Ticker

6/recent/ticker-posts

THR dan Generasi Checkout: Berkah Hari Raya atau Penunjang Hidup Konsumtif?

 

(Ilustrasi lonjakan konsumtif mahasiswa saat adanya THR mencerminkan pergeseran penggunaan uang dari kebutuhan prioritas ke belanja impulsuf. Sumber: Gemini AI)


Setiap menjelang hari Raya Idul Fitri, satu fenomena ekonomi selalu terjadi di Indonesia yaitu tingkat konsumsi melonjak tajam. Pusat perbelanjaan penuh, promo hampir muncul di setiap toko melalui berbagai platform digital, dan masyarakat berlomba-lomba membeli barang-barang yang sedang menjadi trend. Di balik dinamika ini, ada satu faktor yang menjadi penyebab naiknya gaya konsumtif masyarakat yaitu Tunjangan Hari Raya (THR).

Secara sektor ekonomi, THR dapat dikatakan membawa dampak positif. Dana tambahan yang didapat masyarakat dapat meningkatkan daya beli dan mendorong terjadinya perputaran ekonomi di Indonesia. Namun beriringan dengan itu, muncul pertanyaan kritis, apakah dengan adanya THR peningkatan konsumsi yang melonjak tinggi benar-benar didasari pada kebutuhan atau justru hanya alibi dan memperkuat budaya konsumtif di masyarakat atau mahasiswa?

Pola Konsumsi Masyarakat Meningkat Di Bulan Ramadhan Hingga Idul Fitri

Data aktivitas ekonomi di Indonesia menunjukkan bahwa selama Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri terjadi sebuah peningkatan konsumsi masyarakat hingga 12%-18% dibanding bulan-bulan biasanya. Lonjakan ini terjadi karena besarnya tingkat konsumsi rumah tangga yang merupakan penyumbang terbesar dalam perekonomian nasional, dengan kontribusi lebih dari 50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Artinya, ketika masyarakat meningkatkan daya beli, maka ekonomi secara keseluruhan dapat ikut meningkat.

Namun pada praktiknya, peningkatan konsumsi menjelang Hari Raya Idul Fitri tersebut tidak selalu didasarkan pada kebutuhan pokok. Berbagai survei menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan uang THR mereka untuk memenuhi gaya hidup seperti membeli pakaian baru, kosmetik, hingga gadget keluaran terbaru agar dianggap relevan oleh lingkungan sekitarnya.

Fenomena Impulsif Yang Terjadi Di Kalangan Mahasiswa

Mahasiswa saat ini didominasi oleh generasi z, kelompok umur yang tumbuh beriringan dengan digitalisasi. Media sosial, marketplace, budaya trend yang menjadi bagian dari keseharian mereka. Dalam hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa konsumsi yang dilakukan mahasiswa sering kali tidak didasarkan pada kebutuhan rasional, melainkan pada dorongan trend, pengaruh lingkungan, dan juga citra sosial sehingga mereka lebih rentan terhadap pembelian impulsif dibanding kebutuhan hidup.

Tidak sulit untuk menemukan contoh dari fenomena tersebut. Menjelang lebaran, konten di media sosial dipenuhi dengan unggahan seperti haul lebaran, rekomendasi outfit lebaran, rekomendasi make-up lebaran, hingga daftar produk yang wajib dimiliki saat lebaran. Konten-konten semacam ini, tanpa disadari membentuk standar baru bagaimana seseorang harus tampil mempesona saat lebaran.

Bagi mahasiswa yang menerima THR dari orang tua dan keluarganya, kondisi ini tentu saja menjadi godaan tersendiri bagi mereka. Dana tambahan yang seharusnya digunakan untuk menabung, investasi, atau keperluan positif lainnya, justru kerap raib dalam beberapa hari hanya untuk memenuhi keinginan sesaat yang belum tentu sesuai dengan kebutuhannya.

(Ilustrasi dari wishlist ke keranjang, dari kebutuhan ke keinginan. Momentum THR kerap memperlihatkan mahasiswa bernegosiasi dengan godaan konsumsi dan gengsi sosial. Sumber: Gemini AI)


Antara Literasi Keungan dan Pola Konsumtif

Persoalan ini tentu saja dikaitkan dengan persoalan literasi keuangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan di Indonesia masih relatif rendah. Banyak mahasiswa yang belum terlatih untuk membuat perencanaan keuangan, seperti menyusun anggaran atau membuat skala prioritas kebutuhan. Akibatnya, ketika menerima dana tambahan melalui THR ini, sering kali mahasiswa langsung mengalokasikan untuk belanja tanpa pertimbangan jangka panjang. Pola ini sebenarnya berbahaya jika terjadi secara terus menerus, karena kebiasaan finansial pada saat muda, akan terbawa hingga masa tua.

Mirisnya, perilaku konsumtif ini malah terjadi di kalangan mahasiswa yang seharusnya menjadi kelompok terdidik dalam masyarakat. Mahasiswa sering kali dipandang sebagai agen perubahan, tetapi dalam praktiknya mereka justru ikut andil dalam budaya konsumtif yang semakin agresif.

Disinilah pentingnya menilai fenomena THR tidak hanya sebagai tradisi tahunan, namun juga sebagai evaluasi tahunan. THR memang membawa kebahagiaan menjelang hari raya, tetapi jika tidak dikelola dengan bijak, THR juga dapat meningkatkan pola konsumsi yang tidak sehat, bahkan dapat menimbulkan kenaikan harga di masyarakat.

Lebaran Bukan Untuk Konsumtif

Padahal, dalam nilai-nilai sosial dan keagamaan di masyarakat Indonesia, lebaran sejatinya tidak identik dengan kemewahan, justru dengan kesederhanaan, kebersamaan, dan berbagi kepada sesama. Bahkan, dalam prespektif ekonomi Islam, konsumsi yang berlebihan (pemborosan) dikenal sebagai israf, sebuah sikap yang tentu saja tidak dianjurkan.

Mahasiswa seharusnya mampu memaknai THR secara lebih bijak. Langkah sederhana seperti menyisihkan sebagian THR untuk tabungan juga dapat menjadi awal kebiasaan finansial yang sehat. Selain itu, kampus dan organisasi mahasiswa seharusnya memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran finansial di generasi muda. Program edukasi keuangan, diskusi tentang gaya hidup konsumtif, hingga pelatihan kewirausahaan dapat menjadi langkah konkret untuk membangun pola pikir mahasiswa yang lebih kritis terhadap budaya konsumsi.

Jika mahasiswa mampu memaknai THR dengan bijak, maka momen lebaran tidak hanya menjadi pesta konsumsi tahunan. Lebaran dapat menjadi momentum refleksi tentang bagaimana generasi muda membangun masa depan finansial yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Sebab, pada akhirnya, ukuran kebahagiaan hari raya tidak pernah benar-benar ditentukan pada seberapa banyak atau seberapa mahal barang-barang yang kita gunakan, tetapi oleh seberapa bijak kita memaknai apa saja yang kita miliki.

Penulis: Amodia Vala Mandesta

Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah

 

Posting Komentar

0 Komentar