Ticker

6/recent/ticker-posts

Benarkah Pelecehan Seksual Hanya Ramai Jika Pelakunya Adalah Lelaki?


(Spanduk protes di sebuah gedung menuntut keadilan, terdapat poster wajah pelaku sebagai bentuk desakan transparansi kasus. Sumber: Kumparan)

Baru-baru ini, jagat maya di kagetkan dengan bocornya obrolan grup whatsapp yang melibatkan enam belas mahasiswa Fakultas Hukum dari universitas Indonesia. Isi dari chat itu bukan berupa candaan receh anak muda melainkan barisan kata kata yang menjatuhkan martabat seorang Perempuan dengan cara yang paling rendah.  Sebagai mahasiswa dan anggota lembaga pers, saya melihat ini bukan sekedar pelanggaran etika, melainkan cermin akan retaknya moralitas diperguruan tinggi. Dimana mahasiswa yang seharusnya menjadi tameng terdepan ketika ada kekerasan dan ketidakadilan, tetapi malahan menjadi lakon dibalik aksi tidak terpuji ini.

Secara pribadi saya merupakan salah satu orang yang berdiri tegak di barisan perlawanan dan tidak akan pernah menormalisasikan kekerasan atau pelecehan seksual dalam bentuk apapun. Meskipun saya seorang laki-laki, melihat diksi yang berjejeran seperti itu merasa jijik terhadap apa yang dipikirkan oleh mereka. Sebagai lelaki tidak perlu merasakan betapa sakitnya. Cukup bayangkan saja jika kekerasan maupun pelecehan seksual itu terjadi kepada orang yang kita sayangi misalnya, ibu kita, adik kita, saudari perempuan dan orang terdekat kita. Pertanyaannya adalah apakah kita rela jikalau hal itu terjadi?

Pelecehan Seksual Tidak Benar, Namun Apakah Hanya Berlaku Untuk Pria?

Pelecehan seksual baik secara fisik ataupun verbal diruang digital merupakan bentuk tindakan yang kejam, karena bisa mengganggu mental korban dan hal tersebut tidak bisa ditoleransi dengan dalih candaan tongkrongan. Namun dibalik kasus FH UI dan kecaman terhadap pelaku, muncul sebuah pertanyaan besar: Benarkah kemarahan kita hanya berlaku jika pelakunya adalah lelaki?

Kita terlalu fokus untuk melontari pelaku dengan kata-kata yang kejam, namun disaat yang sama, banyak dari kita terutama perempuan secara tidak disadari, mereka juga merupakan pelaku pelecehan seksual di media sosial. Mari kita jujur dan bercermin, lihatlah kolom komentar video yang menunjukan pria good looking. Dengan mudah kita melihat komentar seperti “mas, pangku”, “jaga fefek kalian girls”, “udah dititik pengen nyobain masnya”, ”kemarin aku nyobain masnya enak”.

(Infografis ini menyoroti standar ganda, pelecehan oleh pria dikecam keras, namun jika dilakukan wanita terhadap pria tampan sering dianggap candaan belaka. Ilustrasi: AI)

Paradoks Apabila Pelakunya Adalah Perempuan

Pertanyaannya simpel, apa bedanya hal itu dengan kekerasan yang terjadi dalam kasus FH UI? Bukannya kedua nya melakukan objektifikasi seksual? Bukankah keduanya sama sama melihat manusia sebagai objek pemuas nafsu? Dan ironisnya adalah ketika yang melakukan perempuan hal itu dianggap sebagai lelucon semata dan dicap sebagai bentuk kegaguman terhadap laki-laki.

Akan tetapi jika yang melakukan pelecehan seksual adalah lelaki, terjadi sebuah anggapan bahwa pelakunya merupakan makhluk hina, manusia rendahan, pola pikir bejad dan lain-lain. Jika kita beramai-ramai ingin menghapus permasalahan ini, kita harus menekankan bahwasannya kekerasan dan segala bentuk pelecehan merupakan suatu hal yang tidak etis, tanpa melihat apa gender dari pelaku.

Kasus FH UI Hanya Sebagian Kecil Dari Aksi Pelecehan Yang Terbongkar

Kasus yang terjadi di FH UI itu merupakan sebagian kecil dari tindakan keji yang dilakukan oleh manusia. Sebetulnya masih banyak sekali isi obrolan chat dan kejadian yang sama, dari kalangan mahasiswa, karyawan, hingga ke ranah akademisi seperti guru dan dosen.

Sebagai individu yang hidup dalam norma dan aturan yang berlaku, kita harus cermat dalam bersosialisasi diruang digital. Jika kita ingin menciptakan ruang yang aman bagi semua kalangan, maka haruslah kita saling menghargai dan mengingatkan, apalagi sebagai kaum intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial. Jangan sampai hal seperti itu terjadi kembali dan mencoreng nama baik mahasiswa.

Penulis: Aldi Cahyo Lesmana

Editor: Novandi Ali Akbar, Muhamad Saepul Saputra

Posting Komentar

0 Komentar