Di sebuah sudut wilayah Kutasari,
Purwokerto, hamparan tanaman hijau tumbuh subur di tempat yang tak pernah
dibayangkan sebelumnya. Bukan di lahan pertanian luas, bukan pula di sawah
membentang, melainkan di sepanjang jalan desa, di pot, galon bekas, hingga
sudut-sudut lahan tidur yang dulu hanya dipenuhi rumput menjulang.
Di balik perubahan tersebut, ada
sosok perempuan yang bekerja dalam senyap namun konsisten. Nur Hayatni, Ketua
Kelompok Wanita Tani (KWT) Makmur Berkah. Bersama para perempuan desa, ia memulai
langkah dari hal-hal paling sederhana memanfaatkan apa yang ada, menanam di
sela keterbatasan, dan merawat harapan di ruang yang sempit. Bagi Nur Hayatni, bertani bukan sekadar
menanam dan memanen. Bertani adalah kesadaran lingkungan, kemandirian ekonomi,
dan pengabdian sosial. Perjalanan panjang KWT Makmur Berkah membuktikan bahwa
perubahan besar selalu bermula dari langkah kecil yang mungkin tidak pernah
diindahkan.
Perjuangan Berdirinya KWT Makmur
Berkah
Jauh sebelum KWT Makmur Berkah berdiri, Nur Hayatni telah lebih dulu mengelola bank sampah sejak tahun 2014. Program ini ia rintis di tingkat RT yang sepenuhnya berbasis swadaya masyarakat. Sampah rumah tangga yang selama ini dianggap tak bernilai, ia kumpulkan, pilah, dan kelola. Hasilnya bukan sekadar lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga pemasukan ekonomi yang nyata. Dalam setahun, bank sampah mampu menghasilkan jutaan rupiah yang kemudian dikembalikan lagi kepada warga. Dari hasil sampah, warga bisa menikmati liburan bersama, sembako murah menjelang lebaran dan benefit lainnya. “Saya ingin membuktikan bahwa sampah itu ada harganya, ada nilainya,” kata Nur Hayatni. Pengalaman mengelola bank sampah inilah yang kelak menjadi fondasi kuat berdirinya KWT Makmur Berkah. Kesadaran lingkungan dan ekonomi berjalan beriringan, saling berkait dan menguatkan.
KWT Makmur Berkah bukanlah kelompok
yang lahir dari program besar pemerintah atau suntikan dana instan. Ia tumbuh
dari rasa penasaran seorang perempuan yang enggan diam ketika melihat potensi
di sekelilingnya tidak dimanfaatkan. “Ada, tapi kan engga jalan vakum,” ujar
Nur Hayatni menjelaskan adanya KWT lain sebelum KWT Makmur Berkah. Alih-alih
menunggu, ia justru mencari tahu lebih jauh mengenai apa itu KWT, bagaimana
cara mendirikannya, dan program apa saja yang bisa dijalankan.
Kesempatan datang secara tidak
sengaja pada tahun 2020, saat ia menggantikan kehadiran suaminya sebagai salah
satu petani dalam kegiatan sosialisasi Kelompok Wanita Tani dan Gabungan
Kelompok Tani (Gapoktan) di balai desa. Tanpa undangan resmi, ia datang dengan
satu modal utama yaitu keinginan belajar. Dari pertemuan itu, ia semakin
memahami peran strategis KWT dalam penguatan ekonomi dan ketahanan pangan
didesanya. Tak berhenti di situ, Nur Hayatni aktif mendatangi kecamatan,
berdiskusi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan menggali informasi
sedalam mungkin. Baginya, membangun kelompok tidak boleh asal jalan. Harus ada
konsep, tujuan, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Setelah melalui proses panjang
konsultasi dan persiapan, KWT Makmur Berkah resmi berdiri pada tahun 2021.
Namun, perjalanan awalnya jauh dari kata mudah. Kelompok ini memulai segalanya
dari nol tanpa lahan, tanpa modal besar, dan tanpa dukungan dana desa.
Solusinya sederhana sekaligus berani yaitu dengan menanam di sepanjang jalan
desa. Berbagai jenis bunga dan sayuran ditanam di pot, polybag, dan lahan
sempit yang tersedia. Hasilnya tak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga
mengundang rasa penasaran warga. Awalnya tindakan Nur Hayatni tersebut menjadi
bahan tertawaan orang lain sebab menanam tanaman di lahan tidur, “Ini kayak
orang gila,” kenang Nur Hayatni sambil tersenyum. Namun, waktu membuktikan
segalanya. Tanaman tumbuh subur, panen berhasil, dan lingkungan berubah menjadi
ruang hijau yang menenangkan.
Dari Lahan Tidur Menjadi Lahan
Harapan
Perjuangan KWT Makmur Berkah akhirnya mulai dilirik pemerintah desa setelah lebih dari satu tahun berjalan. Pada tahun 2022, desa memberikan lahan yang sebelumnya dianggap “lahan tidur” tak terurus, penuh rumput dan batu. Dengan dana swadaya dan gotong royong, lahan itu dibuka perlahan. Nur Hayatni bahkan memberi upah simbolis bagi warga yang bersedia membantu, bukan sebagai bayaran kerja, melainkan bentuk apresiasi. Di lahan itu, ia menanam kacang tanah sebagai percobaan awal. Hasilnya mengejutkan banyak pihak. Panen pertama menghasilkan puluhan kilogram kacang. Panen berikutnya meningkat. Dari lahan yang dulu diremehkan, tumbuh keyakinan baru bahwa niat baik akan selalu menemukan jalannya.
