Ticker

6/recent/ticker-posts

Krisis Regenerasi Petani Mengancam Masa Depan Pertanian Banyumas


(Seorang petani sedang menanam padi di kawasan area panembangan. Sumber: LPM Obsesi)

Sektor pertanian adalah fondasi dari seluruh sistem pangan. Sawah-sawah yang terbentang luas perkebunan sayuran, dan buah-buahan adalah tempat di mana semua bahan pangan dihasilkan. Petani adalah tulang punggung yang memastikan produksi pangan terus berjalan. Tanpa mereka, rantai pasokan pangan akan terputus. Oleh karena itu, keberlanjutan sektor pertanian bukan hanya soal produksi komoditas, tetapi juga soal keberlangsungan hidup masyarakat.

Tanpa disadari, di balik rutinitas sektor pertanian yang tampak berjalan normal, krisis regenerasi petani perlahan mengancam ketahanan pangan di Kabupaten Banyumas.

Yusuf Khanafi, Plt Sekretaris Dinas Pertanian sekaligus Kepala Bidang Perkebunan dan Perlindungan Tanaman Kabupaten Banyumas, menyebut Banyumas mampu memproduksi sekitar 375 ribu ton padi per tahun. Jumlah tersebut tidak hanya mencukupi kebutuhan sekitar 1,6 juta penduduk, tetapi juga menghasilkan surplus untuk didistribusikan ke daerah lain. Dengan produktivitas rata-rata 5,9 ton per hektare dan 29.800 hektare sawah aktif, sektor pertanian Banyumas secara umum masih tampak stabil di atas kertas.

Angka produksi tersebut menyembunyikan fakta mengkhawatirkan. Hampir 90 persen yang aktif menghasilkan produksi tersebut adalah petani berusia lanjut. "Yang berusia muda memang ada, tetapi populasinya sangat kecil," ungkap Yusuf. Regenerasi petani berjalan lambat, sementara lahan pertanian terus berkurang dari 31.000 hektare menjadi 29.800 hektare akibat alih fungsi untuk pembangunan infrastruktur dan kawasan permukiman.

Pemerintah telah menetapkan 25.472 hektare sebagai lahan pertanian berkelanjutan yang akan dipertahankan. Namun, keberadaan lahan saja belum menjamin keberlanjutan sektor pertanian. Tanpa generasi penerus yang bersedia mengelolanya, lahan tersebut berisiko hanya menjadi aset yang tidak lagi produktif.

Ketika Minat Generasi Muda Terbentur Realitas Struktural

Krisis regenerasi petani tidak hanya tercermin dari data demografis, tetapi juga dari kesenjangan antara minat dan peluang generasi muda. Bahkan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang telah mempelajari pertanian selama empat tahun kerap menghadapi kendala struktural untuk benar-benar menjadi petani.

Amanda Ramadhani, mahasiswi Agribisnis Unsoed, mengaku pandangannya tentang pertanian berubah setelah hampir empat tahun belajar. Ia menjadi tahu bagaimana ilmu pertanian, strategi, dan teknologi yang semakin ke sini semakin maju.

Meskipun memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pertanian, Amanda tetap menghadapi berbagai pertimbangan serius untuk terjun langsung mengelola usaha tani setelah lulus. Keterbatasan modal, sulitnya akses lahan, serta tingginya risiko usaha pertanian menjadi faktor yang membuat keputusan tersebut harus dipikirkan secara matang.

Pertimbangan Amanda mencerminkan dilema yang dihadapi banyak mahasiswa pertanian. Berdasarkan pengamatannya, hanya sekitar 10 hingga 20 persen mahasiswa yang memiliki minat serius untuk terjun menjadi petani setelah lulus. "Teman-teman saya setelah lulus kebanyakan malah berminat bekerja kantoran, baik itu BUMN maupun ASN," ungkapnya.

