![]() |
| (Ilustrasi perayaan Idul Adha dengan penyembelihan hewan kurban. Sumber: NU Online) |
Setiap tahun kita sibuk memilih hewan
kurban terbaik, menimbang bobot sapinya, atau mengantre sekertas kupon daging.
Namun, kita kerap
lupa bahwa esensi Iduladha tidak pernah terletak pada apa yang disembelih di pelataran masjid, melainkan
pada apa yang berhasil kita sembelih di dalam ego kita sendiri.
Jika Idulfitri adalah tentang seberapa
lapang dada kita untuk memaafkan sesama, maka Iduladha adalah ujian terbesar untuk melatih
seberapa ikhlas kita melepaskan apa yang paling kita cintai. Menjadi momentum untuk
menyadari bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar kita miliki.
Kita
Hanyalah Umat Yang Mendapatkan Titipan di Dunia
Mari menengok kembali sejarahnya, Nabi
Ibrahim tidak diminta untuk menyembelih sesuatu yang dibencinya, melainkan
putra kandung yang begitu dinanti dan dicintainya setengah mati. Namun, di abad
ke-21 ini, 'Ismail' bagi kita tentu bukan lagi seorang anak dalam arti harfiah, 'Ismail' kita hari ini
menjelma menjadi jabatan yang dikejar, karier yang diagungkan, ekspektasi masa
depan, harta kekayaan, atau bahkan ego dan harga diri yang enggan kita
turunkan.
Mengikhlaskan 'Ismail' versi modern ini
berarti berani meruntuhkan ilusi kepemilikan. Kita sering kali stres, cemas,
dan kecewa hebat karena merasa memiliki sesuatu seutuhnya, sampai lupa bahwa
kita hanyalah seorang musafir yang sedang dititipi di dunia.
![]() |
| (Ilustrasi pembagian daging kurban kepada orang yang membutuhkan. Sumber; Pinterest) |
Manusia
Modern Yang Tidak Dapat Bersyukur
Ketakutan
untuk melepaskan ini sebenarnya berakar dari penyakit manusia modern yang
selalu merasa kurang. Kita hidup di era yang mendewakan pencapaian materi, di
mana nilai seorang manusia sering kali diukur dari seberapa banyak hal yang
berhasil ia genggam dan pamerkan. Akibatnya, esensi ikhlas menjadi sesuatu yang
asing, bahkan menakutkan.
Kita takut
kehilangan privilege, takut tertinggal dari orang lain, dan takut
masa depan kita terancam jika kita melepaskan apa yang kita punya. Padahal,
Iduladha hadir sebagai pengingat bahwa sifat posesif manusia terhadap dunia
justru menjadi akar dari segala kegelisahan batin. Kita tidak akan pernah
menemukan kedamaian sebelum kita berani melonggarkan genggaman tangan kita dari
urusan duniawi.
Sebab, mereka yang belum selesai dengan
'Ismail'-nya, yang masih dipelihara keserakahan, ketakutan akan kehilangan, dan
keangkuhan ego, tidak akan pernah bisa berbagi dengan tulus. Padahal, saat kita
menyembelih hewan kurban dan membagikannya, kita sebenarnya sedang menyembelih
sifat kikir dan egoisme di dalam dada kita sendiri. Di sinilah kurban bekerja
meruntuhkan sekat-sekat sosial.
Tidak Terdapat Jarak Antar Si
Miskin dan Si Kaya
Pada hari yang agung ini, si kaya dan si
miskin duduk di atas sajadah yang sama, menikmati hidangan yang sama, tanpa ada
jarak yang memisahkan. Berbagi di hari raya kurban adalah sebuah investasi. Ketika
kita berani melepaskan sesuatu demi Allah, keikhlasan itu tidak akan menguap
sia-sia, melainkan menjelma menjadi kebahagiaan yang menghidupkan jiwa-jiwa di
sekitar kita, mengalirkan manfaat, dan memulangkan keberkahan ke dalam hidup
kita sendiri.
Pada akhirnya, Iduladha adalah sebuah
madrasah kehidupan yang mengajarkan kita untuk ikhlas mendongak ke atas,
sekaligus peka menunduk ke bawah. Tahun
ini, saat gema takbir berkumandang, perenungan kembali pulang ke diri kita
masing-masing: hewan apa yang sedang kita kurbankan, dan 'Ismail' mana yang
sudah berani kita ikhlaskan? Sebab pada hakikatnya, kita tidak akan pernah
benar-benar kehilangan apa yang telah kita lepaskan demi Pemilik Semesta.
Penulis: Awalia Qolbi Isma Fadhilah
Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah


0 Komentar