Purwokerto — Ratusan aksi masa yang terdiri dari Mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat sipil menggelar aksi demonstrasi di kawasan Pendopo Si Panji, Banyumas, Selasa (20/10/2026). Aksi dengan tajuk “Ekonomi Dikebiri, Aparat Diberi Kursi, Eksekutif Tidak Berkompetensi” digelar bertepatan dengan dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam aksi tersebut, massa aksi membawa delapan tuntutan yang mencakup persoalan nasional dan daerah. Salah satu tuntutan yang digaungkan ialah penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan sebagai bencana nasional.
Menurut koordinator lapangan, Arga, aksi tidak dimaksudkan untuk berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan terus dikawal dan disuarakan. Ia kemudian menyampaikan kekecewaannya karena tuntutan yang dibawa belum memperoleh kesepakatan yang diharapkan dari pemerintah daerah.
“Karena memang tidak berhenti di aksi seremonial dua tahun Prabowo-Gibran saja. Harapannya kami akan tetap ada dan berlipat ganda,” tegasnya.
Arga juga menekankan bahwa tuntutan mengenai karhutla berkaitan dengan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak. Kemudian Ia mendesak kepada pemerintah bahwa karhutla di Kalimantan perlu ditetapkan sebagai bencana nasional.
“Harapan pertama adalah untuk bisa berempati terhadap korban bencana yang ada di Kalimantan dan lainnya,” ujar Arga.
Azza Febra Pramudika, Koordinator Pusat BEM Banyumas Raya, menyatakan bahwa pihaknya ingin mendorong pemerintah daerah untuk menyampaikan dukungan moral kepada masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan.
“Mungkin bukan lagi membenahi ya, tapi kita mendesak pemerintah daerah itu mengeluarkan sikap dukungannya secara moral terhadap warga di Kalimantan mengenai Karhutla,” ujar Azza.
Ia menjelaskan bahwa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Banyumas Raya belum mengirim perwakilan untuk aksi di Jakarta karena gerakan di tingkat daerah lebih diprioritaskan terlebih dahulu. Menurutnya, tuntutan daerah diharapkan dapat menjadi penghubung untuk mendorong respons di tingkat nasional.
Sementara itu, Rian, mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), mengatakan aksi muncul dari akumulasi kekecewaan terhadap berbagai persoalan yang menurutnya belum mendapat perubahan berarti.
“Aksi demonstrasi hari ini bukan karena satu persoalan, melainkan karena memang ini persoalan-persoalan yang dikumulatifkan,” ujar Rian.
Ia kemudian juga melayangkan kritiknya terhadap pelaksanaan sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rian berpendapat bahwa perlu adanya evaluasi berdasarkan permasalahan yang timbul di lapangan.
“Harapanku cuma satu, Prabowo–Gibran turun dari jabatannya sekarang,” pungkasnya.
Penulis: Naila Izzatul Ihya
Reporter: Ahmad Zubair, Andhini Putri
Romadhoni, Amodia Vala Madesta, Sasi Shafiqah Yuniana.
Dokumentasi: Labib Nur Rahman
Editor: Novandi Ali Akbar, Muhamad Saepul Saputra


0 Komentar