Ticker

6/recent/ticker-posts

Wajah Baru Kedok Lama: Kasus Penyiraman Air Keras Wakil Koordinator KontraS, Bukti Lemahnya Keamanan Sipil


(Aktivis KontraS, Andrie Yunus, memprotes pembahasan RUU TNI oleh DPR & Pemerintah di hotel mewah. Ia mengkritik pemborosan anggaran dan potensi dwi fungsi TNI. dok: Kompas)

Dalam suasana malam yang hening di Jalan satu arah Salemba, telah terjadi aksi penyiraman air keras kepada Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Aksi tersebut dilakukan oleh dua orang tidak dikenal (OTK) yang menggunakan sepeda motor jenis matic.

Kejadian tersebut terjadi setelah Andrie melakukan rekaman siniar (podcast) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengenai Remiliterisme dan Judicial Review pada Kamis, sekitar pukul 23.00 WIB.

Pelaku menyiramkan air keras ke tubuh bagian depan hingga korban mengalami luka bakar serius sebanyak 24%. Dari  informasi yang beredar korban mengalami luka pada bagian wajah, mata, tangan, dan dada. Beredar video rekaman dari cctv yang memperlihatkan korban teriak kesakitan setelah aksi penyiraman tersebut.

Pola Lama Yang Terulang Kembali

Sebelum Andrie, kejadian seperti ini sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Tepatnya kepada Novel Baswedan yang juga disiram menggunakan air keras oleh orang tidak dikenal. Pola yang terjadi merupakan pelanggaran HAM serius yang dapat menyasar mereka yang kritis dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan.

Bentuk kekerasan seperti ini dapat menyasar terhadap berbagai pihak, termasuk pada aktivis-aktivis yang berada di daerah. Aksi seperti ini sangat mudah dilakukan oleh mereka yang terusik oleh suara lantang yang ingin membebaskan Indonesia dari tirani. Pola teror juga dapat beragam, dari ancaman non-verbal, verbal, bahkan hingga pembunuhan.

(Timbangan berat sebelah pada "Air Keras" dibanding keadilan. Simbol impunitas dan duka korban atas ketidakadilan di Indonesia. Ilustrasi: Gemini AI)

Pernyataan Menteri HAM

Natalius Pigai selaku Menteri Hak Asasi Manusia telah mengeluarkan pernyataan bahwa Ia mengutuk Tindakan tersebut dan meminta aparat untuk mengusut tuntas. Namun hingga saat ini belum ada statement resmi dari Kemenkumham mengenai aksi penyiraman air keras terhadap Andrie.

Respon masyarakat justru berbanding terbalik, banyak aktivis dan pengguna media yang telah bersuara dengan mengeluarkan tagline #KamiBersamaAndrieYunus dan #KamiMataAndrie. Beberapa tokoh masyarakat juga sudah bersuara dalam kejadian ini, termasuk juga Novel Baswedan yang sudah menjadi korban dengan kasus yang sama.

Ahli hukum Feri Amsari mengatakan bahwa Lembaga Negara sekaligus Aparat Negara terkait untuk bersungguh-sungguh mengungkap perkara penyiraman air keras kepada Andrie. Hal serupa juga diserukan oleh pakar hukum tata negara, Bivitri berpesan bahwa kelompok masyarakat sipil justru akan lebih kuat dengan kejadian ini.

Apakah Demokrasi Sudah Dibungkam?

Terjadinya berbagai kejadian terror selama rezim Prabowo menandai akan cideranya demokrasi di Indonesia, matinya demokrasi dapat terealisasi jika tindak pidana seperti ini terus-terusan terjadi kepada mereka yang melawan tirani.

Setiap orang berhak untuk bersuara dan berhak untuk dijamin keamanannya oleh negara. Indonesia adalah negara demokrasi, yang sepatutnya memberikan hak-haknya kepada masyarakat, termasuk salah satunya hak untuk berbicara.

Daerah Akankah Mengalami Hal Yang Sama?

Bermacam-ragam kriminalisasi yang terjadi di hampir seluruh daerah Indonesia membuktikan bahwa aksi terror juga dapat terjadi. Para oligarki dapat dengan mudahnya melancarkan berbagai serangan untuk memberikan shock terapi agar berhenti untuk bersuara.

Peningkatan standar operasional prosedur (SOP) harus segera dilancarkan diberbagai daerah, hal ini guna meminimalisir kerugian yang dihasilkan apabila kejadian tersebut Kembali terulang. Masyarakat juga harus saling menjaga demi terciptanya demokrasi di Indonesia.

Penulis: Novandi Ali Akbar

Editor: Muhamad Saepul Saputra 

Posting Komentar

0 Komentar