Ticker

6/recent/ticker-posts

Teach You a Lesson: Apakah Kekerasan Sungguh Mampu Menghadirkan Keadilan?


(Via netflix cover series Teach You a Lesson, Sumber: mariviu.com )

Sekolah sejatinya adalah ruang aman untuk menimba ilmu, tumbuh, dan merajut masa depan. Sayangnya kenyataan di lapangan tak seindah seperti kenyataan. Dalam sejumlah kasus, ketidakadilan di lingkungan pendidikan masih menjadi persoalan yang terus berulang. Dengan itu, Teach You a Lesson tampil bukan hanya sebagai tontonan aksi saja, tetapi juga sebagai gambaran tentang rapuhnya sistem pendidikan saat otoritas kehilangan kredibilitas dan hukum tidak lagi sanggup melindungi para korban.

Isu pendidikan kerap menjadi sorotan publik di banyak negara, tidak terkecuali Indonesia. Kasus perundungan, penyalahgunaan jabatan, diskriminasi, hingga berbagai bentuk kecurangan yang melibatkan pihak sekolah maupun orang tua masih kerap bermunculan di berbagai media sosial. Banyak guru yang terjebak pada posisi sulit ketika harus menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang memiliki pengaruh besar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sekolah tidak hanya bergulat dengan tantangan proses belajar-mengajar, tetapi juga dengan upaya menjaga keadilan dan integritas. Bertolak dari kenyataan tersebut, Teach You a Lesson terasa dekat dengan kehidupan nyata karena mengangkat persoalan yang akrab dengan masyarakat, sekaligus mengajak penonton untuk kembali merenungkan fungsi sekolah sebagai ruang yang aman dan adil bagi semua orang.

Drama ini menyoroti perjalanan Badan Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP), sebuah organisasi khusus yang bergerak menangani berbagai masalah di sekolah saat mekanisme yang seharusnya berjalan justru tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Di bawah kepemimpinan Na Hwa-jin bersama timnya, mereka menuntaskan kasus-kasus yang mencakup perundungan, penyalahgunaan jabatan, hingga tindak manipulasi yang mengancam hak siswa untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Daripada menyuguhkan kisah sekolah yang santai, drama ini justru menampilkan konflik yang kaya akan kritik sosial.

Kendati dikemas dengan adegan laga dan ketegangan pada tiap episodenya, kekuatan utama Teach You a Lesson justru terletak pada keberaniannya mempertanyakan arah pendidikan yang mulai kabur. Drama ini menunjukkan bagaimana guru dipaksa patuh pada tekanan orang tua yang berkuasa, pihak sekolah lebih mengutamakan reputasi ketimbang melindungi korban, sementara siswa yang semestinya merasa aman justru menjadi pihak yang paling dirugikan. Persoalan-persoalan tersebut terasa dekat dengan kenyataan yang kerap muncul di pemberitaan, sehingga konflik yang disuguhkan tidak sepenuhnya asing bagi penonton.

Salah satu aspek menarik dari drama ini adalah caranya menunjukkan bahwa ketidakadilan di sekolah tidak melulu bersumber dari siswa. Orang tua maupun pihak sekolah yang berkuasa turut menjadi bagian dari rantai persoalan tersebut. Ambisi mempertahankan status, kepentingan pribadi, bahkan praktik manipulasi demi meraih prestasi menjadi sasaran kritik yang disampaikan secara terang-terangan. Di titik inilah, Teach You a Lesson berhasil menegaskan bahwa rusaknya dunia pendidikan kerap kali merupakan akibat dari kegagalan sistem, bukan sekadar kesalahan perorangan.

Selain itu, drama ini turut menyoroti keterkaitan antara pendidikan dan hukum. Ketika aturan tidak lagi memihak pada korban, kepercayaan terhadap sistem pun perlahan luntur. Sejumlah konflik menggambarkan bagaimana pelaku bisa lolos dari jerat hukum berkat pengaruh kekuasaan atau uang, sementara korban justru harus menanggung akibat dari ketidakadilan itu. Situasi semacam ini kemudian memunculkan pertanyaan besar, ketika hukum tak lagi mampu menjalankan fungsinya, kepada siapa korban harus menuntut keadilan?

Pertanyaan tersebut berusaha dijawab melalui karakter Na Hwa-jin dan timnya, yang mengambil langkah tegas dalam menyelesaikan berbagai konflik. Bagi sebagian penonton, tindakan mereka terasa memuaskan karena menghadirkan hukuman yang selama ini tak kunjung  diwujudkan oleh sistem. Akan tetapi, pendekatan seperti itu juga menimbulkan dilema moral tersendiri. Drama ini tidak serta-merta mengajak penonton untuk membenarkan kekerasan. Sebaliknya, ia memperlihatkan bagaimana kegagalan sistem dapat membuat tindakan ekstrem terlihat sebagai satu-satunya jalan yang tersisa. Di titik inilah letak kekuatan sekaligus ruang diskusi yang dihadirkan oleh Teach You a Lesson.

(Na Hwa jin sebagai pengawas dari Biro Perlindungan Hak Pendidikan, penegak hukum 
dan keadilan demi pendidikan. Sumber: selfietime.id )
Dari segi penyajian, drama ini berhasil mempertahankan ketegangan di hampir setiap episodenya. Alur ceritanya yang cepat membuat tiap kasus terasa padat dan tidak bertele-tele, sementara akting para pemeran mampu membangun emosi yang meyakinkan. Adegan laga yang disuguhkan bukan sekadar hiburan semata, melainkan juga berperan memperkuat konflik yang tengah dihadapi oleh para pemain karakternya. Meski begitu, penyelesaian yang kerap mengandalkan konfrontasi fisik membuat ruang untuk mengeksplorasi penyelesaian yang lebih dialogis menjadi sedikit terbatas. Hal ini tidak mengurangi kualitas cerita, melainkan menjadi catatan bahwa kompleksitas persoalan pendidikan pada dasarnya tidak selalu bisa dituntaskan lewat pendekatan yang serupa.

Pada akhirnya, Teach You a Lesson bukan hanya sekadar tontonan tentang menghukum siswa bermasalah atau memberi rasa puas ketika pelaku menerima konsekuensi atas perbuatannya. Drama ini menawarkan lebih dari itu. Ia mengajak penonton untuk mempertanyakan mengapa ruang pendidikan bisa kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat yang aman dan adil bagi semua orang. Alih-alih menghadirkan jawaban pasti atas pertanyaan yang diajukan dalam judul resensi ini, Teach You a Lesson justru meninggalkan renungan yang lebih penting: seandainya sistem pendidikan dan hukum benar-benar menjalankan perannya dengan semestinya, masih mungkinkah cara-cara ekstrem seperti yang ditampilkan dalam drama ini dianggap sebagai jalan menuju keadilan.

Penulis: Naila Izzatul Ihya

Editor: Novandi Ali Akbar, Muhamad Saepul Saputra




Posting Komentar

0 Komentar