Terik matahari menyelinap di antara
celah gedung kampus Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri
(UIN Saizu) Purwokerto. Butir keringat membasahi dahi seorang mahasiswa. Ia
sesekali melirik jam tangan, sembari mempercepat langkah bersama rombongan
mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) lainnya, menjajaki satu
gedung fakultas ke gedung lain demi menemukan ruang kelas untuk perkuliahan.
Fenomena “mahasiswa nomaden” ini
telah menjadi pemandangan harian yang ironis. Sebagai fakultas dengan jumlah
mahasiswa terbanyak di UIN Saizu, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK)
justru menghadapi krisis ruang kelas. Fasilitas sarana dan prasarana yang
tersedia seolah berjalan di tempat, belum mampu mengimbangi lonjakan jumlah
mahasiswa yang masuk setiap tahunnya.
Berdasarkan data dari Kepala Bagian
Tata Usaha FTIK, Nida Umi Farhah, fakultas dengan tujuh program studi ini
menampung lebih dari 4.000 mahasiswa angkatan 2025. Jumlah tersebut hanya
ditopang oleh 18 ruang kelas. Akibatnya, jadwal perkuliahan kerap harus
menumpang pada sela-sela kekosongan ruang kelas di fakultas lain.
Lonjakan minat masyarakat terhadap
FTIK, khususnya prodi PAI, menjadi pemicu utama. Pada penerimaan mahasiswa baru
tahun 2025, ketersediaan kelas prodi PAI sebenarnya hanya untuk 8 kelas, namun
jumlah mahasiswa yang masuk membeludak hingga 11 kelas. Kelebihan kapasitas
inilah yang menjadi hulu dari berbagai sengkarut perkuliahan.
Kondisi ini kian diperparah saat dosen meminta pergantian jam kuliah secara mendadak. Menyusuri ruang kelas ke fakultas lain menjadi pilihan terakhir agar pembelajaran tatap muka tetap berlangsung.
Kendala Dosen dan Fasilitas
Acap kali dosen mengganti jadwal
kuliah, entah karena kesibukan penelitian atau urusan birokrasi lainnya,
menyebabkan mahasiswa kesulitan mencari ruang kelas. ”Pernah, apalagi kalau
dosen minta ganti jam di waktu kampus sedang ramai. Kami kesusahan mencari
ruang kosong sampai harus menyisir fakultas lain yang ruangannya tidak
terpakai,” keluh Intan, mahasiswi PAI, di tengah kebisingan dalam kelas.
Korban dari ketidakteraturan ini
lagi-lagi mahasiswa. Mereka harus pontang-panting berburu informasi ruang
kosong hingga menyisir satu per satu gedung tetangga. Perjuangan mendapatkan
ruang kelas hanyalah babak pertama. Babak berikutnya adalah menghadapi
fasilitas yang jauh dari kata layak. Intan menceritakan bagaimana presentasi
kelompok sering kali terhambat karena kendala teknis.
"Sering kali proyektor di
ruangan yang kami tempati itu rusak, bahkan ada yang hilang. Padahal kami sudah
menyiapkan materi presentasi di PPT, akhirnya jadi tidak bisa
ditampilkan," keluh Intan. Tak hanya itu, AC yang mati di beberapa ruangan
juga memperburuk suasana perkuliahan. Di tengah ruangan yang sesak dan udara
yang panas, konsentrasi mahasiswa buyar. "Perkuliahan jadi tidak bisa
fokus karena mahasiswa kegerahan," tambahnya.
Dampak Sosial: Gesekan Antar
Mahasiswa dan Sentimen Negatif
Penggunaan ruang kelas di berbagai
fakultas oleh mahasiswa FTIK ini mulai memicu gesekan sosial. Mahasiswa fakultas
tuan rumah merasa hak mereka terganggu, sementara mahasiswa FTIK merasa punya
hak yang sama sebagai warga universitas karena menempati ruangan yang sedang
kosong.
