Ticker

6/recent/ticker-posts

MENANTI SENYUM DI BALIK LEMBAR BIROKRASI KAMPUS

 

(Kampus 2 UIN Saizu. Sumber: LPM)

Matahari baru saja melewati puncaknya, saat mesin sepeda motor berderu nyaring di Kampus 2 Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang terletak di Purbalingga. Jam di pergelangan tangan menunjukkan waktu setelah dzuhur, sekitar pukul satu kurang sedikit. Udara siang itu begitu panas dan menyengat, tapi ia tetap harus berangkat karena ada tugas yang menunggu demi kelancaran kegiatan komunitas. Dalam pikirannya, semuanya seharusnya bisa selesai cepat. ia hanya perlu berkendara sekitar tiga puluh menit menuju Kampus 1, menyerahkan surat ke meja administrasi, lalu pulang dengan tenang.

Sebagai seorang mahasiswa, baginya sudah biasa menghadapi perjalanan yang melelahkan, baik saat terik menyengat maupun ketika hujan deras mengguyur tubuh. Tapi bagaimana jika perjalanan panjang itu berujung pada kekecewaan mendalam di depan pintu ruangan yang terkunci rapat? Itulah yang ia alami sebagai korban sistem administrasi yang ternyata belum terintegrasi dengan baik. ungkapan-ungkapan seperti “Beliau sedang dinas di Kampus 2 hari ini,” keluar dari alat bicara staf administrasi dengan nada santai. Mahasiswa yang sehari-hari beraktivitas di Kampus 2 sama sekali tidak pernah diberi akses informasi maupun lembar jadwal resmi tentang staf administrasi yang berjaga setiap harinya. Perjalanan bolak-balik yang melelahkan ini berakhir dengan kesia-siaan yang sempurna. Rasa kesalnya memunculkan tumpukan pertanyaan, Mengapa informasi sepenting itu tidak pernah disosialisasikan secara tertulis sejak awal? Mengapa mahasiswa selalu menjadi pihak terakhir yang tahu dan harus menanggung akibat dari buruknya koordinasi internal kampus?

Ketika Saluran Digital Berubah Menjadi Labirin Senyap

Frustrasi mahasiswa akibat birokrasi kampus yang terasa kaku dan lambat ternyata tidak berhenti di ruang kantor fisik. Keluhan serupa juga muncul di dunia digital, padahal seharusnya sistem layanan ini bisa berjalan jauh lebih cepat. Jika di kantor fisik, ia dan mahasiswa lainnya harus ke sana ke mari karena persoalan lokasi. Begitupun di ranah digital ia dibuat lelah oleh penantian yang tidak jelas. Banyak laporan dari mahasiswa yang mengeluhkan bahwa pesan pertanyaan maupun pengurusan berkas melalui admin WhatsApp resmi Ma’had baru mendapat respons setelah menunggu hingga dua bulan lamanya. 

“Kendala utamanya adalah kurangnya sumber daya tenaga kerja, sehingga pelayanan pada komunikasi whatsapp menjadi kurang responsif, dan hal ini akan menjadi evaluasi untuk kedepannya.” ucap ibu fitroh selaku staff ma’had al jamiah uin saizu purwokerto.

Penundaan yang memakan waktu selama dua bulan untuk urusan digital tentu bukan hal kecil. Perlu dipahami bahwa status kelulusan Baca Quran dan Praktik Ibadah (BQPI) di Ma’had adalah prasyarat yang sangat menentukan keberlanjutan masa akademik seorang mahasiswa. Ketika jalur komunikasi yang diharapkan menjadi solusi tercepat justru tersumbat, mahasiswa mulai diliputi kecemasan dan ketakutan. Banyak mahasiswa menjadi enggan bahkan dibayangi kecemasan setiap kali harus mengurus perizinan atau menyelesaikan administrasi harian, terutama karena respons staf dinilai kurang terbuka dan kurang mengakomodasi mahasiswa.

Staf dari birokrasi Ma’had akhirnya memberikan penjelasan atas keluhan itu. Mereka mengakui bahwa penyebab utama lambatnya pelayanan administrasi digital adalah persoalan krisis jumlah Sumber Daya Manusia (SDM). Jumlah staf yang ditugaskan untuk menangani pesan tidak sebanding dengan banyaknya volume mahasiswa. Pihak Ma’had menyatakan bahwa masalah tersebut akan dijadikan bahan evaluasi ke depan.

