Suara
2.000 babon berkotek dan aroma pakan membuat udara di dalam serun Badan Usaha
Milik Desa (BUMDes) Mitra Karsa Batuanten terasa penuh. Namun, bagi Muhtarulloh,
kepala serun, perhitungan cepat yang dia lakukan setiap pagi adalah suara yang
paling nyaring.
Sejak
akhir Ramadan, aktivitas rutinnya dihantui oleh kenyataan pahit karena harga
satu karung pakan telah melambung menjadi Rp360.000, sementara harga telur di
pasaran terus merosot tajam. Saat dia berjalan di antara deretan serun, Muhtar
tidak hanya melihat dan mengumpulkan hasil produksi telur, tetapi juga mencari “bayangan”,
yaitu babon yang makan tetapi tak bertelur. Dia tahu bahwa seekor ayam yang
tidak produktif adalah kemewahan yang tidak lagi mampu dibayar oleh usaha desa
dalam kondisi ekonomi saat ini.
Namun,
cengkraman finansial yang terjadi saat ini hanyalah salah satu bagian terbaru
dari sebuah perjalanan panjang. Di tengah kalkulasi biaya operasional yang
mengerikan itu, Muhtar sering menarik napas panjang, memandang kembali
bagaimana setiap sudut serun ini dibangun dengan ribuan asa untuk desanya.
Pada
September 2025, langkah besar itu dimulai. Muhtar dan pengurus desa menyetujui
investasi dalam dua serun ayam petelur dengan dana tambahan dari BUMDes Mitra
Karsa. Saat itu, mengurus hampir 1.900 ekor ayam merupakan tanggung jawab yang besar
untuk membantu ekonomi warga, bukan sekadar bisnis.
Buah dari Kesabaran yang Mulai Terlihat
Setelah
beberapa bulan berlalu, perjalanan ini tidak selalu lancar. Ada masa ketika
Muhtar sedih melihat sekitar 60 ekor ayamnya mati saat awal bertelur. Namun,
ikhtiar yang telaten membuahkan hasil. Ayam-ayam tersebut menghargai kerja kerasnya
melalui peningkatan produktivitas lebih dari 90% pada usia 48 minggu.
Muhtar memperkuat rantai pangan desa dengan mengirimkan sekitar 100 kg telur berkualitas ke warung-warung tetangga dan distributor setiap pagi. Ia menuturkan bahwa aka nada pembangunan serun ketiga dan gudang pakan baru dari keuntungan yang dikumpulkan.
”Alhamdulillah, ada rezeki lebih, jadi (kami) membuat kandang baru lagi sekalian sama gudangnya,” tutur Mukhtar, matanya yang berpendar, tersimpul rasa bangga yang tak dapat disembunyikan.
Keseharian
Muhtar setiap pagi selalu dimulai dengan mengumpulkan telur yang menggelinding
di wadah kandang. Ia menyortirnya dengan telaten untuk menyingkirkan telur yang
retak atau kurang bagus dari produksi harian rata-rata 103-105 kg. Hasilnya,
setiap hari ada sekitar 100 kilo gram telur berkualitas dan bersih yang siap
dipasarkan.
Muhtar
memilih cara pemasaran yang personal dan dekat dengan warga. Ia mengangkut
telur ke 4 atau 5 toko kelontong di desanya secara langsung dengan menggunakan
pesanan WhatsApp. Pengantaran gratis memungkinkan dia mempertahankan hubungan
baik dan mendapatkan harga lebih tinggi antara Rp1.000 dan Rp2.000 daripada
menjual langsung ke pengepul telur. Selain memenuhi kebutuhan warung desa, stok
telur dari BUMDes juga diberikan kepada program Makan Bergizi Gratis (MBG)
lokal serta memenuhi permintaan distributor di luar daerah saat stok mereka
habis.
Strategi
Bertahan Saat Keadaan Tak Menentu
Harga
pakan pabrikan naik hingga Rp360.000 per karung, sementara harga telur di
tingkat peternak Banyumas sempat turun hingga Rp23.000 per kilogram. Ini
merupakan masalah terbesar bagi peternakan ini. Menghadapi situasi yang
membatasi laba, Muhtar memilih untuk tetap menggunakan pakan berkualitas tinggi
untuk menjaga kesehatan ayam dan menjaga cangkang telur tetap tebal.
Sebaliknya, ia menggunakan strategi yang efisien dengan menerapkan
sistem “absen harian” di kandang. Muhtar memeriksa setiap ayam secara
individual untuk mengetahui apakah mereka bertelur atau tidak. Jika tidak
bertelur selama tiga hari hingga satu minggu, ayam tersebut akan dipisahkan
untuk dijual sebagai ayam potong atau dimakan sendiri.
“Daripada kita memberikan pakan kepada hewan (ayam)
yang tidak produktif, kan eman-eman,” tuturnya. Kata “eman-eman” (sayang
sekali) mencerminkan prinsip kepraktisannya sebagai manajer, setiap gram pakan
yang keluar harus berguna dan tidak boleh terbuang sia-sia saat situasi sulit.
Muhtar menerapkan prinsip pengelolaan keuangan yang
sederhana tetapi disiplin, yaitu subsidi silang, untuk memastikan BUMDes Mitra
Karsa tetap beroperasi. Selama harga telur sedang tinggi, keuntungan tidak
dipakai untuk keperluan yang konsumtif, melainkan disimpan dengan ketat sebagai
cadangan untuk menghadapi kesulitan ketika harga pakan meningkat atau pasar
melemah.
Fokus Muhtar tidak berubah meskipun keadaan sedang
berubah. Menurutnya, peternakan ini lebih dari sekadar bisnis biasa, itu adalah
tanggung jawab untuk memastikan bahwa bisnis Desa Batuanten dapat beroperasi
secara mandiri tanpa terganggu oleh ketidakpastian pasar.
Penulis: Alifia Syifaunnabila
Editor: Muhamad Saepul Saputra

.jpeg)
0 Komentar