Baru-baru ini, jagat maya di kagetkan dengan bocornya obrolan grup whatsapp
yang melibatkan enam belas mahasiswa Fakultas Hukum dari universitas Indonesia.
Isi dari chat itu bukan berupa candaan receh anak muda melainkan barisan kata
kata yang menjatuhkan martabat seorang Perempuan dengan cara yang paling
rendah. Sebagai mahasiswa dan anggota lembaga
pers, saya melihat ini bukan sekedar pelanggaran etika, melainkan cermin akan retaknya
moralitas diperguruan tinggi. Dimana mahasiswa yang seharusnya menjadi tameng
terdepan ketika ada kekerasan dan ketidakadilan, tetapi malahan menjadi lakon
dibalik aksi tidak terpuji ini.
Secara
pribadi saya merupakan salah satu orang yang berdiri tegak di barisan perlawanan
dan tidak akan pernah menormalisasikan kekerasan atau pelecehan seksual dalam
bentuk apapun. Meskipun saya seorang laki-laki, melihat diksi yang berjejeran
seperti itu merasa jijik terhadap apa yang dipikirkan oleh mereka. Sebagai
lelaki tidak perlu merasakan betapa sakitnya. Cukup bayangkan saja jika
kekerasan maupun pelecehan seksual itu terjadi kepada orang yang kita sayangi
misalnya, ibu kita, adik kita, saudari perempuan dan orang terdekat kita. Pertanyaannya
adalah apakah kita rela jikalau hal itu terjadi?
Pelecehan
Seksual Tidak Benar, Namun Apakah Hanya Berlaku Untuk Pria?
Pelecehan
seksual baik secara fisik ataupun verbal diruang digital merupakan bentuk
tindakan yang kejam, karena bisa mengganggu mental korban dan hal tersebut
tidak bisa ditoleransi dengan dalih candaan tongkrongan. Namun dibalik kasus FH
UI dan kecaman terhadap pelaku, muncul sebuah pertanyaan besar: Benarkah
kemarahan kita hanya berlaku jika pelakunya adalah lelaki?
Kita terlalu fokus untuk melontari pelaku dengan kata-kata yang kejam, namun disaat yang sama, banyak dari kita terutama perempuan secara tidak disadari, mereka juga merupakan pelaku pelecehan seksual di media sosial. Mari kita jujur dan bercermin, lihatlah kolom komentar video yang menunjukan pria good looking. Dengan mudah kita melihat komentar seperti “mas, pangku”, “jaga fefek kalian girls”, “udah dititik pengen nyobain masnya”, ”kemarin aku nyobain masnya enak”.
Paradoks
Apabila Pelakunya Adalah Perempuan
Pertanyaannya
simpel, apa bedanya hal itu dengan kekerasan yang terjadi dalam kasus FH UI?
Bukannya kedua nya melakukan objektifikasi seksual? Bukankah keduanya sama sama
melihat manusia sebagai objek pemuas nafsu? Dan ironisnya adalah ketika yang
melakukan perempuan hal itu dianggap sebagai lelucon semata dan dicap sebagai bentuk
kegaguman terhadap laki-laki.
Akan
tetapi jika yang melakukan pelecehan seksual adalah lelaki, terjadi sebuah
anggapan bahwa pelakunya merupakan makhluk hina, manusia rendahan, pola pikir
bejad dan lain-lain. Jika kita beramai-ramai ingin menghapus permasalahan ini,
kita harus menekankan bahwasannya kekerasan dan segala bentuk pelecehan merupakan
suatu hal yang tidak etis, tanpa melihat apa gender dari pelaku.
Kasus
FH UI Hanya Sebagian Kecil Dari Aksi Pelecehan Yang Terbongkar
Kasus
yang terjadi di FH UI itu merupakan sebagian kecil dari tindakan keji yang
dilakukan oleh manusia. Sebetulnya masih banyak sekali isi obrolan chat dan
kejadian yang sama, dari kalangan mahasiswa, karyawan, hingga ke ranah akademisi
seperti guru dan dosen.
Sebagai
individu yang hidup dalam norma dan aturan yang berlaku, kita harus cermat dalam
bersosialisasi diruang digital. Jika kita ingin menciptakan ruang yang aman bagi
semua kalangan, maka haruslah kita saling menghargai dan mengingatkan, apalagi
sebagai kaum intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial. Jangan sampai hal
seperti itu terjadi kembali dan mencoreng nama baik mahasiswa.
Penulis: Aldi Cahyo Lesmana
Editor: Novandi Ali Akbar, Muhamad Saepul Saputra


0 Komentar