Ticker

6/recent/ticker-posts

Bincang Isu Politik Peringati Hari Tani, Monopoli Harga Hingga MBG Jadi Hambatan Petani


( Bincang Isu Politik bertajuk "Refleksi Hari Tani Nasional: Menagih Keadilan Agraria di Tengah Pengesahan Regulasi Baru" yang digelar di pelataran depan Perpustakaan UIN Saizu Purwokerto, Jum'at, (25/09/2026). Sumber: LPM Obsesi)

Purwokerto - Bincang isu politik yang diusung oleh kolaborasi antara Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (DEMA FTIK), Fakultas Dakwah (DEMA FAKDA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Studi Islam Kemasyarakatan (UKM KSIK) sukses digelar, Jum’at, (25/09/26). Acara tersebut bertempat di pelataran depan perpustakaan Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, kegiatan ini turut mengundang Alfian Ihsan, dosen sosiologi Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) dan Rahman latif alfian, dosen antropologi UIN Saizu.

Bertajuk “Refleksi Hari Tani Nasional: Menagih Keadilan Agraria di tengah Pengesahan Regulasi Baru”, aksi kolaborasi ini dihadiri oleh puluhan audiens. Sejalan dengan tema yang diusung, alfian mengungkapkan bahwa situasi petani saat ini mengalami krisis yang perlu menjadi perhatian khusus.

“Dan kita tahu kita semua itu kecanduan beras, candu nasi, gitu. Namun kita sangat jarang sekali berpikir tentang bagaimana nasib orang yang mengusahakan adanya beras ini,” ungkap Rahman.

Rahman kembali menyebutkan, selain kesulitan mencari pupuk, permasalahan dalam menghadapi iklim dan cuaca yang tidak menentu juga turut mengganggu masa tanam. Ia berujar, fenomena ini mengakibatkan hasil yang didapat tidak maksimal.

“Akhirnya taraf kehidupan mereka pun juga tidak bisa dikatakan terjamin sepenuhnya,” tambahnya.

Rahman kemudian menyoroti ketidakstabilan harga jual hasil pertanian yang menurutnya dipengaruhi monopoli pengusaha besar yang terafiliasi dengan sejumlah aktor pemerintah. Ia juga merefleksikan kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang turut berdampak pada harga jual hasil tani.

(Narasumber Bincang Isu Politik bertajuk "Refleksi Hari Tani Nasional: Menagih Keadilan Agraria di Tengah Pengesahan Regulasi Baru", Rahman Latif Alfian, S.Pd., M.Ant. (Pojok kiri) Dosen Antropologi UIN Saizu dan Alfian Ihsan, S.Pd., M.Sos (Kanan kedua) Dosen Sosiologi Unsoed. Sumber: LPM Obsesi)

Senada dengan itu, Alfian juga menerangi hambatan teknis di lapangan seperti minimnya infrastruktur irigasi  dan akses pupuk subsidi yang menurutnya “ada tapi tiada”. Dalam pengalamannya yang sempat bertani, ia menyebut ketiadaan sumber air cadangan menjadi hambatan utama bagi petani.

“Meskipun kita punya program ketahanan pangan tapi dijalankan oleh swasta, perusahaan besar, dan militer, gitu kan? Artinya ilusi tentang kemajuan pertanian itu ya hanya omong kosong belaka,” tegasnya Alfian.

Rahman dan Alfian juga menyampaikan harapannya agar mahasiswa tidak hanya berhenti berdiskusi di ruang kampus. Mereka berujar mahasiswa perlu turun langsung dalam mendampingi dan belajar bersama kelompok tani di masyarakat.

“Belajar bersama, bukan mengajari, karena terlalu sombong bagi kita untuk mengajari petani,” ungkap Alfian.

Mahasiswa Fakultas Usuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Diaul Anam, yang menjadi salah satu peserta dalam acara mengaku mendapatkan perspektif baru usai mengikuti diskusi tersebut, khususnya mengenai sistem  pertanian yang berbeda-beda. Ia juga mengkritik terkait agar peringatan Hari Tani tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial tahunan.

“Apa yang ingin kita lakukan, dan emangnya itu pantas apabila Hari Tani dijadikan hanya sekadar seremonial?” pungkasnya.

Penulis: Parhatun Nisa

Reporter: Ahmad Zubair, Muhammad Zaky Dista Aysel, Fani Nuriadi, Erlina Rizka Agustin

Dokumentasi: Muhammad Aris Setiyono

Editor: Novandi Ali Akbar, Muhamad Saepul Saputra



Posting Komentar

0 Komentar