.jpeg)
(Dua petugas mengenakan perlengkapan khusus berupa pakaian pelindung, helm, dan masker ketika menangani kebakaran hutan. Sumber: Detik.News)
Hutan Kalimantan merupakan salah satu paru-paru dunia yang dikenal sebagai pertahanan iklim bumi. Sayangnya, pada masa kini banyak pekerjaan yang hanya berfokus pada aspek ekonomi sebagai lahan komoditas yang patuh mencetak keuntungan, sehingga fungsi ekosistem dan keberlanjutan hidupnya dikesampingkan. Dimana pemerintah seharusnya menerapkan regulasi ketat guna melindungi kawasan hutan dari eksploitasi liar. Selain itu, masyarakat setempat juga perlu kesadaran mengenai menjaga kelestarian lingkungan demi generasi mendatang.
Siklus kebakaran hutan dan lahan yang kembali terjadi di akhir Agustus 2026 ini, tampaknya menjadi bentuk penolakan tegas dari alam terhadap gagasan bahwa hutan hanya bernilai jika fungsi alaminya diubah. Menjadikan hutan rawa gambut sebagai komoditas semata nyatanya merenggut kebebasan ekosistem itu sendiri, dan pembukaan lahan secara besar-besaran sering kali hanya menjadi strategi mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek semata. Bencana asap tersebut mengancam kesehatan warga secara drastis di berbagai wilayah.
Lahan gambut adalah pahlawan yang tidak bersuara tapi memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan udara kita. Namun, naskah aslinya ditolak dengan banyak tanda coretan yang menunjukkan tanda kering, karena karakter utama dalam cerita industri tidak menyukai rawa yang basah, melainkan daratan kering yang siap ditanami dan bisa menghasilkan keuntungan. Sikap serakah yang memaksakan pengeringan lahan gambut demi profit ini jelas merupakan langkah keliru yang dapat mengorbankan keselamatan iklim global.
Demi mengejar target pertumbuhan, rawa gambut yang mengering beralih menjadi bom waktu. Sekali tersulut, ia menanggung beban terbakar di bawah permukaan tanah selama berpekan-pekan. Asap pekat yang dihasilkannya tidak hanya menyesakkan dada warga lokal, tetapi terbang melintasi batas negara hingga mencekik langit di 21 wilayah negara tetangga, Malaysia. Udara beracun ini seolah menjadi jeritan dari sebuah pilihan tata kelola yang keliru. Selain mencintai tanahnya, alam juga begitu menghidupi segala ciptaan yang berlindung padanya. Satwa-satwa endemik dan masyarakat lokal adalah bagian yang sangat bergantung pada kebaikan hutan, di mana keberadaan mereka saling mendukung menjadi nyawa bagi ekosistem, hingga akhirnya ancaman api dan hilangnya habitat membuat mereka tersingkir secara perlahan.
![]() |
| (Kobaran api tampak menjalar di kawasan yang dipenuhi semak dan pepohonan pada malam hari. Sumber: Detik.News) |
Kehilangan demi kehilangan mulai dari rusaknya ruang hidup satwa hingga anak-anak yang terjangkit infeksi pernapasan membuat kita seharusnya sangat terpukul dan berhenti sejenak untuk berefleksi. Ingatan tentang bagaimana hutan Kalimantan begitu asri dan menghidupi bumi terputar setiap kali kabut asap menutupi matahari, hal yang semestinya berhasil membangkitkan kembali semangat kita untuk memulihkan keadaan.
Setelah perjalanan panjang di bawah bayang-bayang kabut asap, kini saatnya kita menulis ulang naskah kehidupan ini. Melalui restorasi gambut, kebijakan perlindungan yang tegas, dan pelibatan masyarakat adat, kita harus memastikan "hak cipta" atas ruang hidup kembali pada keseimbangan alam. Setiap jengkal tanah yang kita pulihkan hari ini adalah napas penyelemat yang melintasi sekat ruang dan waktu. Kisah karhutla Kalimantan adalah cerminan peradaban masa kini yang menuntut kita untuk berani menjadikan keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas, bukan lagi sekadar tumbal bagi ekspektasi ekonomi yang serakah.
Perjuangan menjaga hutan adalah wujud eksistensialisme nyata; kita mendefinisikan kemanusiaan melalui tindakan merawat dan menolak perusakan. Pada akhirnya, jalan panjang memulihkan Kalimantan membuktikan bahwa esensi kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa luas lahan yang dieksploitasi, melainkan dari keberanian kita merawat kehidupan dan hidup berdampingan dengan alam. Seluruh lapisan masyarakat harus bersatu menegakkan komitmen ini demi menyelamatkan masa depan bumi dari ancaman kehancuran
Penulis: Felira Pradatiara
Editor: Alwa Shofwah

0 Komentar