, Kafa,
mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) UIN Saizu, menyampaikan bahwa film tersebut
membuka kesadaran baru terkait isu dalam negeri yang selama ini kurang mendapat
perhatian. Menurutnya, masyarakat seringkali lebih fokus pada isu global,
padahal persoalan serupa juga terjadi di Indonesia. Ia berharap melalui
kegiatan ini, mahasiswa dapat lebih aktif dalam menyuarakan ketidakadilan.
“Dengan adanya film ini, kita jadi lebih sadar
bahwa penindasan juga terjadi di negara kita sendiri. Mahasiswa punya peran
untuk menyuarakan hal tersebut, minimal dengan mengangkat isu ini ke publik,”
ujarnya.
Selain diskusi, kegiatan ini juga diisi dengan
penggalangan donasi sukarela yang akan disalurkan untuk pengungsi Papua.
Panitia menegaskan bahwa acara ini tidak bersifat komersial, melainkan
berangkat dari semangat kolektif dan kepedulian sosial.
Melalui kegiatan nobar dan diskusi ini,
diharapkan mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu mengambil
peran sebagai agen perubahan dengan meningkatkan kesadaran, solidaritas, serta
keberanian dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan.
Sebagai salah satu yang memiliki peran dalam kegiatan ini, Zulfan
berharap audiens yang datang dapat paham akan kondisi Papua yang sebenarnya.
Kemudian dapat meningkatkan solidaritas mengenai tiga tahanan politik yang
belum mendapatkan kebebasan.
“Mengingat bahwa acara ini bukan seremonial, tetapi acara yang
membawa nilai dan esensi. Harapannya teman-teman mengetahui keadaan Papua dan
Banyumas tidak baik-baik saja, sehingga masyarakat perlu bersolidaritas untuk mengawal
putusan pengadilan,” ujarnya.
Penulis: Naila Izzatul Ihya
Reporter: Alwa Shofwah, Zahwa Aprilita, Naila Izzatul Ihya, Ahmad Zubair
Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah
.jpeg)

0 Komentar