Menengok Akar Masalah: Beban Kerja yang Melampaui Batas

Data yang berhasil dihimpun dari para kepala bagian administrasi, Sapuan, S.Ag., M.H. menunjukkan sebuah fakta yang cukup mencengangkan mengenai kondisi internal tempat kerja mereka. Di Fakultas Dakwah misalnya, Sapuan, S.Ag., M.H. sang kepala bagian administrasi secara terbuka mengeluhkan ketidakseimbangan yang sangat ekstrim antara jumlah mahasiswa dengan ketersediaan personel staf. Jumlah mahasiswa yang harus dilayani di Fakultas Dakwah mencapai angka sekitar 3.600-an mahasiswa. Namun, jumlah total pegawai administrasi yang ditugaskan untuk mengurus seluruh keperluan akademik ribuan mahasiswa tersebut hanya berjumlah 6 orang saja. Mereka dituntut untuk membagi fokus, waktu, dan tenaga secara simultan guna mengurusi operasional administrasi yang terbagi di dua tempat, yaitu Kampus 1 dan Kampus 2. Maka dari itu, fakultas dakwah membuat inovasi LAFADA (Layanan Fakultas Dakwah). Secara online, meskipun pada akhirnya masih perlu datang ke ruang administrasi untuk meminta nomor surat, tanda tangan dan lain sebagainya.

“Staff disini hanya 6, jika kita bagi dengan jumlah mahasiswa fakda yang berjumlah sekitar 3.600-an, maka satu orang melayani 360-an mahasiwa kan. Mahasiswa seharusnya bisa memilah mana yang menjadi kewenangan fakultas dan mana yang menjadi kewenangan rektorat.” ucap Sapuan, S.Ag., M.H. kepala bagian administrasi Fakultas Dakwah.

Oleh karena itu, ketika gelombang protes mahasiswa mencuat terkait pelayanan staf yang dinilai cuek, judes, atau lambat, realitas mendasar yang sebenarnya terjadi di balik layar adalah para pegawai tersebut sudah berada di titik nadir kewalahan menghadapi tumpukan dokumen. Melayani populasi ribuan mahasiswa aktif, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) hanya diperkuat oleh lini pertahanan administrasi sebanyak 11 orang staf kependidikan saja.

"Tenaga administrasi kita memang sangat terbatas, sehingga situasi kerja harian seringkali mengalami overload," ucap Tri Rachmijati, S.Ag., M.Pd. Kepala Bagian Administrasi  FEBI dalam sesi wawancara.

Menyiasati kebutuhan fisik tersebut, manajemen FEBI terpaksa mengambil langkah taktis dengan memanfaatkan bantuan eksternal. Mereka memberdayakan anak-anak Praktik Kerja Lapangan (PKL) dari sekolah menengah untuk membantu menyelesaikan urusan teknis ringan seperti agenda surat-menyurat dan rekapitulasi berkas bulanan. Selain itu, mahasiswa magang internal juga diterjunkan di meja resepsionis garis depan untuk dilatih melayani komunikasi awal serta memberikan layanan informasi dasar kepada sesama mahasiswa. Langkah ini dinilai sebagai hubungan mutualisme yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Kebutuhan Kolaborasi Dua Arah dan Masa Depan Pelayanan

Menurut analisis mendalam dari pihak birokrasi FEBI, kunci utama dari lancar atau macetnya seluruh urusan administrasi di lingkungan kampus sebenarnya bermuara pada kualitas koordinasi dan komunikasi. Di sisi lain, pihak birokrasi kampus juga menuntut adanya perubahan perilaku dan peningkatan budaya literasi dari sisi mahasiswa. Tri Rachmijati, menilai banyak mahasiswa dinilai masih memiliki minat baca yang rendah dan sering kali malas untuk membaca lembar pengumuman resmi yang sudah dipublikasikan secara meluas melalui media sosial Instagram, status resmi WhatsApp, maupun papan pengumuman fisik berukuran besar yang berdiri tegak di depan kantor utama.

“kalau saya telusuri, kunci utamanya adalah koordinasi dan komunikasi. masalah muncul jika komunikasi putus atau koordinasi kurang, baik antar rekan kerja selevel ke atasan, maupun ke mahasiswa. contohnya pernah ada mahasiswa daftar seminar, tapi belum dijadwalkan karena staf prodi merasa pesertanya baru satu orang dan tidak berkoordinasi dengan staf prodi lain yang mungkin kantong seminarnya sudah penuh. padahal kalau komunikasinya jalan, administrasi pasti lancar.” ucapnya.

Kampus diharapkan bisa segera menerapkan sistem satu pintu yang jelas, terutama bagi mahasiswa yang berada di Kampus 2. Pengumpulan berkas-berkas penting juga seharusnya bisa difasilitasi melalui meja resepsionis kampus asal, sehingga tidak perlu lagi membuang waktu, biaya bensin, dan tenaga berharga hanya untuk mengantarkan selembar dokumen fisik menembus badai hujan ke kampus seberang. Pelayanan administrasi yang prima memang sebuah idealitas yang wajib dipenuhi karena kami telah menunaikan kewajiban membayar UKT. Namun, keramahan dan kelancaran sistem hanya akan tercipta ketika ada komunikasi yang baik, disiplin, rasa saling pengertian, dan literasi yang baik antara mahasiwa yang dilayani dan mereka yang melayani.

Penulis : Annisa Yasmine Azzahra

Reporter: Intan Noviana Safitri, Dimas Al Ghifari, Dina Almas Aulia, Renny Nurainy

Editor: Novandi Ali Akbar, Muhamad Saepul Saputra

Posting Komentar

0 Komentar