![]() |
| (Koordinator lapangan sedang menyuarakan pandangan dan tuntutan kepada pihak pemerintah daerah Banyumas, Jum'at (01/05/26). dok: LPM Obsesi) |
Purwokerto — Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi
Banyumas menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari Buruh (May Day) dan
Hari Pendidikan Nasional di depan Kantor Bupati Banyumas, Jumat (1/5/2026). Aksi
demonstrasi tersebut di mulai dari pukul 15.00 WIB hingga 18.00 WIB.
Massa bergerak dari kampus masing-masing kemudian menuju ke titik
kumpul di Pendopo Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Unsoed. Koordinator aksi
Yoga Dwiwono menjelaskan bahwa setelahnya masa aksi menuju ke titik aksi secara
bersama-sama.
Pada aksi peringatan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional kali
ini, massa aksi terdiri dari elemen mahasiswa dan masyarakat Banyumas. Mereka menyuarakan
berbagai tuntutan meliputi desakkan kepada pemerintah Kabupaten Banyumas
mengenai rekomendasi pencabutan Undang-undang Cipta Kerja.
Menurut salah satu massa aksi, Pamungkas Andika, tuntutan juga mengenai
penyesuaian upah buruh dan guru honorer, serta menyoroti tingginya angka PHK. Ia
juga menambahkan bahwa buruh perlu untuk disejahterakan.
“Kita mendesak pemerintah daerah Banyumas untuk mencabut
Undang-undang Cipta Kerja yang dimana menyangkut kerja kontrak dan outsourcing
dan juga PHK massal yang tentunya sangat rentan untuk buruh,” ucapnya.
Yoga menjelaskan bahwa tuntutan juga meliputi isu-isu pendidikan
yang ada di Banyumas, yakni tuntutan perbaikan ke sekolah yang rusak. Berdasarkan
data yang ia temui, ada kurang lebih 165 sekolah yang masih rusak, dan ada
salah satu kecamatan di Banyumas yang belum mempunyai akses Pendidikan SMA/SMK yaitu
Kecamatan Cilongok, sehingga menyebabkan keterbatasan jarak yang menjadikan
anak-anak bersekolah yang jauh dari rumahnya.
Ia juga mendesak mengenai realisasi pendidikan gratis tanpa adanya
pungutan untuk buku Lembar Kerja Siswa (LKS) atau biaya lainnya seperti di
daerah Maluku Utara. Menurutnya Bupati mempunyai kebijakan untuk menangani pungutan-pungutan
pada lingkup Pendidikan.
”Misalnya di Maluku Utara, mereka bisa menerapkan Pendidikan
gratis. Seharusnya Banyumas juga tidak ada tagihan atau pungutan-pungutan seperti
LKS dan seterusnya,” tambah Yoga.
Pada saat berjalannya aksi demonstrasi timbul kekecewaan dari pihak
massa dikarenakan ketidakhadiran Bupati Banyumas. Mahasiswa sempat menolak
berdialog dengan perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Ketenagakerjaan. Hingga
aksi berakhir, target untuk mendapatkan tanda tangan dari Bupati pada draf
tuntutan belum terealisasikan.
“Kami ingin berdialog langsung dengan Bupati Banyumas ataupun DPRD,
harapan kami dua-duanya bisa berdialog dengan kami karena mereka adalah pemangku
kebijakan yang ada di Banyumas,” ucap Yoga.
Meskipun aksi demonstrasi sempat diwarnai dengan aksi saling dorong-mendorong
dengan aparat keamanan. Namun situasi tetap terkendali tanpa adanya korban jiwa
dari kedua belah pihak. Kapolresta Banyumas Petrus Parningotan Silalahi
menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan dinamika di lapangan.
“Yang penting tidak ada korban dari kedua belah pihak. Itu biasa,
yang penting ini merupakan bentuk kecintaan kita bersama untuk menjaga dan
membangun Banyumas agar lebih baik,” tembung Petrus.
Petrus juga menegaskan bahwa pengamanan adalah bentuk perlindungan
terhadap Hak Asasi Manusia dalam menyampaikan pendapatnya. Ia juga menambahkan salah
satu bentuk pelayanan yang dilakukan kepolisian adalah dengan mengamankan aksi
penyampaian pendapat di muka umum.
“Pengamanan dilakukan agar massa yang melaksanakan aksi penyampaian
pendapat di muka umum tidak terganggu oleh pihak-pihak yang tidak punya
kepentingan,” imbuhnya.
Kemudian ia mengucapkan terima kasih karena massa aksi menyampaikan
pendapatnya dengan kondisi saling membentengi satu sama lain, tidak
terprovokasi, dan tidak bergabung dengan massa yang sifatnya provokatif. Petrus
juga mengatakan bahwa pihak kepolisian memberikan pelayanan kepada teman-teman
aksi dalam bentuk pengawalan lalu lintas.
Kapolresta berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dan
mengedepankan diskusi dengan mahasiswa. Menurutnya mahasiswa adalah elemen yang
paling bisa diajak diskusi dan lebih tertib dalam menjaga kondusivitas Banyumas.
“Kami komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik jika ada dinamika
di lapangan, kami meminta bantuan teman-teman mahasiswa karena mahasiswa adalah
elemen yang paling bisa diajak diskusi dan lebih tertib menjaga kondisivitas
dibandingkan kelompok lainnya” ucap Petrus.
Pamungkas sebagai salah satu massa aksi memiliki harapan terhadap pembenahan
seluruh permasalahan buruh yang ada di Banyumas agar nantinya lebih sejahtera,
termasuk guru horoner agar dapat diberikan upah yang sangat baik dan layak. Sebagai
massa aksi ia siap mengawal proses lanjutan dari tuntutan yang sudah ditanda
tangani oleh perwakilan dari Bupati Banyumas.
“Kita akan kawal terus, kita akan pantau terus, dan tentunya kita
akan terus mendesak dari pemerintah daerah Banyumas untuk bisa menjadikan
rekomendasi ini ke pusat,” tegas Pamungkas.
Penulis: A tfatul Amanda
Reporter: Ahmad Zubair, Aldi Cahyo Lesmana, Alwa Shofwah, Muhammad Latif Aldiansyah, Parhatun Nisa, Putri Wulan Brigantari
Editor: Novandi Ali Akbar, Alwa Shofwah
.jpeg)

1 Komentar
Menarik kak
BalasHapus