Marlina, lulusan Agribisnis Unsoed, memberikan estimasi yang lebih rendah, yaitu hanya sekitar 5 persen dari angkatannya yang terjun menjadi petani. "Kebanyakan teman-teman saya justru bekerja di bidang keuangan, terutama perbankan," ungkapnya. Ia sendiri kini bekerja di bagian akuntansi, bidang yang sama sekali tidak berkaitan dengan pertanian.

Adinda, mahasiswi Teknologi Pangan Unsoed, menyoroti bahwa mayoritas mahasiswa pertanian Unsoed bukan berasal dari keluarga petani, sehingga minim kedekatan serta pemahaman langsung dengan sektor pertanian sejak dini. Profesi petani pun masih dipersepsikan berisiko tinggi, baik dari segi pendapatan maupun ketidakpastian hasil panen. Di sisi lain, peminat dan arah pendidikan mahasiswa pertanian juga semakin beragam, termasuk ke arah industri, penelitian, dan sektor non-lapangan. "Menjadi petani bukan lagi satu-satunya tujuan utama karena lapangan pekerjaan juga semakin luas," jelasnya.

Rendahnya minat generasi muda menjadi petani, bahkan di kalangan mahasiswa pertanian, menunjukkan adanya persoalan serius. Keterbatasan akses lahan dan modal, ketidakpastian ekonomi, serta ketidaksesuaian antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan lapangan membuat profesi petani semakin sulit dipilih oleh generasi muda.

Akar Masalah: Ekonomi, Akses, dan Stigma

Dr. Akhmad Rizqul Karim, dosen Fakultas Pertanian Unsoed, melihat bahwa niat mahasiswa pertanian untuk menjadi petani sebenarnya masih cukup tinggi. Namun setelah lulus dan menghadapi kondisi di lapangan, berbagai hambatan eksternal sering kali membuat niat tersebut sulit diwujudkan.

“Kendala terbesar adalah lahan. Akhirnya biasanya mencari alternatif agar bisa mempraktikkan ilmunya. Tapi ketika tidak mendapatkan solusi, akhirnya mencari kesempatan lain, yang penting bekerja," ujarnya.

Faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan rasional. Proses menanam padi membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan hingga panen, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Bagi generasi muda yang tidak memiliki cadangan modal atau sumber pendapatan lain, kondisi ini menjadi hambatan serius sehingga arus kas menjadi pertimbangan utama.

Selain itu, fluktuasi harga komoditas pertanian yang sangat tinggi menjadikan beberapa komoditas dianggap sebagai usaha berisiko tinggi. Harga cabai, misalnya, bisa mencapai Rp100.000 per kilogram ketika pasokan langka, namun bisa anjlok hingga Rp10.000 per kilogram ketika terjadi panen raya.

Stigma sosial juga turut berpengaruh. Pertanian masih dipersepsikan sebagai pekerjaan berat dengan pendapatan yang tidak sepadan, sehingga membuat generasi muda kehilangan minat untuk menekuninya.

Respon Pemerintah: Modernisasi dan Insentif

Menyadari urgensi masalah regenerasi petani, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah meluncurkan berbagai program. Yusuf Khanafi menjelaskan bahwa pendekatannya adalah mengubah wajah pertanian agar lebih sesuai dengan karakteristik generasi muda.

Salah satu program unggulan adalah pengenalan teknologi greenhouse yang dilengkapi dengan sistem Internet of Things (IoT). Dengan teknologi ini, sistem pengairan dapat dikendalikan dari jarak jauh menggunakan smartphone. Petani tidak perlu lagi menyiram tanaman secara manual setiap hari, melainkan dapat mengatur waktu, durasi, dan debit air secara otomatis melalui aplikasi.

Selain itu, Dinas Pertanian telah menyediakan berbagai alat dan mesin pertanian modern, mulai dari traktor kecil hingga traktor roda empat berukuran besar. Tersedia pula rice transplanter, yaitu mesin tanam padi otomatis yang menggantikan metode tanam manual.

