Pemindahan Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto ke Purbalingga merupakan keputusan institusional yang tentu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Namun, setiap kebijakan pemindahan juga perlu diikuti dengan penyediaan sarana pendukung yang memadai.
Salah satu kebutuhan yang hingga kini masih perlu mendapatkan perhatian adalah penyediaan mobil operasional. Sebagaimana dipahami, ketika keputusan pemindahan Fakultas Dakwah ditetapkan, terdapat komitmen untuk menyediakan mobil operasional bagi perjalanan Purwokerto–Purbalingga. Akan tetapi, hingga saat ini, fasilitas tersebut belum terealisasi. Padahal, sebagian besar dosen Fakultas Dakwah berdomisili di Purwokerto dan harus menempuh perjalanan menuju kampus di Purbalingga untuk melaksanakan tugas tridarma perguruan tinggi.
Persoalan ini sebaiknya tidak hanya dilihat dari sudut pandang kenyamanan atau kemudahan transportasi dosen. Ada dimensi yang lebih luas dan mendasar, yaitu efisiensi penggunaan energi serta tanggung jawab institusi terhadap lingkungan.
Bayangkan apabila setiap dosen harus menggunakan kendaraan masing-masing untuk menempuh perjalanan dari Purwokerto ke Purbalingga. Jika perjalanan tersebut dilakukan setiap hari oleh banyak dosen, tentu terdapat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang tidak sedikit. Padahal, apabila tersedia satu kendaraan operasional yang dapat digunakan bersama dengan pengaturan jadwal dan rute yang baik, kebutuhan perjalanan tersebut berpotensi dilayani secara lebih efisien. Tentu saja, penghematan yang dihasilkan bergantung pada jumlah penumpang, jarak tempuh, jenis kendaraan, dan pengaturan perjalanan. Namun, secara prinsip, mengonsolidasikan perjalanan sejumlah dosen ke dalam satu kendaraan dapat mengurangi jumlah kendaraan yang bergerak untuk tujuan yang sama. Artinya, penyediaan mobil operasional bukan sekadar pemenuhan fasilitas kerja, melainkan juga salah satu langkah konkret untuk menekan konsumsi BBM dan mengurangi emisi dari aktivitas transportasi kampus.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika UIN Saizu sebagai bagian dari Kementerian Agama mengusung semangat ekoteologi. Ekoteologi mengajak kita membangun kesadaran bahwa hubungan manusia dengan alam bukan semata-mata hubungan pemanfaatan, melainkan juga hubungan amanah dan tanggung jawab. Alam beserta segala sumber dayanya tidak seharusnya diperlakukan sebagai sesuatu yang boleh dihabiskan demi memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan esok hari.
Bahan bakar dan energi yang kita gunakan setiap hari bukan semata-mata milik generasi sekarang. Sumber daya tersebut merupakan bagian dari kekayaan alam yang harus dikelola secara bijaksana. Dalam perspektif tanggung jawab antargenerasi, energi yang tersedia hari ini juga berkaitan dengan hak anak cucu kita untuk menikmati lingkungan yang layak dan kehidupan yang berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, penyediaan mobil operasional bagi dosen Fakultas Dakwah menjadi relevan dengan semangat ekoteologi yang sedang dibangun UIN Saizu. Kampus tidak cukup hanya
mengajak masyarakat untuk mencintai lingkungan dan menghemat energi. Kampus juga perlu menunjukkan bahwa kebijakan internalnya mendukung perilaku yang lebih hemat energi, rasional, dan bertanggung jawab secara ekologis.
Tentu, mobil operasional bukan satu-satunya solusi untuk mewujudkan transportasi kampus yang ramah lingkungan. Namun, dengan perencanaan yang tepat, kendaraan bersama dapat menjadi salah satu langkah praktis untuk mengurangi perjalanan individual yang tidak perlu. Pengaturan jadwal keberangkatan, pendataan dosen yang membutuhkan fasilitas, penentuan titik penjemputan, serta evaluasi konsumsi BBM dapat membuat penggunaannya lebih terukur dan akuntabel.
Permintaan ini bukan semata-mata didasarkan pada kebutuhan praktis para dosen, melainkan juga pada pertimbangan efisiensi kelembagaan, penghematan energi, dan keselarasan kebijakan dengan nilai-nilai ekoteologi yang sedang diperjuangkan bersama.
Pada akhirnya, ekoteologi perlu hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang nyata, bukan berhenti sebagai gagasan besar yang indah dalam wacana. Menghemat energi, mengurangi pemborosan, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana merupakan bagian dari tanggung jawab moral kita terhadap bumi. Sebab, bumi bukan hanya tempat kita bekerja dan menjalani kehidupan hari ini. Bumi adalah rumah bersama yang harus tetap layak dihuni oleh anak cucu kita.
Penulis: LPM Obsesi
Editor: Novandi Ali akbar, Muhamad Saepul Saputra

0 Komentar