Seiring waktu, KWT Makmur Berkah
berkembang pesat. Program pertanian tidak lagi sebatas sayuran sederhana,
tetapi merambah ke berbagai inovasi seperti budidaya markisa madu sebagai
sumber pendapatan rutin, Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L), greenhouse
melon dengan sistem Budidaya Melon dalam Galon (Bumega), Sistem trellis atau
rambatan dan perikanan skala kecil seperti lele galon dan bioflok. Markisa madu
menjadi salah satu komoditas unggulan. Sekali tanam, panen bisa dilakukan
berkali-kali. Bibitnya dikembangkan sendiri melalui stek dan dijual kembali.
Dari delapan pohon awal, kini ratusan bibit telah terjual. “Kita tidak
bergantung bantuan. Kita berusaha dari apa yang kita punya,” tegas Nur Hayatni.
Ruang Tumbuh, Belajar dan Kesadaran
Kolektif
KWT Makmur Berkah bukan hanya tempat
menanam, tetapi juga ruang belajar bersama. Anak-anak TK, remaja, pemuda
dilibatkan sesuai kapasitas masing-masing. Anak-anak dikenalkan pada proses
bertani sejak dini, remaja diajak berkontribusi dalam kegiatan, sementara
pemuda dilibatkan dalam inovasi dan pengelolaan. Media sosial turut
dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan edukasi. Dengan bantuan mahasiswa KKN
dan magang dari berbagai kampus, KWT Makmur Berkah aktif di TikTok, terdaftar
di Google Maps, dan sering menjadi tujuan kunjungan edukatif. Menariknya,
aktivitas di KWT tidak selalu serius. Ada kerja bakti, diskusi, hingga makan
bersama. “Kalau capek, ya kita joget, kita ketawa,” ujar Nur Hayatni. Baginya,
kebersamaan adalah kunci keberlanjutan.
Kesadaran lingkungan di KWT Makmur
Berkah dibangun melalui pendekatan langsung. Tidak selalu lewat forum resmi,
tetapi melalui interaksi sehari-hari. Warga yang membuang sampah sembarangan
ditegur dan diedukasi. Tanaman yang ditanam di ruang publik boleh dipetik,
tetapi seperlunya. Prinsip ini perlahan membentuk rasa memiliki di masyarakat.
Kini, warga justru ikut menjaga tanaman yang ada. “Kalau lingkungannya bersih
dan hijau, hati juga ikut tenang,” kata Nur Hayatni.
Implikasi bertani dimasa modern saat
ini yang bisa dibilang menurun dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Nur
Hayatni tidak ada alasan untuk seseorang itu tidak bisa bertani. Seperti misal,
minimnya lahan bukan alasan untuk tidak bertani. Botol bekas, gelas plastik,
bahkan tembok bisa menjadi media tanam. Yang dibutuhkan hanyalah kreativitas
dan kemauan. Ia menegaskan bahwa bertani bukan sekadar soal hasil besar, tetapi
juga penghematan dan ketahanan keluarga. Memiliki cabai, kangkung, atau kemangi
sendiri berarti mengurangi pengeluaran harian. Bagi Nur Hayatni, petani adalah profesi
mulia yang kerap diremehkan. Ia sendiri lahir dari keluarga petani. Ayahnya
berhasil menyekolahkan sembilan anak hingga sarjana, bahkan cucu-cucunya kini
menempuh pendidikan hingga luar negeri. “Petani itu hebat. Dari tanah, kita
bisa melahirkan generasi hebat,” ujarnya dengan bangga. Ia percaya, banyak
orang sukses pada akhirnya kembali ke pertanian. Pensiunan datang ke KWT untuk
belajar menanam, bukan sekadar nostalgia, tetapi mencari ketenangan dan makna
hidup.
Visi besar Nur Hayatni adalah menjadikan
Kutasari sebagai desa wisata berbasis lingkungan dan pertanian. Program ke
depan mencakup pengelolaan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) terpadu, pupuk
organik, biogas, hingga edukasi lingkungan berkelanjutan. “Tidak harus
istimewa, dari sekecil lingkungan kita dulu. Karena dari kecil jadi besar,
belum tentu besar jadi besar lagi. Dari kecil pasti besar, tapi kalau besar ya
sudah ngga akan besar lagi,” pesannya. KWT Makmur Berkah menjadi bukti bahwa
perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang, ia tumbuh dari
tangan-tangan sederhana yang mau bekerja, belajar, dan peduli. Dari sampah
menjadi harapan, dari lahan tidur menjadi lahan kehidupan.
Penulis: Bunga Anisa
Reporter: Novandi Ali Akbar, Dina
Almas Aulya, Eli Febrianti

0 Komentar