Ticker

6/recent/ticker-posts

Meruntuhkan Ilusi Kepemilikan di Hari Raya Kurban

 

(Ilustrasi perayaan Idul Adha dengan penyembelihan hewan kurban. Sumber: NU Online)

Setiap tahun kita sibuk memilih hewan kurban terbaik, menimbang bobot sapinya, atau mengantre sekertas kupon daging. Namun, kita kerap lupa bahwa esensi Iduladha tidak pernah terletak pada apa yang disembelih di pelataran masjid, melainkan pada apa yang berhasil kita sembelih di dalam ego kita sendiri.

Jika Idulfitri adalah tentang seberapa lapang dada kita untuk memaafkan sesama, maka Iduladha adalah ujian terbesar untuk melatih seberapa ikhlas kita melepaskan apa yang paling kita cintai. Menjadi momentum untuk menyadari bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar kita miliki.

Kita Hanyalah Umat Yang Mendapatkan Titipan di Dunia

Mari menengok kembali sejarahnya, Nabi Ibrahim tidak diminta untuk menyembelih sesuatu yang dibencinya, melainkan putra kandung yang begitu dinanti dan dicintainya setengah mati. Namun, di abad ke-21 ini, 'Ismail' bagi kita tentu bukan lagi seorang anak dalam arti harfiah, 'Ismail' kita hari ini menjelma menjadi jabatan yang dikejar, karier yang diagungkan, ekspektasi masa depan, harta kekayaan, atau bahkan ego dan harga diri yang enggan kita turunkan.

Mengikhlaskan 'Ismail' versi modern ini berarti berani meruntuhkan ilusi kepemilikan. Kita sering kali stres, cemas, dan kecewa hebat karena merasa memiliki sesuatu seutuhnya, sampai lupa bahwa kita hanyalah seorang musafir yang sedang dititipi di dunia.

(Ilustrasi pembagian daging kurban kepada orang yang membutuhkan. Sumber; Pinterest)


Manusia Modern Yang Tidak Dapat Bersyukur

Ketakutan untuk melepaskan ini sebenarnya berakar dari penyakit manusia modern yang selalu merasa kurang. Kita hidup di era yang mendewakan pencapaian materi, di mana nilai seorang manusia sering kali diukur dari seberapa banyak hal yang berhasil ia genggam dan pamerkan. Akibatnya, esensi ikhlas menjadi sesuatu yang asing, bahkan menakutkan.

Kita takut kehilangan privilege, takut tertinggal dari orang lain, dan takut masa depan kita terancam jika kita melepaskan apa yang kita punya. Padahal, Iduladha hadir sebagai pengingat bahwa sifat posesif manusia terhadap dunia justru menjadi akar dari segala kegelisahan batin. Kita tidak akan pernah menemukan kedamaian sebelum kita berani melonggarkan genggaman tangan kita dari urusan duniawi.

Sebab, mereka yang belum selesai dengan 'Ismail'-nya, yang masih dipelihara keserakahan, ketakutan akan kehilangan, dan keangkuhan ego, tidak akan pernah bisa berbagi dengan tulus. Padahal, saat kita menyembelih hewan kurban dan membagikannya, kita sebenarnya sedang menyembelih sifat kikir dan egoisme di dalam dada kita sendiri. Di sinilah kurban bekerja meruntuhkan sekat-sekat sosial.

Tidak Terdapat Jarak Antar Si Miskin dan Si Kaya

Pada hari yang agung ini, si kaya dan si miskin duduk di atas sajadah yang sama, menikmati hidangan yang sama, tanpa ada jarak yang memisahkan. Berbagi di hari raya kurban adalah sebuah investasi. Ketika kita berani melepaskan sesuatu demi Allah, keikhlasan itu tidak akan menguap sia-sia, melainkan menjelma menjadi kebahagiaan yang menghidupkan jiwa-jiwa di sekitar kita, mengalirkan manfaat, dan memulangkan keberkahan ke dalam hidup kita sendiri.

Pada akhirnya, Iduladha adalah sebuah madrasah kehidupan yang mengajarkan kita untuk ikhlas mendongak ke atas, sekaligus peka menunduk ke bawah. Tahun ini, saat gema takbir berkumandang, perenungan kembali pulang ke diri kita masing-masing: hewan apa yang sedang kita kurbankan, dan 'Ismail' mana yang sudah berani kita ikhlaskan? Sebab pada hakikatnya, kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan apa yang telah kita lepaskan demi Pemilik Semesta.

Penulis: Awalia Qolbi Isma Fadhilah

Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah

Posting Komentar

0 Komentar