Purwokerto
- Gabungan mahasiswa
se-Banyumas Raya menggelar aksi mimbar bebas di depan Pendopo Banyumas pada
Senin (23/2/2026). Aksi bertajuk “Banyumas Problematik: Rayakan dengan Aksi,
Lawan Kebijakan yang Menggerogoti Rakyat Indonesia” ini merupakan bentuk protes
dan evaluasi atas realitas sosial yang tengah bergejolak.
Koordinator
lapangan, Setiawan, mengkritik pelaksanaan hari jadi yang didominasi kegiatan
seremonial di tengah isu rendahnya Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK)
Banyumas dan melemahnya daya beli masyarakat. Selain itu, massa menyoroti
polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang anggarannya memotong dana
pendidikan di saat angka putus sekolah di Banyumas masih tinggi.
“Menurut
data itu, sekitar 14 ribu anak di Banyumas putus sekolah, yang mana jika
mengait pada alokasi anggaran pendidikan itu beberapa persen dialihkan untuk
MBG, jadi justru pendidikan ini bukan lagi faktor yang diutamakan lagi.
Meskipun, bunyi dalam APBN itu ada anggaran pendidikan tapi secara fakta di
lapangan yaitu beralih ke MBG” ujarnya.
Isu penegakan hukum turut menjadi sorotan utama, Adrian , mahasiswa University mendesak adanya reformasi menyeluruh di tubuh institusi Polri. Mahasiswa menyayangkan masih adanya tindakan represif oknum, seperti kasus tewasnya siswa SMP di Kota Tual akibat penganiayaan oknum Brimob.
Kritik
juga ditujukan pada langkah pemerintah pusat yang bergabung dengan organisasi
"Board Of Peace" dengan biaya iuran mencapai Rp17 triliun dari APBN.
Kebijakan tersebut dinilai tidak mempertimbangkan kepentingan rakyat yang
sedang mengalami kesulitan ekonomi nasional.
“Polri
sudah menggaung-gaungkan reformasi Polri, namun ironi ketika melihat realita di
lapangan yang mana sampai dengan saat ini Polri sendiri masih melakukan banyak
pelanggaran HAM. Terbaru, seorang siswa SMP di Kota Tual, Maluku dianiaya
hingga tewas oleh oknum Brimob” ucap Adrian.
Grisaldi
Nauval dari BEM FKIP UMP menegaskan bahwa aksi ini menunjukkan konsistensi
mahasiswa dalam memedulikan permasalahan bangsa. Ia menuntut agar semua elemen
melakukan refleksi mendalam atas segala kebijakan yang telah terjadi agar lebih
berpihak pada rakyat.
“Aksi
mimbar bebas ini menunjukan bahwa mahasiswa masih ada dan akan terus peduli
dengan permasalahan - permasalahan bangsa. Semua elemen harus merefleksikan
atas semua hal yang sudah terjadi” ujar Grisaldi Nauval dari BEM FKIP UMP.
Hingga seluruh pernyataan sikap selesai dibacakan, Bupati Banyumas dilaporkan tidak kunjung menemui massa aksi yang berkumpul di lapangan. Hal ini sangat disayangkan mengingat mahasiswa membutuhkan respons langsung dari pemimpin daerah terkait aspirasi yang telah disampaikan.


0 Komentar