Ticker

6/recent/ticker-posts

Bedah Fenomena LGBT di Tengah Masyarakat Kontemporer, HMPS PM UIN Saizu Hadirkan Kajian Budaya, Psikologis Hingga Hukum.

 

(Para audiens yang sedang memperhatikan pada sesi pematerian talkshow LGBT di Tengah Masyarakat Kontemporer: Telaah Indisipliner Fenomena, Regulasi dan Formulasi Sanksi. Sumber : LPM Obsesi)

Purwokerto – Himpunan Mahasiswa Program Studi Perbandingan Mahzab (HMPS PM) menggelar Talkshow bertajuk LGBT di Tengah Masyarakat Kontemporer bertajuk “Telaah Indisipliner Fenomena, Regulasi dan Formulasi Sanksi”. Kegiatan ini berlangsung di Hall Perpustakaan Universitas Islam Negeri Professor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Kamis (24/09/2026).

Ketua umum HMPS PM, Sofia Maulida menjelaskan, tema ini dipilih karena fenomena LGBT ditengah masyarakat belum diimbangi dengan regulasi dan sikap yang tepat. Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu memberikan tanggapan dan respon yang sesuai.

“Kita melihat banyak maraknya fenomena tersebut dan masih minimnya kesadaran pemahaman masyarakat dalam menanggapi dan merespon fenomena tersebut.” ujarnya

Menurutnya masyarakat masih awam dalam merespon ataupun menegur fenomena tersebut ketika muncul di lingkungan sekitar. Kondisi ini dinilai menjadi persoalan yang mendesak dan perlu edukasi yang tepat sasaran, terutama bagi kalangan mahasiswa yang memiliki peran strategis di masyarakat.

Gelaran ini menghadirkan tiga pemateri dari latar belakang keilmuan yang berbeda. Para narasumber membawakan materi dari perspektif yang saling melengkapi, mulai dari sisi budaya, psikologis, hingga hukum keislaman, sehingga peserta memperoleh gambaran yang lebih utuh atas isu yang dibahas.

Salah satu peserta talkshow, Heru Setiono, mengapresiasi kegiatan dengan tema seperti ini pada forum diskusi mahasiswa. Ia menilai pembagian materi menjadi tiga keilmuan yang berbeda membuat pembahasan dari berbagai sudut pandang dan relevan dengan kondisi sekarang.

“Menurut saya bagus untuk berkelanjutan lagi di mungkin sesi-sesi berikutnya seminar yang tentang maraknya LGBT. Yang pembicara pertama itu menurut saya juga bagus, lebih ke sejarahnya. Yang kedua itu lebih ke psikolog, dan juga yang ketiga itu lebih ke hukum-hukumnya,” ujarnya.

Heru kemudian berharap bahwa generasi kedepan semoga tidak terjerumus ke dalam hal yang negative. Ia juga berujar untuk saling menyadarkan diri, dan lebih menguatkan iman kepada Tuhan.

(Para narasumber yang menjadi pengisi talkshow "LGBT di Tengah Masyarakat Kontemporer: Telaah Indisipliner Fenomena, Regulasi dan Formulasi Sanksi". Prof. Dr. Dimas Indianto S., M.Pd.I (Pojok Kiri), Prof. Dr. Bani Syarif Maula, M.Ag., LL.M (Tengah), Shinta Adella, S.Psi., Psikologi (Pojok Kanan). Sumber: LPM Obsesi)

Menurut Heru, poin penting yang ia peroleh dari talkshow ini ialah memperkuat iman dan takwa. Kemudian mendekatkan diri kepada agama dan perlunya penegakan hukum keluarga dan hukum di Indonesia secara lebih tegas. 

Sementara itu, salah satu pemateri, Shinta Adella, dalam pemaparannya mengingatkan tanggung jawab atas pilihan hidup dan perlu dipikirkan matang-matang sebelum memilih pilihan tersebut. Ia mendorong peserta untuk melihat dampak dari setiap tindakan atau hubungan, apakah memberikan dampak yang positif atau justru negatif. 

“Pilihan hidup sebenarnya itu tanggung jawab pribadi masing-masing. Dan setiap apa yang kita lakukan itu bisa punya dampak. Setiap teman-teman mau mengambil sebuah tindakan atau perilaku yang akan ditampilkan, coba pikirkan ulang gitu ya,” terangnya ketika diwawancarai.

Ia menjelaskan bahwa dalam berpikir, kita bahkan perlu double hingga triple sebelum mengambil keputusan. Kemudian Shinta menganalogikan seperti memilih seorang pasangan, menurutnya dalam menjalin sebuah hubungan ini memang terdapat sisi positif dan negatif.

“Di cross check, ketika kalian menjalin hubungan itu lebih banyak negatifnya atau malah positifnya,” Jelasnya.

Shinta juga mengingatkan, perilaku yang melanggar norma dapat menjadi tanda bahaya yang perlu dikenali sejak dini, agar tidak berlanjut pada hubungan atau kebiasaan yang tidak sehat. Ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran yang besar dalam merespon persoalan yang dinilai tidak sesuai dengan norma masyarakat.

Sofia berharap melaui Talkshow ini, mahasiswa maupun masyarakat dapat lebih bijak dalam merespon fenomena LGBT dan menerapkan regulasi yang sudah dibahas dalam kegiatan. 

“Harapannya setelah diadakannya talkshow ini, masyarakat, terutama mahasiswa, ketika melihat fenomena tersebut, itu bisa merespon dengan baik dan menanggapi dengan baik dan memberikan regulasi-regulasi yang telah kita bahas t

adi.” pungkasnya.

Penulis: Sasi Shafiqah Yuniana

Reporter: Nadya Ahsana dan Ahmad Zubair

Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah 

Posting Komentar

0 Komentar