Ticker

6/recent/ticker-posts

Seribu Lilin Untuk Reformasi Mei Kelabu: Mahasiswa UMP Sebut Kondisi Politik Indonesia Sedang Sulit

(Puluhan peserta yang hadir pada acara Mei Kelabu Seribu Lilin memperingati Reformasi di UMP, Senin (18/5/2026). dok: LPM Obsesi)

Purwokerto- Puluhan mahasiswa memadati halaman Gedung Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dalam rangka penghidupan Seribu lilin untuk memperingati reformasi pada Mei kelabu, Senin (18/05/26). Acara ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMP.

Bagus selaku Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) UMP menyampaikan bahwa acara ini ditujukan untuk mengumpulkan massa mahasiwa agar jangan sesekali untuk melupakan sejarah (Jasmerah). Ia juga mengutarakan kalau acara ini diperuntukkan merefleksikan diri serta mengingat perjuangan para aktivis terdahulu yang gugur atau dihilangkan secara paksa dalam memperjuangkan keadilan.

“Bahwasanya reformasi itu enggak berhenti sampai dengan reformasi 1998. Yang kita tahu ya pada saat ini banyak sekali kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan, baik itu Presiden, Wakil Presiden, dan sebagainya, yang dirasa itu cukup untuk membuat rakyat ini kesulitan,” ujar Bagus.

Ia juga menambahkan bahwa gerakan Reformasi yang dapat dilakukan di masa kini dinilai menghadapi masalah yang cukup berat. Menurutnya salah satu penyebabnya karena ruang gerak atau ruang kebebasan milik pers terasa mulai dikurangi dan juga dibatasi oleh pemerintahan.

Hingga saat ini kita masih perlu adanya reformasi tersebut karena jika tidak ada reformasi, maka apa yang menjadi keresahan kita itu akan sulit untuk disampaikan. Apalagi mengingat saat ini pers sudah banyak sekali dikekang oleh pemerintahan dan kami sangat-sangat menginginkan kembali bahwasanya reformasi ini tetap berjalan sampai dengan Indonesia jaya,terangnya.

Fathan sebagai menteri Kementerian Politik dan Pergerakan (Polper) ikut menambahkan bahwasannya kondisi politik yang ada di indonesia ini sedang berada di masa sulit dan sudah tidak ada yang bisa diharapkan dari rezim fasis Prabowo saat ini. Fathan juga mengungkapkan bahwa kita sebagai mahasiswa jangan terlebih dahulu menghilang, tewas, dan juga tetap mengobarkan api semangat untuk terus melawan rezim fasis Prabowo kedepannya, bahkan hingga presiden presiden selanjutnya.

“Tetap semangat! Jangan menghilang dulu, jangan tewas dulu, tetap korbarkan api semangat. Yang penting intinya... tetap apa ya, lawan rezim fasis Prabowo hingga kedepannya mungkin ada presiden-presiden baru yang fasis, kita lawan terus selalu.” Ucapnya.

(Orasi yang sedang dilakukan oleh penyelenggara acara dari BEM FKIP UMP, Senin (18/5/2026). dok: LPM Obsesi)


Jika kita teliti lebih seksama, maka kita akan menemukan perbedaan signifikan pada gerakan reformasi tahun 1998 dengan gerakan yang dilakukan para mahasiswa saat ini. Pada tahun 1998 gerakan reformasi yang dilakukan cukup agresif, maka dari itu mahasiswa saat ini perlu menjadi garda terdepan dan menjadi agent of chance.

“Yang bisa kita lakukan pada saat ini kita bisa menjadi sosok mahasiswa yang menjadi garda terdepan atau agent of change dengan melihat perubahan-perubahan politik yang ada, memahami isu-isu sosial, dan kita bisa membantu rakyat dan juga orang-orang untuk menjadi wadah bagi aspirasi-aspirasi mereka yang mungkin menjadi keresahan yang ingin disampaikan kepada mereka-mereka yang berwenang.” Tuturnya.

Namun, selain mahasiswa pemerintah dan rakyat juga memegang peran penting dalam menciptakan reformasi yang kondusif tanpa tindakan agresif. Pada hakikatnya pemerintah lah yang mengerti skema, sistematika Perundang-Undangan, dan pelaksanaan Undang-Undang terutama undang-undang Dasar 1945.

Setelah itu rakyat juga berperan penting dalam pelaksanaan reformasi yang kondusif dan tidak agresif. Karena rakyat harus mengawal segala kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah, isu permasalahan sosial, dan juga kebutuhan serta hak-hak rakyat yang terjadi di masyarakat. Maka di sini lah rakyat berperan penting dalam mengawal apa yang seharusnya disampaikan dan apa yang seharusnya menjadi hak kita.

Aksi ini ditutup dengan harapan agar mahasiswa yang hadir tidak sekadar menjadi pendengar, tetapi mampu mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan di lingkungan masyarakat. Otator juga memiliki harapan agar para mahasiswa dapat terus bersama-sama mengingat perjuangan-perjuangan mereka yang telah tiada, terus memperjuangkan keadilan meski kita terus dibungkam.

Penulis: Ahmad Zubair

Reporter: Putri Wulan Brigantari, Alwa Shofwah, Alifia Syifaunnabila

Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah

 

 

 

  

Posting Komentar

0 Komentar