Laesya, mahasiswa PAI, pernah
merasakan pahitnya gesekan tersebut pada semester pertamanya. Saat mencoba
menggunakan ruang kosong di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), ia
terlibat perselisihan dengan mahasiswa setempat yang mengklaim ruangan itu.
Demi menghindari keributan yang lebih panjang, Laesya bersama teman-temannya
memilih mengalah dan meninggalkan lokasi.
Sentimen negatif pun mulai tumbuh di
kalangan mahasiswa FEBI. Mulai dari jadwal kuliah yang harus digeser ke jam
yang kurang ideal, yakni pukul 16.00–17.00 WIB, demi berbagi kuota ruang,
hingga persoalan klasik berupa lahan parkir yang kian menyempit.
”Dampaknya terasa pada kondisi
belajar yang tidak kondusif karena lingkungan FEBI jadi sangat sesak oleh
mahasiswa fakultas lain yang menunggu giliran kelas,” ungkap Salsha, mahasiswi
FEBI.
Langkah Birokrasi dan
Ketidakpastian Penambahan Gedung
Menanggapi carut-marut tersebut,
Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) FTIK, Nida Umi Farhah, menjelaskan bahwa
pihak fakultas telah melakukan berbagai langkah proaktif. Sejak awal semester,
ia secara rutin berkoordinasi dengan fakultas lain untuk mendata ketersediaan
ruang kelas. FTIK juga memanfaatkan jejaring dosen yang memiliki jabatan di
fakultas lain guna mempermudah akses peminjaman ruang.
Menurut keterangannya, semua kelas
sudah mendapat ruangan di hari pertama awal semester. ”Kalau berbicara ruangan,
kita sangat tidak mencukupi, kami setiap awal semester itu harus berburu
ruangan ke seluruh fakultas untuk mencari ruang sisa. Jadi, semua kelas itu
sudah mendapat ruang kelas untuk kuliah. Cuman ya itu, masalahnya kadang ada
dosen yang minta ganti jam kuliah. Padahal saya sudah bilang ke para dosen jangan sembarangan mengganti
jam kuliah, karena kita memang kekurangan ruang kelas,” ujarnya.
Nida juga sering terjun langsung ke
lapangan memastikan mahasiswa FTIK bisa mendapatkan ruang untuk belajar.
Adakalanya memastikan mahasiswa supaya memarkirkan motor yang rapi di
lingkungan FEBI.
Sebagai kompensasi atas penggunaan
fasilitas, pihak FTIK menyatakan komitmennya dalam pemeliharaan sarana dan
prasarana di fakultas lain. Hal ini bukan sekadar janji lisan, tanggung jawab
perawatan gedung E di Fakultas Dakwah, misalnya, tertuang dalam perjanjian
tertulis yang ditandatangani oleh Wakil Dekan II FTIK.
Namun, koordinasi di atas kertas
kerap kali berbenturan dengan realitas di lapangan, terutama ketika dosen
melakukan perubahan jadwal secara sepihak. Meski Gedung E memiliki sejumlah
ruang kelas kosong pada pagi hari, yakni pukul 06.45 WIB, tidak sedikit dosen
yang enggan mengajar pada jam tersebut. Akibatnya, ketika ruang kelas tetap
tidak tersedia, perkuliahan daring atau pemindahan jadwal ke jam yang kurang
ideal menjadi solusi pahit yang harus diterima.
Ironisnya, di tengah krisis tersebut,
menurut penjelasan Kabag TU FTIK, pihak rektorat belum memiliki rencana
penambahan gedung baru bagi FTIK karena keterbatasan anggaran. Padahal, ruang
kelas merupakan kebutuhan pokok dalam proses akademik. Tanpa perencanaan jangka
panjang terkait penyediaan ruang kelas, persoalan serupa berpotensi terus
berulang dan pada akhirnya memengaruhi kualitas pembelajaran mahasiswa FTIK.
penulis: maha guntur
reporter: felira pradetyara, wahyu awal saputra
Editor: Muhamad Saepul Saputra

0 Komentar