Ticker

6/recent/ticker-posts

Perjuangan Petani Telur Menghadapi Kenaikan Biaya Pakan dan Ketidakstabilan Harga Jual Telur


(Kondisi kandang atau serun milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Karsa Batuanten. 
dok: LPM Obsesi)

Suara 2.000 babon berkotek dan aroma pakan membuat udara di dalam serun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Karsa Batuanten terasa penuh. Namun, bagi Muhtarulloh, kepala serun, perhitungan cepat yang dia lakukan setiap pagi adalah suara yang paling nyaring.

Sejak akhir Ramadan, aktivitas rutinnya dihantui oleh kenyataan pahit karena harga satu karung pakan telah melambung menjadi Rp360.000, sementara harga telur di pasaran terus merosot tajam. Saat dia berjalan di antara deretan serun, Muhtar tidak hanya melihat dan mengumpulkan hasil produksi telur, tetapi juga mencari “bayangan”, yaitu babon yang makan tetapi tak bertelur. Dia tahu bahwa seekor ayam yang tidak produktif adalah kemewahan yang tidak lagi mampu dibayar oleh usaha desa dalam kondisi ekonomi saat ini.

Namun, cengkraman finansial yang terjadi saat ini hanyalah salah satu bagian terbaru dari sebuah perjalanan panjang. Di tengah kalkulasi biaya operasional yang mengerikan itu, Muhtar sering menarik napas panjang, memandang kembali bagaimana setiap sudut serun ini dibangun dengan ribuan asa untuk desanya.

Pada September 2025, langkah besar itu dimulai. Muhtar dan pengurus desa menyetujui investasi dalam dua serun ayam petelur dengan dana tambahan dari BUMDes Mitra Karsa. Saat itu, mengurus hampir 1.900 ekor ayam merupakan tanggung jawab yang besar untuk membantu ekonomi warga, bukan sekadar bisnis.

Buah dari Kesabaran yang Mulai Terlihat

Setelah beberapa bulan berlalu, perjalanan ini tidak selalu lancar. Ada masa ketika Muhtar sedih melihat sekitar 60 ekor ayamnya mati saat awal bertelur. Namun, ikhtiar yang telaten membuahkan hasil. Ayam-ayam tersebut menghargai kerja kerasnya melalui peningkatan produktivitas lebih dari 90% pada usia 48 minggu.

Muhtar memperkuat rantai pangan desa dengan mengirimkan sekitar 100 kg telur berkualitas ke warung-warung tetangga dan distributor setiap pagi. Ia menuturkan bahwa aka nada pembangunan serun ketiga dan gudang pakan baru dari keuntungan yang dikumpulkan.

”Alhamdulillah, ada rezeki lebih, jadi (kami) membuat kandang baru lagi sekalian sama gudangnya,” tutur Mukhtar, matanya yang berpendar, tersimpul rasa bangga yang tak dapat disembunyikan.

(Potret ayam petelur yang ada di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Karsa Batuanten. 
dok: LPM Obsesi)

Keseharian Muhtar setiap pagi selalu dimulai dengan mengumpulkan telur yang menggelinding di wadah kandang. Ia menyortirnya dengan telaten untuk menyingkirkan telur yang retak atau kurang bagus dari produksi harian rata-rata 103-105 kg. Hasilnya, setiap hari ada sekitar 100 kilo gram telur berkualitas dan bersih yang siap dipasarkan.

Muhtar memilih cara pemasaran yang personal dan dekat dengan warga. Ia mengangkut telur ke 4 atau 5 toko kelontong di desanya secara langsung dengan menggunakan pesanan WhatsApp. Pengantaran gratis memungkinkan dia mempertahankan hubungan baik dan mendapatkan harga lebih tinggi antara Rp1.000 dan Rp2.000 daripada menjual langsung ke pengepul telur. Selain memenuhi kebutuhan warung desa, stok telur dari BUMDes juga diberikan kepada program Makan Bergizi Gratis (MBG) lokal serta memenuhi permintaan distributor di luar daerah saat stok mereka habis.

Strategi Bertahan Saat Keadaan Tak Menentu

Harga pakan pabrikan naik hingga Rp360.000 per karung, sementara harga telur di tingkat peternak Banyumas sempat turun hingga Rp23.000 per kilogram. Ini merupakan masalah terbesar bagi peternakan ini. Menghadapi situasi yang membatasi laba, Muhtar memilih untuk tetap menggunakan pakan berkualitas tinggi untuk menjaga kesehatan ayam dan menjaga cangkang telur tetap tebal.

Sebaliknya, ia menggunakan  strategi yang efisien dengan menerapkan sistem “absen harian” di kandang. Muhtar memeriksa setiap ayam secara individual untuk mengetahui apakah mereka bertelur atau tidak. Jika tidak bertelur selama tiga hari hingga satu minggu, ayam tersebut akan dipisahkan untuk dijual sebagai ayam potong atau dimakan sendiri.

“Daripada kita memberikan pakan kepada hewan (ayam) yang tidak produktif, kan eman-eman,” tuturnya. Kata “eman-eman” (sayang sekali) mencerminkan prinsip kepraktisannya sebagai manajer, setiap gram pakan yang keluar harus berguna dan tidak boleh terbuang sia-sia saat situasi sulit.

Muhtar menerapkan prinsip pengelolaan keuangan yang sederhana tetapi disiplin, yaitu subsidi silang, untuk memastikan BUMDes Mitra Karsa tetap beroperasi. Selama harga telur sedang tinggi, keuntungan tidak dipakai untuk keperluan yang konsumtif, melainkan disimpan dengan ketat sebagai cadangan untuk menghadapi kesulitan ketika harga pakan meningkat atau pasar melemah.

Fokus Muhtar tidak berubah meskipun keadaan sedang berubah. Menurutnya, peternakan ini lebih dari sekadar bisnis biasa, itu adalah tanggung jawab untuk memastikan bahwa bisnis Desa Batuanten dapat beroperasi secara mandiri tanpa terganggu oleh ketidakpastian pasar.

Penulis: Alifia Syifaunnabila

Editor: Muhamad Saepul Saputra

Posting Komentar

0 Komentar