Strategi lain yang ditempuh adalah diversifikasi komoditas menuju tanaman bernilai ekonomi tinggi. Pemerintah mendorong petani, terutama petani muda, untuk tidak hanya fokus pada tanaman pangan seperti padi dan jagung, tetapi juga mengembangkan komoditas hortikultura dan perkebunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi seperti durian, kopi, dan gula kelapa kristal.

Gula kelapa kristal atau gula semut menjadi komoditas unggulan Banyumas. Menurut Yusuf, 80 persen pasar dunia untuk gula kelapa kristal disuplai dari Indonesia, dan dari jumlah tersebut, 80 hingga 90 persen berasal dari Banyumas. "Nilai ekspornya luar biasa besar. Ini menjadi salah satu penyumbang utama ekspor dari Kabupaten Banyumas," ungkapnya.

Di sisi legislatif, DPRD Kabupaten Banyumas melalui Komisi 2 yang membidangi pertanian telah mengesahkan Peraturan Daerah tentang Fasilitasi Asuransi Pertanian pada tahun 2025. Perda ini merupakan yang pertama di Banyumas dan bertujuan untuk melindungi petani dari risiko gagal panen akibat bencana alam atau serangan hama dan penyakit.

Dedi Supriyanto, Sekretaris Komisi II DPRD Banyumas, menjelaskan mekanisme asuransi ini. "Petani hanya diminta membayar iuran sebesar 20 persen. Sisanya, 80 persen, disubsidi oleh pemerintah, baik dari tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat," jelasnya. Asuransi saat ini baru mencakup tanaman padi dan jagung, namun ke depan akan diperluas ke komoditas lainnya.

Evaluasi Lapangan: Kesenjangan Antara Program Dan Dampak Nyata

Meskipun berbagai program telah diluncurkan dengan tujuan yang jelas, dampaknya terhadap minat generasi muda masih belum signifikan. Kesenjangan antara kebijakan di atas kertas dan implementasi di lapangan tetap menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.

Amanda Ramadhani mengetahui upaya pemerintah melalui program Muda Tani yang dipromosikan lewat akun Instagram @muda_tani.id, hasil kerja sama pemerintah daerah dan komunitas yang berfokus pada digitalisasi pertanian. "Program ini cukup membantu dalam mengubah stigma negatif terhadap pertanian melalui pendekatan digital. Namun, minat generasi muda secara umum masih perlu didorong lebih kuat lagi," jelasnya.

Adinda menambahkan bahwa program seperti Muda Tani perlu didukung dengan penyediaan fasilitas pelatihan yang lebih intensif serta insentif yang nyata bagi pemuda yang memang ingin berkarir di bidang pertanian.

Di sisi lain, keterbatasan informasi mengenai peluang yang sebenarnya tersedia turut menjadi kendala. Misalnya, akses terhadap lahan milik pemerintah daerah yang dapat dimanfaatkan oleh petani muda masih jarang diketahui oleh kalangan mahasiswa.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program, masih terdapat kesenjangan antara kebijakan dan dampaknya di lapangan. Karena itu, program tersebut perlu diperkuat melalui sosialisasi yang lebih luas, pendampingan yang intensif, serta penciptaan ekosistem yang mendukung generasi muda terjun ke sektor pertanian.

Kesejahteraan Petani sebagai Kunci

Di tengah berbagai tantangan yang ada, peningkatan kesejahteraan petani menjadi titik krusial yang terus disorot. "Ketika kesejahteraan petani meningkat dan pendapatan mereka menjadi lebih stabil, stigma sosial terhadap profesi petani akan berubah dengan sendirinya," tegas Amanda. Adinda menambahkan bahwa jika petani memiliki pendapatan yang lebih pasti, akses terhadap modal yang memadai, serta jaminan pasar untuk hasil panennya, maka generasi muda akan lebih terbuka untuk melihat pertanian sebagai pilihan karir yang realistis.

Penulis: Parhatun Nisa

Reporter: Fahmi Rahmatan Akbar, Iftitah Putri Renfaan, Novandi Ali Akbar, Indy Ulyatun, Naila Izzatul

Editor: Muhamad Saepul Saputra

Posting Komentar

0 Komentar